Tampilkan postingan dengan label FAMILY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FAMILY. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 November 2014

A TOUCHING SURPRISE ON MY BIRTHDAY

30th October 2014


Seseorang bukan siapa-siapa 
sampai ia dicintai. ~ Tasaro GK

Selepas magrib, aku masih melipat mukena di dalam kamar, namun suara beberapa anak yang meminta anak-anak lain untuk duduk rapih melingkar di teras rumah sudah terdengar. namun malam itu entah kenapa mereka tidak seribut dan seaktif seperti biasanya. 

Ketika aku beranjak ke dapur untuk minum, adikku Opa,menghampiriku, "Eteh, Rizki nangis," katanya sambil menarik lenganku. Saat kepalaku muncul di ambang pintu, saat itu pula, semua anak-anak berteriak "SURPRISE! SELAMAT ULANG TAHUN TE EKA!!!" dan ditengah lingkaran sebuah kado dan "cake" ala mereka telah membuat hatiku benar-benar terharu sekaligus bahagia. 

Aku memandangi "cake" sederhana itu, hanya sebuah agar-agar rumput laut biasa berwarna merah muda, dicetak dalam bentuk LOVE dan dihiasi dengan tomat, jambu air, dan potongan sedotan yang ditancapkan, benar-benar sebuah "cake" yang tidak sampai menguras kantong hingga puluhan atau ratusan ribu, atau bahkan jutaan rupiah. ya, itu memang hanya sebuah "cake" sangat sederhana yang mereka buat sendiri dengan tangan kreatif mereka, dan tentu saja dengan sisa uang jajan atau mungkin juga dengan mengorbankan uang jajan mereka. 

Namun, bagiku, "cake" itu lebih bernilai daripada "cake-cake" yang dipajang di etalase-etalase toko kue, yang bentuk dan warnanya sungguh menggiurkan lidah, yang harganya lima kali lipat bahkan 10 kali lipat lebih mahal dari "cake" agar-agar itu. Karena bagiku "cake" sederhana itu telah membuatku merasa telah menjadi seseorang, seseorang yang dicintai. dan itu lebih berharga dari apapun yag kita miliki bukan?

Maka hari ini aku belajar dua hal dari murid-muridku, yaitu tentang cinta dan pengorbanan. bahwa cinta itu sungguh adalah sebuah hal sederhana, sesederhana "cake" buatan mereka, cinta bukan seseuatu yang rumit sperti halnya jaringan komputer atau semacet jalanan di Jakarta, cinta adalah sesuatu yang mudah dicari, dimana saja dan kapan saja, seperti udara yang kita hirup setiap hari.

Kedua, tentang pengorbanan, bahwa mencintai memang harus berkorban, tapi berkorban dengan tulus dan tanpa pengharapan. aku membayangkan bagaimana mereka berkeringat, memasak agar-agar itu entah di rumah siapa, dan tentu saja materi atau uang yang mereka keluarkan untuk membuat kado terindah itu, aku tahu, bahwa hampir sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah, atau serba pas-pasan, bahkan aku tahu bahwa ide surprise untukku ini berasal dari anak  yang merupakan korban broken home. betapa aku sebenarnya tidak pantas untuk mendapatkan semua cinta dan pengorbanan mereka. 

Tuhan, sungguh terimakasih telah mengirim anak-anak itu ke rumahku, dan bimbing aku selalu agar menjadi guru yang baik, yang sabar,  yang penyayang, seperti apa yang mereka doakan di secarik kertas ucapan selamat hari lahirku hari ini. 

  cutting the cake 



Selasa, 20 Mei 2014

Pelajaran dalam angkot, dari Bapak Penjual es lilin



Kapan terakhir kali kita merasa cukup?

Tadi malam, Emak memarahi adik saya yang baru kelas tiga SD karena makan dengan terburu-buru seperti orang yang berminggu-minggu baru melihat makanan. Emak pasti sudah tahu alasan kenapa adik saya yang berkulit hitam manis itu makan mie goreng yang dibuatnya dengan terburu-buru, yaitu takut kehabisan atau takut diminta oleh adik kecil saya Najmi yang barus berusia 2 tahun lebih. Emak memang sangat tidak suka jika ada dari anak-anaknya yang tidak mau berbagi dengan adik atau kakaknya baik berbagi dalam hal makanan ataupun mainan. Emak tidak pernah mengajarkan bersikap pelit pada orang lain terutama pada sodara sendiri. Emak selalu mendidik kami, anak-anaknya untuk selalu merasa cukup dengan apa yang ada, tidak serakah dan tidak pelit. 

Kapan terakhir kali kita merasa cukup?
sayangnya, kita tidak bisa menjawabnya, karena bahkan kita tidak pernah benar-benar merasa cukup. dari sejak kita dilahirkan dan diperkenalkan dengan rasa lapar dan haus, sejatinya kita tidak pernah merasa benar-benar merasa cukup. Hawa nafsu, itulah bakat alami yang Tuhan titipkan pada kita, sekaligus yang menjadikan batas pembeda antara kita sebagai manusia dengan malaikat, mahlukNya yang paling suci, dan karena bakat alami itulah kita tidak pernah merasa benar-benar merasa cukup.

Kapan terakhir kali kita merasa cukup?
lagi-lagi kita tidak bisa menjawabnya. karena kita sudah terlanjur memupuk rasa malu setinggi gunung jika kita harus hidup sederhana,  dan merasa cukup dengan apa yang ada. kita juga terlanjur terkerangkeng dalam jala ketakutan akan hidup yang miskin jika kita terus menerus merasa cukup dan tidak punya ambisi untuk hidup lebih kaya, lebih mapan. maka kitapun berjuang keras, berpeluh, berkeringat, bekerja mati-matian demi kehidupan yang terlihat mapan dan mewah, terkadang dengan cara yang lurus dan baik, tetapi tidak jarang pula dengan cara-cara di luar batas "trotoar" naruni kita.

Kapan terakhir kali kita merasa cukup?
Siang itu, di dalam angkot yang penuh sesak oleh penumpang, saya belajar satu hal dari bapak penjual es lilin. bapak itu sungguh sederhana, kemeja dan celananya lusuh, kulitanya hitam, namun tangan-tanganya masih terlihat kekar mengepal, lewat gigi-giginya yang sudah ompong, saya tidak akan melupakan siang yang panas itu. 

Bapak itu bercerita tanpa diminta, bahwa hari itu es lilinnya yang ia buat sendiri tidak laku dan masih bersisa banyak sekali. hari itu memang hari pembukaan O2SN tingkat Kabupaten, para guru dan dan atlet O2SN sekabupaten lebak melakukan pawai atau long march di alun-alun Rangkas demi memeriahkan acara yang dibuka langsung oleh Bupati baru yang terpilih. lalu kenapa dagangannya si Bapak tidak laku? menurut analisinya, karena acara pembukaan O2SN tersebut selesai lebih awal yaitu sekitar jam 10an dari yang diperkirakannya, jadi orang-orang belum merasa haus pada jam segitu, makanya kenapa es lilinnya masih tersisa banyak.  

Tapi, si Bapak kemudian melanjutkan ceritanya lagi, bahwa mungkin ini pelajaran baginya karena sudah merasa serakah dan tidak merasa cukup. ia yang biasanya hanya membuat es lilin 40 buah, hari itu memutuskan untuk membuat es lilin dua kali lipat yaitu 70 buah, karena acara pembukaan O2SN, insting bisnis yang wajar. tapi akhirnya Bapak penjual es lilin itu menyadari 1 hal, bahwa ia telah merasa serakah dan tidak merasa cukup hari itu, dan ia menyesalinya. saya hanya tersenyum dan terenyuh mendengarkan curhatannya, namun ada sesuatu yang menyantak saya, ah, betapa saya juga tidak pernah merasa cukup akan rizki dan karunia Tuhan dan jauh dari rasa syukur padaNya, dan saya tidak pernah merasa bersalah apalagi menyesalinya seperti halnya Bapak penjual es lilin itu.  

Saya melihat ke dalam bola mata bapak penjual es lilin itu, ada semangat yang masih berkobar disana. semangat yang untuk terus mencari karunia Tuhan dengan cara yang begitu bersahaja, menjual es lilin sebanyak 40 buah ke kampung-kampung seharga 1000 rupiah. 

Dan siang itu, dalam sebuah angkot, saya belajar dua hal sekaligus, tentang merasa cukup dan semangat menjemput karunia Tuhan. jika Bapak tua itu saja merasa bahagia dan merasa cukup dengan profesinya menjadi penjual es lilin ke kampung-kampung, kenapa saya tidak??


*foto itu bukan foto bapak tua yg saya ceritakan. foto itu diambil dari sini http://nyanyianphoenix.blogspot.com
 

Senin, 19 Mei 2014

PUISI, BUKU, DAN ANAK-ANAK








Ajarkan Sastra kepada Anak-anakmu, 
karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani
(nasihat Umar bin Khattab)

Hujan yang deras sejak tadi sore tidak sedikitpun menyurutkan semangat anak-anak pengajian al-fiil untuk tetap datang ke rumah saya dan mengikuti lomba mewarnai, menulis puisi, dan membuat poster cinta buku, dalam rangka memperingati hari buku nasional yang jatuh tanggal 17 Mei kemarin. Dari sejak pertama kali saya mengumumkan bahwa sabtu malam tadi saya akan mengadakan lomba-lomba tersebut, mereka sangat antusias sekali, bahkan beberapa anak sampai ada yang loncat-loncat sambil nyanyi-nyanyi saking gembiranya menyambut ide tersebut. entah merasa gembira karena memang setiap saya mengadakan lomba ada hadiah yang saya siapkan, ataupun memang mereka merasa gembira atas ide tersebut. yang jelas, saya sangat bersyukur anak-anak menyambut ide tersebut dengan perasaan bahagia yang meluap-luap. 

Maka satu hari sebelum hari H, yaitu jum'at malam, seperti biasa, setiap akan diadakan lomba, saya selalu mengajak anak-anak untuk membuat atau mewarnai letter atau huruf-huruf untuk dekorasi "panggung" tempat lomba diadakan. hal ini dilakukan, pertama untuk melatih kemandirian, juga merangsang kreatifitas dan imajinasi  mereka. dan jum'at malam itu, merekapun semangat sekali mewarnai huruf-huruf kapital dengan warna-warna yang cerah, secerah dunia mereka yang masih belum mengenal hitam atau kelabu. 

Sejujurnya, ini adalah kali pertama saya merayakan hari buku nasional. karena memang baru sekarang saya tahu bahwa tanggal 17 Mei itu adalah hari buku nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan merujuk pada tanggal pendirian perpustakaan nasional 17 Mei 1980. dan saya juga yakin, bahwa walaupun saat ini socmed sudah menjadi kebutuhan bahkan candu bagi masyarakat indonesia, peringatan hari buku nasional masih belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, apalagi dirayakan, dan dijadikan momentum yang massiv untuk semakin menumbuhkan budaya membaca.

Hal itu bisa disebabkan karena masih rendahnya minat baca pada masyarakat kita yang ujung-ujungnya, jangankan membeli dan mengoleksi buku-buku yang mahal harganya, berkunjung ke perpustakaan atau taman bacaan pun menjadi sesuatu yang masih sangat asing bahkan dianggap aneh. maka tidak heran jika di negara kita, lebih banyak pelajar yang tawuran daripada menggelar aksi sosial atau kegiatan-kegiatan yang berbudaya, atau  lebih banyak mahasiswa yang rajin demo daripada yang berdiskusi seru, berdebat panjang lebar, memperjuangkan ide dan solusi-solusi keren untuk negeri ini.

Untuk itulah mengapa minat baca, harus ditumbuhkan sejak dini, pun minat pada sastra. Sebagaimana nasihat Umar bin Khattab r.a untuk mengajarkan anak-anak kita sastra agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang berani. walaupun jika dilihat dari konteks zaman, nasihat Umar bin Khattab tersebut benar-benar bermakna harfiah yaitu agar anak-anak pada masa itu tumbuh menjadi generasi pejuang islam yang pemberani, rela berkorban demi tegaknya agama islam di bumi ini. Namun, hal itu tentu saja tidak menjadikan nasihat berharga tersebut menjadi tidak relevan pada masa kini. Justru, di zaman dimana segala "virus" negatif  dengan mudahnya menyebar dan menjangkiti anak-anak kita dan membuat mereka terjerumus pada banyak hal negatif yang akhirnya menguburkan masa depan mereka yang cerah. Maka sudah saatnya kini, kita menjadikan Buku sebagai benteng, dan puisi sebagai perisai dari pengaruh-pengaruh negatif yang menjerumuskan anak-anak kita. 

How it works? jawabnya tentu saja dengan pemahaman-pemahaman baik yang di dapat dari buku, juga kejernihan jiwa yang didapat dari rangkaian kata- kata indah dalam sajak atau puisi dapat membuat anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang cemerlang dan  berakhlak mulia.

Pukul delapan malam lebih Hujan sudah mulai berhenti, tinggal titik-titik gerimis yang masih tersisa, anak-anak yang ikut lomba mewarnai sudah semuanya selesai dan bercanda-canda sambil menunggu anak-anak yang lebih besar menyelesaikan puisi dan poster buku mereka.

Sudah cukup malam, memang untuk jam anak-anak usia mereka, tapi anak-anak belum ada yang meminta untuk pulang. baru pada pukul setengah sembilan lewat, anak-anak beranjak pulang, setelah pembacaan puisi masing-masing peserta, foto-foto bersama, dan pembagian hadiah sederhana untuk lomba mewarnai dibagikan, juga pengumuman kalau untuk lomba cipta puisi dengan sangat terpaksa, saya tunda pengumuman pemenangnya, dikarenakan saya  tidak bisa langsung memutuskan siapa yang menang, karena walalupun hanya empat puisi, puisi-puisi itu lumayan membuat saya bingung menentukan pilihan.

Finally, SELAMAT HARI BUKU NASIONAL! mari jadikan BUKU SEBAGAI BENTENG DAN PUISI SEBAGAI PERISAI  untuk masa depan anak-anak kita yang lebih baik.


Salam hangat
anak-anak pengajian al-fiil 

 Tidak ada banner, karpet pun jadi : )

Ardi sedang membacakan puisinya berjudul "Buku Nasional"


 Sifa membacakan puisinya berjudul "Buku adalah jendela Dunia"

 
 Opa membacakan puisinya berjudul "Bukuku yang kucintai" 



 Ninda membacakan puisinya berjudul "Buku" 
eh, itu ada penampakan kayaknya, hehehe 



 Parhan dan Nende, serius sekali mewarnai 

 Nabila, terlihat tenang dengan pensil warnanya





 Najmi, berpose memegang buku kesayangannya "Kancil yang baik hati" karya Clara Ng

Sabtu, 10 Mei 2014

"Haol Ama Edah" Time to meet and greet with the big family"



Mungkin bagi sebagian orang, peringatan Haol itu dihukumi bid'ah atau bahkan haram. karena Nabi tidak pernah melakukan hal tersebut semasa hidupnya. begitu juga dengan para sahabat. Namun, bagi keluarga besar saya juga bagi masyarakat di kampung saya, melakukan haol untuk orang tua yang sudah ,hampir merupakan sebuah keharusan bagi anak dan keturunan yang ditinggalkan. terutama bagi keluarga besar seperti halnya keluarga nenek dari ibu saya. maka hampir setiap tahun, pada tanggal 10 Rajab, keluarga mak Edah (nenek dari ibu) melaksanakan haol Ama Edah (Kakeknya Ibu) yang wafat saat saya baru berumur 1 tahun. 

Pengertian Haol sendiri berasal dari bahasa arab yang berma'na "telah lewat atau ulang tahun". Masyarakat Jawa menyebutnya "khol" yaitu  suatu upacara ritual keagamaan untuk memperingati meninggalnya seorang yang ditokohkan dari para wali , ulama’ , kyai atau salah satu dari anggota keluarga.

Tapi, terlepas dari maknanya yaitu "ulang tahun"  yang seolah mengisyaratkan bahwa haol adalah semacam syukuran atau bahkan pesta perayaan untuk yang telah meninggal, saya selalu merasa senang dan menyambut gembira waktu haol kakek buyut yang tidak pernah saya lihat itu, karena pada saat itulah semua keluarga besar berkumpul, mulai dari yang statusnya anak, cucu, cicit, bahkan anaknya cicit pada almarhum kakek buyut saya itu. dan saat sedang berkumpul itulah saya selalu merasa tidak benar-benar sendirian. maka bagi saya, acara haol kakek buyut saya ini adalah momen berharga untuk saling mengenal dan menjaga tali silaturahmi dan persaudaraan sesama anak dan cucu bahkan cicit. 


the picture is taken from here : http://www.pinterest.com/pin/

Senin, 05 Agustus 2013

Ada yang Datang dan Pergi

Apa yang paling misteri dalam hidup ini?
sesuatu yang paling gelap, dan tidak bisa kita tangkap walau hanya segaris siluet dari tanda-tandanya.

umur.

kapan dan dimana Ia akan memotong jatah umur kita di dunia ini.


5 hari sebelum Lebaran idul fitri 1433 H.
aku akan selalu mengenang hari itu, sebagai tanda bahwa kematian benar-benar hak mutlak Tuhan atas manusia yang telah dicptakannya.

kemarin tepat setahun tetanggaku, teman kecilku, Rosita, meninggalkan dunia fana ini, meninggalkan keluarga yang mengasihinya, juga meninggalkan seorang bayi mungil yang dilahirkannya dengan penuh perjuangan.

mendadak?
sangat. tapi kuasa Tuhan siapa yang bisa menghalangi?

dan kita hanya bisa berkata, "mungkin sudah harus seperti itu jalan yang dikehendaki"

bolehkah terus menyimpan luka?

ah, sehebat apapun luka yang pernah menyapa, tetap saja waktu akan membasuhnya, hanya saja bagi orang tua  teman ku ini, luka dan duka yang tertoreh atas meninggalnya anak perempuan mereka mungkin akan sulit dibasuh  oleh sang waktu.

betapa tidak? bayi laki-laki mungil yang ditinggalkan itu, setiap saat selalu menjadi penanda bahwa sang ibu yang seharusnya kepadanya ia menyusu, telah tiada justru saat ia baru membuka mata untuk yang pertama kalinya melihat dunia.

 seperti kata pepatah "ada yang datang dan ada yang pergi"
seperti itulah hidup yang harus dijalani, tapi seberapa perihpun, kenyataan yg harus dihadapi, Tuhan selalu punya alasan terbaiknya yang disimpannya sebagai hadiah terindah di kemudian hari.



untuk Ros, 
semoga Allah SWT  membayar perjuanganmu dengan surga yang indah di sisiNya. amin. 

 



Selasa, 08 Mei 2012

Emak

apakah seorang suami harus selalu bersikap romantis pada istrinya?

jawabnya, mungkin tidak harus selalu, tapi sesekali perlu lah, demi menjaga kehangatan dan keharmonisan keluarga. 
itu adalah kalimat-kalimat yang sering kali saya baca di buku-buku pernikahan ataupun yang saya dengar di ceramah-ceramah agama tentang pernikahan. 

namun, dalam praktiknya,  saya benar2 tidak pernah menyaksikan apa yang sering saya lihat di TV dan sinetron-sinetron, ataupun yang sering saya baca di cerpen dan novel-novel pernah dilakukan oleh bapak pada emak, seperti  tentang suami yang mengecup kening istrinya sebelum berangkat kerja, tentang suami yang memberikan seikat mawar merah di hari ulang tahun istrinya, atau suami yang mengajak istrinya untuk candle light dinner di restoran sisi pantai dengan deburan ombak menyapu karang. 

apakah bapak bukan tipe laki-laki yang romantis? saya sering bertanya-tanya seperti itu dalam hati, jawabannya mungkin "ya" bapak bukan tipe laki-laki yang romantis, atau bisa juga, memang saya yang tidak pernah benar-benar tahu bahwa bapak sebenarnya adalah laki-laki yang romantis, entahlah! bisa jadi, bapak memang punya caranya sendiri untuk bersikap romantis pada emak, dan tentu saja hanya emak yang tahu tentang ha itu. 

yang jelas, bagi saya semua itu tidak terlalu penting lagi. apakah bapak memang tidak pernah bersikap romantis pada emak, ataupun sebaliknya, sering bersikap  romantis namun saya tidak tahu, yang terpenting adalah fakta bahwa kekuatan cinta mereka berdua yang begitu besar mampu mengalahkan segalanya, restu keluarga besar emak, kepahitan dan kesulitan hidup, juga tentu saja menaklukkan waktu hampir seperapat abad pernikahan mereka. 

saat saya mendengar, ada teman bapak yang sudah "berhasil" tidak hanya memiliki dua rumah tetapi sekali gus juga "dua ratu" yang mendiaminya, kemudian keluarga mereka mulai terdengar "sumbang", saya hanya bisa bersyukur, bahwa bapak tidak melakukan hal yang sama. 

apakah memang bapak tidak mampu? ataukah memang emak memang sangat layak untuk dicintai dan tidak layak dikhianati? rasanya, saya lebih suka menjawab pertanyaan yang kedua. 

emak, walaupun kulit wajahnya saat ini sudah tidak kencang lagi, walaupun rambutnya yang tipis saat ini sudah mulai beruban, memang sangat layak untuk dicintai dan sangat tidak layak untuk dikhianati. 

emak, dengan segala ketulusannya, kecerdasannya, kesabarannya, ketabahannya, mendampingi bapak dan membesarkan dan mendidik anak-anaknya, memang sangat layak untuk dicintai dan sangat tidak layak untuk dikhianati. 

sejujurnya, saya tidak pernah benar-benar merasa yakin, bahwa emak memang sangat layak untuk dicintai, sampai suatu pagi, saat matahari sedang mulai bertahta di waktu dhuha, sambil mengawasi siswa kelas 9 menekuri soal-soal ujian nasional, pak kepala sekolah tempat saya mengawas yang memang teman bapak, bercerita betapa ia mengagumi spirit dan tekad juang emak mendampingi bapak, saat bapak masih berjualan baju di kaki lima, ia sungguh-sungguh melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat pagi masih gelap dan matahari belum menampakan diri di ufuk timur, emak dengan semangat baja sudah mendorong gerobak yang berisi baju-baju yang akan di jual di kaki lima dari kontrakan mereka yang mungil ke pasar tempatnya setiap hari memanggang diri demi sesuap nasi. 

teman bapak itu kemudian berkata, ia sungguh-sungguh baru pertama kali itu dan bahkan tidak pernah lagi selama hidupnya, melihat seorang istri yang benar2 rela berkorban dan berjuang membantu suaminya seperti emak. ia kemudian membacakan sebuah doa, semoga jika memang suatu hari emak dipanggil olehNya, Ia memasukkan emak ke dalam surgaNya. 

saya pernah mendengar cerita itu berkali-kali dari bapak, namun, saat saya  mendengar cerita itu lagi dari mulut orang lain, entah kenapa saya jauh  lebih merasa  ditampar, ditendang, ditinju, dan akhirnya terkapar dalam sebuah ruang kesadaran, betapa durhakanya saya, seringkali menyepelekan emak, seringkali membantah emak, seringkali membuat emak menangis, seringkali membuat emak kesal dan marah.dan apakah cinta emak berkurang? tentu saja seincipun tidak. 

ah, 
emak 
memang sangat layak dicintai, 
bukan hanya oleh bapak, tapi juga oleh kami....

Kamis, 12 April 2012

SEBUAH NOSTALGIA TENTANG EPISODE MENANGKAP BELALANG

Sejak dulu, hujan selalu menjadi berkah bagi kami,
apalagi di musim panen seperti ini,
maka tak peduli, jalanan yg becek, jemuran yg tak kering2,
saat sore tiba dengan guyuran hujan yang membasahi tanah kami,
kami menyambutnya dengan suka cita, kami mnyembutnya dengan bahagia, karena selepas magrib nanti, kami akan berpesta di pesawahan yang baru selesai di panen, menangkapi "siemet" atau belalang, sambil membawa obor, berlomba-lomba dengan teman sebaya , memenuhi botol bekas aqua dengan binatang kecil itu. 
siapa yang tidak tahu belalang? binatang yang bernama latin Valanga Nigricornis ? bahkan anak SD yang  tinggal dan bersekolah di Kota dan tentu saja tidak pernah melihat wujud aslinya dari belalang ini pun juga akan tahu dan bisa membedakan mana gambar belalang mana gambar gajah, #he.....# karena di buku-buku pelajaran ilmu pengetahuan alam, ataupun di buku-buku mewarnai binatang, binatang kecil bersayap ini kerap kali muncul sebagai bahan pembelajaran.

Tapi, jika pertanyaannya diganti, "pernahkah makan belalang?" tentu tidak semua orang akan menjawab ya. karena tentu saja tidak semua orang tahu kalau belalang ini enak dan gurih jika sudah digoreng. bahkan, kalau kebetulan di rumah sedang tidak ada cemilan, kita bisa memakan belalang ini sebagai cemilan yang tidak kalah renyahnya seperti snack yang dijajakan di toko2.

penasaran? coba saja sendiri! he...
tapi tentu saja tidak semua jenis belalang bisa kita makan , kawan, bahkan beberapa ada yang tidak boleh dimakan karena beracun. tapi sayangnya saya tidak bisa memberitahukan nama latin ataupun jenis belalang yang seperti apa yang tidak boleh dimakan itu. yang jelas, belalang yang kebanyakan hidup di pesawahan itulah yang selama ini selalu kami tangkap dan makan, bahkan ada juga yang menangkapnya untuk kemudian dijual ke tetangga-tetangga. 

namun, bagi saya pribadi, belalang tidak hanya sekedar penggati lauk untuk makan, atau pun juga sebagai cemilan renyah yang enak dilidah, apalagi sebagai salah satu lahan untuk mencari nafkah. lebih dari itu belalang atau orang kampung kami menyebutnya "siemet" bagi saya adalah binatang tempat saya menengok kembali masa kecil saya atau istilahnya kerennya bernostalgia tentang masa kana-kanak yang penuh dengan hal-hal ajaib dan menakjubkan di kampung kami. 

saya akan selalu ingat, betapa dulu saya selalu bergembira saat hujan turun di sore hari pada waktu musim panen. tak peduli kilat yang terkadang menyambar2 di sela-sela rintik hujan, saya akan meminta izin pada emak, memaksa untuk ikut menangkap belalang di pesawahan yang jauh dari perkampungan. bersama  teman-teman sebaya yang masih sodara, dan jika kebetulan emak sedang berbaik hati mengijinkan, saya akan langsung berganti kostum, memakai kaus yang sudah banyak getahnya, memakai celana selutut,  bertopi, kemudian menyambar botol aqua bekas yang tergantung di rak piring, setelah itu berlari tanpa alas kaki menyusul teman-teman yang sudah menunggu di tikungan jalan. 

di pesawahan yang sudah mengering itu, kami akan berlari-lari mengejar belalang yang hinggap dengan menggunakan sambet alat yang kami buat sendiri khusus untuk menangkap belalang, alat itu ada yang terbuat dari plastik kiloan yang bneing, ataupun dari jaring yang sangat halus, yang diberi kayu atau pegangan. ya... seperti alat penangkap ubur-uburnya Spongebob itu lho. 

saat hari hampir magrib, dan sodara saya sudah memanggil-manggil untuk pulang, saya akan ber yaaa kecewa, sambil melirik hasil tangkapan yang tidak seberapa, jangankan memenuhi botol aqua bekas ukuran sedang, setengahnya pun tidak. tapi, salah satu teman sebaya saya akan berbaik hati membagi hasil tangkapannya kepada saya, karena dia tentu saja mendapat lebih banyak daripada saya.  kami pun pulang dengan senyuman, seraya berdoa dalam hati, semoga besok sore, Tuhan berbaik hati menurunkan hujan kembali.  ^_^

Jumat, 16 Maret 2012

Birthday Party? What's Up?


Saat orang tua saya masih kecil dulu, tradisi pesta ulang tahun atau syukuran hari lahir belumlah menjadi tren di kampung kami (ya iyalah, tahun 70an gitu lho!he...) sampai saat saya berumur 6 atau 7 tahunan, salah satu anak kiai di kampung kami yang tinggal di kota besar membawa "tradisi orang kota" itu, mengulangtahunkan anaknya yang pertama dengan sebuah pesta yang cukup meriah dan membuat kami rang-orang kampung berdecak kagum melihatnya. dari situ, pelan tapi pasti, entah kenapa, keluarga-keluarga besar yang justru menyandang predikat sebagai keluarga kiai atau guru ngaji, mulai mengulangtahunkan anak-anak mereka. walaupun perayaan ulang tahun tersebut diberi nama acara syukuran hari lahir agar terdengar lebih islami, kemudian membaca surat alfatihah dan surat-surat pendek sebelum menyanyikan lagu happy birthday, namun tetap saja pada kenyataannya, bagi saya acara tersebut tidak bisa diislamisasi.

Jadi ceritanya, Beberapa bulan yang lalu, Adik saya yang nomor 3 mendapat sebuah undangan syukuran satu tahun atau istilah kerennya ulang tahun anak tetangga kami yang juga teman sepermainan saya waktu kecil. kemudian dua minggu yang lalu, adik saya nomor 4 (si bungsu Najmi) juga mendapat undangan syukuran dua tahun anak tetangga kami yang juga kakak kelas saya waktu SD, dan kebetulan sang ibu yang anaknya  berultah yang kedua itu adalah keponakannya teman sepermainan saya yang mengundang Opa beberapa bulan lalu. 

Lalu kemarin lusa, adik saya nomor 4, kembali mendapat undangan syukuran atau ultah dari anak tetangga kami yang rumahnya tepat depan rumah,  kebetulan pula ibu anak yang akan berultah yang ke -1 itu adalah kakak iparnya teman sepermainan saya waktu kecil. jadi, kalau diitung-itung, dalam kurun waktu tidak sampai enam bulan, kedua adik kecil saya telah diundang tiga kali ke acara ulang tahun oleh keluarga besar yang menjadi tetangga kami itu.

Hal itu bisa saja disebabkan oleh sebuah kebetulan bahwa ketiga anak-anak kecil yang diulangtahunkan oleh ibu-ibunya itu lahir dengan jarak waktu atau tanggal yang berdekatan.,  atau bisa juga oleh sebuah enigma baru tentang budaya perayaan ulang tahun yang semakin diterima oleh masyarakat kampung saya, entahlah, namun terlepas dari apapun alasan yang berdiri di belakangnya, ternyata dalam satu dekade ini, masyarakat kampung saya terutama yang merupakan keluarga besar, terpandang dan terhormat statusnya, mulai membudayakan syukuran hari lahir anak-anak mereka atau bahasa gaulnya islamic birthday party, entah itu untuk alasan menaikan gengsi dan citra keluarga, ataupun memang benar-benar sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan kasih yang Tuhan curahkan pada anak-anak mereka. saya tidak tahu. namun, samar-samar saya ingat, saat bapak belum membangun rumah tempat tinggal keluarga kami, dan kami masih tinggal menumpang di rumah nenek, saya tidak ingat saya berumur berapa saat itu, mungkin sekitar 6 atau 7 tahunnan, saya mendapat undangan perayaan ulang tahun untuk yang pertama kalinya dalam hidup saya, juga untuk yang pertama kalinya di kampung kami yang masih udik kala itu. dan kau tahu kawan, apa yang saya rasakan saat itu?

Satu hari sebelum pesta ulang tahun itu, saya sudah merasa dag-dig-dug tidak karuan, seakan-akan sayalah yang besok akan berulang tahun, perasaan antara cemas, penasaran, bahagia, dan bingung harus membawa kado apa dan memakai baju apa bercampur aduk dalam hati saya yang masih polos. kemudian, saat pesta ulang tahun itu tiba, saya dan beberapa teman yang diundang, mandi satu jam lebih lebih awal dari biasanya,  tentu saja karena kami takut terlambat datang ke perayaan itu, maka dengan semangat yang menggebu-gebu kami pergi ke sungai jam setengah tiga sore, saat matahari masih bertengger panas menyinari sungai yang menghijau dan tenang.

pukul setengah empat sore, saya dan teman-teman sudah berada di tempat pesta ulang tahun itu, jujur saja sebenarnya saya sendiri juga tidak tahu bahkan tidak mengenal anak yang akan berulang tahun sore itu, saya juga tidak mengenal ibunya apalagi bapaknya, tapi saya tidak peduli, yang terpenting saya sudah mendapatkan undangan, saya sudah mandi dan berpakaian cukup rapih, dan yang terpenting saya sudah membawa kado, saat itu saya tidak tahu bahkan tidak menyadari bahwa ternyata tidak semua anak-anak kecil di kampung kami mendapatkan undangan istimewa itu dan berkesempatan menyanyikan lagu happy birthday kemudian pulang membawa kantong plastik cantik dan berkilau-kilau dengan berbagai macam kue dan snack yang menggiurkan lidah kecil kami.

Namun, saat ini, saat saya sudah mencapai kepala dua dan tidak pernah sekalipun diulangtahunkan oleh orang tua saya (he....), saat giliran adik-adik saya yang mendapatkan undangan ulang tahun itu,  saya baru menyadari beberapa hal, bahwa seberapa islamipun acara ulang tahun itu di modifikasi dengan membaca alfatihah, dan surat-surta pendek, dengan kartu undangan yang berjudul syukuran dan bukan pesta ulang tahun, tetap saja tidak mengurangi kemeriahan sebuah pesta ulang tahun ala orang-orang kota, juga tentu saja seberapa meriahpun acara ulang thaun itu digelar, tetap saja tidak menjadi penentu anak yang dilulangtahunkan itu akan sukses dunia akhirat, bahkan, justru dengan adanya acara ulang tahun tersebut akan tumbuh semacam kesenjangan sosila antara anak-anak dan keluarga yang mampu berulang tahun dengan anak-anak dan keluarga yang tidak mampu berulang tahun.

Selain itu, anak-anak yang kebetulan tidak termasuk dalam daftar tamu yang diundang, otomatis dia akan bersedih hati, terutama karena mereka tidak bisa mendapatkan tas cantik berisi snack dan minuman. hal ini seperti apa yang menimpa sepupu saya kemarin, dia tidak termasuk daftar tamu undangan karena mungkin rumahnya jauh, dan awalnya ia hanya menonton dari luar bersama teman-temannya yang juga tidak mendapat undangan, namun saat ia melihat ibu saya yang menggendong adik saya datang ke pesta ulang tahun tersebut, ia langsung pulang dan menangis pada ibunya, dan memaksa ingin diantar ke pesta ulang tahun tersebut, namun sang ibu yang merupakan bibi saya keukeuh tidak mau.  what an unlucky little girl, right?

Tapi, terlepas dari dampak negatif yang ditimbulkannya, perayaan ulang tahun sebenarnya punya banyak dampak positif di sisi yang lain. adik saya pernah bercerita, bahwasannya keluarga sahabatnya di Pondok memiliki tradisi mengulangtahunkan anak-anaknya saat mereka berumur 10 tahun atau saat mereka duduk di bangku kelas 4 SD dan itupun hanya sekali seumur hidup. menurut sahabatnya itu, saat ia melihat kakaknya dulangtahunkan pada umur 10 tahun, ia yang masih kecil tidak sabaran ingin cepat-cepat berumur 10 tahun dan diulangtahunkan, maka dalam proses mununggu waktu ulang tahun ke 10 itu tiba, ia pelan-pelan belajar bersikap dewasa dan tidak manja lagi. 

Bagi saya, tradisi keluarga sahabat adik saya ini, lebih  memiliki dampak positif  daripada tradisi ulang tahun yang setiap tahun dilakukan. pertama, tradisi pesta ulang tahun yang setiap tahun dilakukan, akan menanamkan sikap manja pada anak, sedangkan jika hanya satu kali saat mereka berusia di ambang masa atau saat masa remaja, itu akan semakin mematangkan proses pendewasaan mereka. walaupun tentu saja perayaan ulang tahun bukanlah sebuah jaminan seorang anak akan tumbuh lebih dewasa. namun satu hal, apapun alasan di belakangnya, apapun dampak positif dan negatifnya sebuah perayaan ulang tahun, baik itu yang islami atau yang pure sebuah party, atau juga yang hanya berupa acara traktiran minum es cendol,  yang terpenting adalah tradisi berbaginya yang tidak boleh dilewatkan, berbagi apa? tentu saja berbagi kebahagiaan dan cinta bersama keluarga, sahabat, dan teman-teman yang kita cintai. seperti yang rutin dilakukan oleh sahabat saya saat ia berulang tahun, ayahnya selalu mengadakan acara sawer uang pada tetangga-tetangganya disekitar rumahnya, and it really so fun.  anda setuju???

Minggu, 11 Desember 2011

Sometimes, thinking in the way children think about their world (just thinking everything in concrete), save us from the pain of abstract thing that often though by adult.
(eteh_etha)

Quote itu saya buat tadi malam dalam benak saya, kemudian tadi siang saya translate ke bahasa inggris dan langsung saya pajang di di FB. quote itu muncul dari pemahaman saya tentang cara berfikir anak-anak, terutama anak-anak usia kelas 1 SD yang cara berfikirnya masih seputar hal-hal yang konkret, seperti halnya adik saya Opa. 

Tadi malam, ketika kami mengajak "main dan mengobrol" adik kami yang baru 2 bulan lebih, saya bertanya padanya, 
"Opa, Opa sayang gak sama Najmi?"
dia tidak menjawab, namun matanya menyiratkan sesuatu, dan kemudian ia berkata pelan,
"sayang lah, soalnya Najmi itu lucu"
mendengar jawabannya polosnya, saya agak terhenyak oleh sebuah pemahaman bahwa jawaban tersebut lahir dari cara berfikir yang masih konkrit. saya baru meyadari bahwa anak-anak seusia itu memandang segala hal di luar dirinya dengan cara berfikir yang konkrit saat saya bertanya kepada Opa tentang hari, ia bukan tidak tahu nama-nama hari, bahkan ia sudah menghafalnya diluar kepala saat belum sekolah,  ia hanya  belum memahami bahwa dalam seminggu hanya ada 7 hari, dan selalu berulang setiap minggunya. makanya ketika ia ditanya hari ini hari apa, atau besok itu hari apa? ia akan menggelengkan kepala karena tidak tahu. bahkan pernah suatu hari, waktu ia meminta bantuan saya untuk mengerjakan PR'nya tentang hari-hari, ia sampai menangis, karena saya "keukeuh" dan ngotot tidak mau memberi tahu jawabannya, saya malah marah-marah padanya karena ia tidak mengerti-ngeti juga tentang konsep hari.

Awalnya saya agak merasa heran, kenapa ia belum memahami konsep hari, sedangkan ia sudah hafal nama-nama hari, bahkan ia juga sudah memahami konsep waktu atau mengetahui bagaimana cara membaca jam, walalupun masih dalam tataran "limited" atau belum sampai pada pengetahuan tentang lewat dan kurang berapa menit misalnya. namun, ternyata, saya baru sadar bahwa "hari" adalah sesuatu yang abstrak, sesuatu yang tidak terlihat oleh mata fisik, walalupun kita melaluinya setiap hari, namun ia tidak mewujud dalam sebuah benda yang konkrit, bukan? sedangkan jam, walaupun sebenarnya ia juga merupakan hal yang abstrak karena berkenaan dengan waktu, seperti halnya hari, namun, karena dalam penghitungannya kita menggunakan sebuah benda yang konkrit, atau dapat terlihat dan juga dapan disentuh yaitu sebuah jam dinding atau jam tangan misalnya, maka Opa tidak menemui kesulitan yang berarti seperti halnya ia mencoba memahami konsep hari. 

Dari situ saya baru tahu dan sadar, bahwa anak-anak seusianya memang masih menggunakan cara berfikir konkrit dalam memandang sesuatu, termasuk juga saat ia berkata bahwa alasannya menyayangi "Najmi" adalah karena Najmi itu "Lucu". kenapa Opa bisa mengatakan Najmi itu lucu? karena adik bayi kami itu sering membuat kami sekeluarga tertawa oleh semua tingkah menggemaskannya. dan yang menurutnya "lucu" itu tentu saja adalah suatu hal yang dapat dilihat oleh matanya, walalupun tidak bisa disentuh oleh tangannya. namun ia nyata dan terlihat.

Dari sini saya menyimpulkan, bahwa cara berfikir konkrit, bagi saya adalah cara berfikir yang apa adanya, jujur dan sederhana. makanya kenapa dunia anak-anak itu bebas, tanpa beban, jujur, sederhana, dan jauh dari stress, karena apa yang mereka pikirkan hanyalah hal-hal yang konkrit, yang nyata, yang terlihat dan dapat dilihat, oleh mata fisik,  tersentuh dan dapat disentuh oleh tangan, juga   terdengar dan dapat didengar oleh telinga. sedangkan orang-orang dewasa, karena cara berfikir mereka sudah beranjak pada cara berfikir abstrak, atau sudah dapat memikirkan hal - hal yang abstrak, seperti halnya cinta, kasih sayang, perhatian, kebahagiaan, ketakutan, kebencian, dan segala hal yang abstrak, yang keberadaanya hanya bisa dirasakan oleh hati, maka dunia merekapun mulai tidak sebebas dunianya anak-anak. ada banyak aturan, tekanan, bahkan rasa sakit yang timbul karena memikirkan hal-hal yang abstrak itu. makanya tidak heran jika stress sangat sekali dengan orang-orang dewasa.

Ah, saya jadi merasa iri pada anak-anak, pada kesederhanaan dunia mereka, pada kepolosan hati mereka, dan pada cara berfikir mereka yang  apa adanya. namun, tentu saja between the concrete world and the  abstract world, antara ada dan tiada,pasti ada hikmah yang Allah berikan.

saya melirik Opa, ia sudah jatuh terlelap tanpa beban dalam mimpi-mimpinya. 

selamat tidur Opa!

Sabtu, 26 November 2011

saat langit mulai gelap
dan gerimis mulai turun
jangan kau sangka ia sedang menangis 
dalam kedukaannya
sebab baginya
air mata 
adalah cinta yang mewujud 
dalam tetes-tetes beningnya...

Gerimis yang menyelimuti udara sore itu, tidak sejengkalpul mengurungkan semangatnya untuk tetap pergi. beberapa kali emak menelpon saya, agar segera pulang dari warung dan membawakan kado ulang tahun yang sudah saya bungkuskan tadi siang itu. tapi karena hujan begitu deras, terpaksa saya harus menunggu hujan sampai reda dulu. dan saat hujan mulai reda dan hanya menyisakan gerimis, saya langsung meluncur ke rumah dengan kado yang terbungkus rapih siap untuk dihadiahkan. saat ojeg yang mengantar saya sampai di perapatan jalan, saya sudah melihat sosok mungil itu berdiri di depan garasi mobil bapak, bedaknya yang memang nemplok tidak rata di pipi manisnya, semakin tersamar oleh tetesan gerimis yang membasahi pipinya stu-satu, tapi ia tidak peduli. dari sorot matanya, saya melihat semangat yang berapi-api yang menyiratkan bahwa ia sudah lelah menunggu saya dan tidak sabar ingin segera berangkat ke acara syukuran anak tetangga kami (baca:ulang tahun). ketika saya mendekatinya, ia berkata dengan nada   sedikit kesal, 
"eteh, opa udah nunggu dari tadi, kenapa eteh baru datang?" 
dan saya menjelaskan bahwa hujan yang begitu deras telah menghalangi saya untuk segera pulang. saya melirik jam tangan, sudah pukul  4 lewat 10 menit, dalam hati saya berdoa mudah2mudahhan kami tidak terlambat. dan kamipun segera beranjak, berjalan kaki dengan tergesa ke TKP. 
Jarak antara rumah ke tempat ulang tahun itu memang cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki, tapi kami tetap menikmati perjalanan itu, walaupun gerimis masih terus bersenandung dengan ritmis. tiba-tiba adik kecil saya itu bertanya:
"eteh, opa pingin tahu isi kadonya apa?"
"beneran opa pingin tahu?"
ia mengaggukkan kepalanya dan tersenyum. 
"tapi, ini rahasia ya! cuma kita berdua aja yang tahu, jadi opa harus janji jangan cerita sama siapapun, ok?"
"ok!" jawabnya, 
kamipun saling menautkan kelingking sebagai tanda bahwa ia berjanji unruk tidak menceritakan isi kado itu pada orang lain. kemudian, saya membisiki sebuah nama benda ke telinganya. dan ia tersenyum mendengarnya.

Dan sore itu, entah kenapa gerimis begitu takjim membasahi tanah yang kami pijak, saya menggandeng lengan kecilnya, dan menyusun sebuah doa kecil dalam hati.

"Tuhan, walaupun saya dan adik2 saya tidak pernah merasakan bagaimana meriahnya sebuah pesta ulang tahun, bagaimana bahagianya saat membuka kado dari teman-teman, namun saya memohon agar Engkau hadiahkan kepada kami sepotong hati yang selalu siap untuk berbagi. amiin"

Jumat, 11 November 2011

How Clean is your Bathroom??

Di keluarga kami, tidak ada yang bisa menandingi kerajinan emak dalam hal beres2 rumah, bersih2 rumah, dan segala hal yang menyangkut pekerjaan rumah tangga. di tangan halusnya, semua perkakas rumah, akan tertata rapih dengan sangat kinclong, kamar mandi tidak pernah absen dari mengkilap, dan tentu saja yang paling istimewa adalah masakan yang selalu siap tersaji dengan rasa yang tidak akan terlupakan. emak memang ibu rumah tangga sejati, tapi, jangan salah...ia juga adalah menejer keuangan yang sangat handal andalan bapak. selain itu, emak juga adalah seorang dokter semua  jenis penyakit; dokter gigi, dokter penurun panas, dan tentu saja dokter specialis kulit/ wajah.

Tapi sayangnya, semua keistimewaan emak itu, tidak ada yang berhasil kami jejaki, terutama oleh saya sebagai putri pertamanya, kecuali satu hal, tentang kebersihan kamar mandi. entah mungkin karena saya tidak terbiasa dengan kamar mandi yang kotor dan berlumut, maka sampai sekarangpun saya akan sangat merasa tidak nyaman jika berada atau melihat kamar mandi yang kotor dengan bak mandi yang hitam oleh lumut. hal ini tentu saja tidak terlepas dari emak saya yang sangat rajin membesihkan kamar mandi kami,  maka walaupun kamar mandi kami tidak sebagus kamar mandi di hotel-hotel, tapi kami merasa nyaman berada di kamar mandi. 

Kebiasaan yang secara tidak langsung telah emak tanamkan itu, walaupun sedikit begitu mengakar kuat dalam diri saya. dan imbasnya, setiap saya berkunjung ke rumah teman atau seseorang misalnya, kemudian saya pergi ke kamar mandinya, maka reflek saya akan memperhatikan kamar mandinya tersebut ; apakah bersih atau kotor, kemudian saya akan menghubungkannya dengan sikap dan perilaku teman atau pemilik rumah tersebut. maka muncullah sebuah hipotesa amburadul dari otak kecil saya, "jika kamar mandinya bersih, maka penghuni rumah tersebut adalah orang yang memiliki kepedulian yang tinggi, juga rasa empati terhadap orang lain, begitu pula sebaliknya, jika kamar mandinya kotor , maka penghuni rumah tersebut adalah orang-orang yang cuek dan egois."he...he... ini adalah sebuah hipotesa yang tidak bisa diuji kebenarannya. karena hipotesa ini hanya berdasarkan analisis saya yang sama sekali tidak bisa di bilang ilmiah. dan tentu saja hal ini tidak bisa digenerilisasi. karena, berapa banyak teman dan sahabat  yang  saya kenal yang sangat peka dan peduli terhadap orang lain, tapi kamar mandinya bisa dibilang tidak terlalu bersih, he...

Namun, entah kenapa, setiap saya sedang berada di perjalanan, kemudian sholat di sebuah masjid, atau sedang menjenguk teman di rumah sakit, atau juga sedang ada keperluan penelitian ke sebuah sekolah, atau tempat2 umum lainnya, reflek saya juga akan memperhatikan kondisi kebersihan kamar mandinya, dan sayapun akan menghubungkannya dengan sikap dan prilaku penghuni setempat. dan biasanya hipotesa yang saya buat itu memang demikian adanya. kalaupun tidak ada hubungannya dengan sikap dan perilaku orang -orang yang menempatinya, biasanya selalu ada hubungannya dengan tempat yang bersangkutan. ambil contoh, sebuah masjid yang kamar mandinya bersih dan terawat, ketika saya sholat di dalam masjidnya, maka  ada rasa sejuk, damai, dan ketenangan yang menjalari hati, dan sayangnya setelah saya perhatikan, dari sejumlah masjid atau tempat sholat (mushola) yang pernah saya singgahi, kira-kira hanya sekitar 25%  saja yang benar2 menjaga kebersihan kamar mandinya. dan salah satu masjid yang  menjadi masjid favorit saya  di sekitar ciputat adalah masjid Fatullah UIN, saya sangat suka sholat di sana, ataupun hanya sekedar numpang ke kamar mandinya,  karena kamar mandinya memang sangat terawat dan selalu bersih. maka, walaupun letaknya  cukup jauh di sebrang kampus, saya akan lebih memilih sholat di sana jika memang ada waktu yang luang daripada di mushola kampus, karena kamar mandinya yang kotor. he...

Berbicara tentang kamar mandi, saya jadi ingat sosok ibu paruh baya, salah satu pengurus TPQ masjid Al-Muhajirun, ibu Ika namanya, seperti halnya emak, ia sangat mencintai kebersihan dan kerapihan rumah juga lingkungan rumah. dan tentu saja ia adalah pecinta kamar mandi sejati. ini bukan sebuah kelakar teman2, ibu Ika memang sangat mencintai kamar mandi, seperti yang pernah dituturkannya pada saya dan teman-teman saat kami kumpul di rumahnya. saya yang waktu itu merasa heran atas pernyataanya itu bertanya tentang alasan kenapa ia begitu mencintai kamar mandi, bukan apa-apa, jujur saja baru kali itu saya menemukan orang yang secara terang-terangan mencintai kamar mandi. he...,dan ibu ika pun menjawab seperti ini, karena baginya kamar mandi adalah tempat paling nyaman sekaligus aman untuk melampiaskan segala kesedihan, dan kegundahan yang meneteskan butiran-butiran air mata. saya makin heran mendengarnya, kok bisa? tanya saya, umumnya kan orang lain terutama para cewe yang abis diputusin pacar, nagisnya di atas kasur sambil menelungkupkan wajah di bawah bantal, kenapa ibu ika malah di kamar mandi?, kemudian ia menjelaskan, bahwa sari kecil, ia selalu dididik untuk tidak cengeng, jadi setiap ia kelihatan habis menangis, ia selalu dimarahi oleh ayahnya. maka ibu ika kecil berinisiatif jika ia sedang ingin menangis, ia akan pergi ke kamar mandi, menangis sepuasnya di sana, menyalakan air keran agar tangisnya  tidak terdengar keluar, lalu setelah puas menumpahkan air mata, ia akan membasuh wajahnya yang sembab dengan air yang banyak, dan keluar dengan wajah yang basah dari kamar mandi sambil tersenyum seperti tidak habis menangis.kami yang waktu itu mendengarkan, berOo ria tanda mengerti. he..., unik bukan?selain sebagai tempat menumpahkan tangis, kamar mandi juga adalah tempat yang paling nyaman untuk membaca buku, karena suasananya yang sunyi sepi, apa yang di baca sangat mudah diserap oleh otak, begitu kata ibu ika, aku semakin kagum pada keunikan cara berfikirnya. he..., maka sudah barang tentu ia sangat manjaga kebersihan dan kenyamanan kamar mandinya, bahkan ia sengaja menaruh bunga segar yang hidup di kamar mandinya untuk menambah kenyamanan. he...

Jika saya hubungkan, dengan hipotesa yang saya buat, maka ibu ika memang termasuk orang yang sangat peduli terhadap orang lain. apakah itu ada kaitannya dengan kebersihan kamar mandinya? he...entahlah, yang jelas bukankah ada sebuah hadis yang mengatakan bahwa "kebersihan adalah sebagian dari iman" kebersihan di sini tentu saja meliputi kebersihan secara hati atau batiniah dan juga secara fisik, atau ragawi , juga lingkungan, termasuk juga kebersihan kamar mandi bukan???

so, how clean is your bathroom, guys??? : )

Jumat, 04 November 2011

Tentang Kematian

"Tahan saetik, neng, ulah sieun ja jauh ka paeh.
emang paeh babari kitu? puguh hese." 

Kalimat itu dilontarkan begitu saja tanpa beban oleh perempuan paruh baya itu,  demi melihat wajah saya yang meringis menahan sakit, ketika ia mencoba merengkuhkan tangan kanan saya yang sejak 3 bulan terakhir selalu berada dalam posisi lurus. hampir 3 bulan tangan kanan saya memang 'diistirahatkan oleh Allah untuk tidak banyak bergerak setelah musibah kecelakaan itu, dan hasilnya, sekarang tangan kanan saya sulit sekali untuk direngkuhkan, hanya ada rasa sakit yang menggigit di bagian siku2 saya. 

Maka demi mendengar ada tukang urut yang tidak terasa sakit ketika mengurutnya, bapak saya antusias sekali, berharap sekali saya segera sembuh dengan tanpa harus merasakan sakit yang amat sangat. dan memang benar, ketika ibu2 paruh baya itu mengurut tangan saya, membetulkan kembali letak tulang yg patah, menarik dan memelintir tangan kurus saya, saya tidak merasakan sakit sedikitpun, apalagi dia juga selalu mengajak saya ngobrol dengan bertanya ini itu, maka otomatis saya pun terfokus pada apa yang dikatakannya, bukan pada tangan saya yang sedang 'dirombak'. namun ketika sampai pada merengkuhkan tangan, saya benar2 merasakan sakit yg luar biasa, seakan otot2 tangan saya benar2 tidak mau merengkuh lagi. maka terlontarlah kalimat di atas itu dari mulutnya yg kurang lebih berarti 'gak usah takut mati neng,hanya karna menahan sakit  ketika diurut, emangnya mati itu gampang? orang susah kok'.dalam hati saya mengiyakan. Dan sampai saat ini, ketika saya teringat kembali kecelakaan yg menimpa saya 3 bulan lalu itu. saya tak habis mengiyakan kalimat ibu itu.

Ya, di satu sisi, apa yang dikatakan Bu haji itu benar adanya. jika Allah belum berkehendak atas kematian seseorang, seberapa besar usaha orang itu untuk mencapai kematian, tetap saja malaikat maut tidak akan datang menghampirinya. berapa banyak orang-orang yang berputus asa pada hidup kemudian mencari pelarian pada kematian dengan berusaha bunuh diri? namun usaha bunuh diri itu gagal karena Allah memang belum menghendakinya untuk meninggal? maka dalam hal ini, kematian bukanlah suatu hal yang mudah, karena ada kehendak Allah yang "bermain" disana.

Namun di sisi lain, justru sebaliknya, pada sebagian orang, kematian tidaklah begitu sulit, misalnya pada kematian yang disebabkan oleh kecelakaan atau tabrakan, atau bahkan tanpa sebab apapun, betapa banyak orang di sekitar kita yang meninggal tanpa di sangka-sangka, tanpa diduga sebelumnya, tiba-tiba meninggal atas kehendakNya, walaupun tentu saja orang tersebut tidak atau belum menginginkan dan mengharapkan malaikat maut mencabut nyawanya. maka dalam hal ini, kematian sungguh merupakan sebuah misteri yang hanya Allah lah yang Maha Mengetahuinya.

Dan pada pertengahan Ramadhan kemarin, saat matahari sedang beranjak menuju waktu ashar, saya juga orang-orang kampung saya dikejutkan oleh berita kecelakaan dua pemuda kampung kami yang tabrakan, di jalan yang tidak jauh dari kampung kami. dan naasnya, kecelakaan itu telah merenggut nyawa salah satu dari mereka. padahal, keduanya adalah teman dekat, bahkan waktu pagi2nya mereka berdua terlihat sedang bermain gitar bersama di depan rumah pemuda yang meninggal itu.

Ah, kematian, selalu saja menghadirkan tanya. namun tentu saja kita tak kan pernah mendapatkan jawabnya, meski beribu orang telah berusaha menguak setiap jengkal rahasiNya. ia tetap saja tidak akan pernah terjangkau. wallahu a'alam bishowab.

Kamis, 27 Oktober 2011

Anak-anak itu...
selalu saja punya berjuta hal
yang mengejutkanmu
membuat sel otakmu loading lebih lama
dan bertanya dalam hati, " kok bisa ya otak kecilnya berfikir sampe sana???"

Saya sangat suka anak-anak, terlebih dunia mereka yang bagi saya selalu penuh warna, tidak melulu hitam atau merah, tidak juga terjebak pada hijau ataupun kuning, apalagi abu-abu, namun lebih dari itu,  bagi saya dunia mereka seperti sebuah planet bergravitasi maha tinggi yang selalu ingin menarik saya untuk sejenak  terjun bebas menyelami setiap jengkal dindingnya yang tak jarang memunculkan warna-warna yang langka bahkan yang tidak pernah saya bayangkan dalam benak sempit saya. 

seperti di sebuah malam yang hangat, di ruang tengah rumah kami, sambil mengeliilingi "anggota keluarga" kami yang baru (my new little brother) juga sambil memandangi Opa yang sudah terlelap tidur sampai ngiler di lantai, emak saya bercerita tentang adik kedua saya itu. Jadi adi siang, sepulang sekolah seperti biasanya dia membawa teman-temannya untuk bermain ke rumah. tapi kali ini yang ia bawa adalah teman-teman perempuannya, katanya seh mereka pada mau melihat adik baru kami "Najmi" yang baru melihat dunia dua mingguan itu. selesai memperlihatkan adik barunya yang masih merah, Opa mengajak teman-temannya untuk bermain di teras rumah, entah bermain apa, yang jelas di sela-sela mereka bermain, Emak mendengar sebuah percakapan mereka yang sungguh-sungguh unforgottable banget. terutama bagi saya. 

Opa    : Iin, cita-citana naon lamun tos gede (cita-citanya apa kalau sudah besar?
Iin      : kami mah ndek jadi suster (saya mah mau jadi suster)
Opa    : (dengan wajah tidak mau kalah langsung menyela) ih...ja kami geh ndek jadi dokter (saya juga mau jadi dokter)
Iin      : jadi dokter mah kudu boga duit loba cik bapak kami geh (jadi dokter kan harus punya uang banyak kata bapak saya juga)
Opa yang memang keras kepala, tetap tidak mau kalah, ia menjawab seperti ini,
" IH...JA KAMI GEH LOBA DUIT MAH, TAPI SEEP KU ETEH KAMI" 
(Saya juga banyak uang mah, tapi udah  abis oleh kakak saya)
GUBRAK...!!!

Dalam hati saya langsung teriak tidak terima! dan diam-diam saya berniat kalau nanti dia bangun tidur saya ingin mendemonya terang-terangan, seperti halnya para mahasiswa yang mendemo kebijakan-kebijakan pemerintah. he...he..., eh tapi tunggu dulu, Opa tidak menyebutkan nama yang jelas di sana, apakah eteh eka ataukah eteh dede yang dia maksud. tapi bisa juga kata ETEH disana berarti dua-duanya. ha...perul analisis lebih jauh kayaknya.

saya kemudian bertanya pada Emak, apakah memang Emak pernah dengan tidak sengaja mengatakan hal serupa padanya? bukan apa-apa, benak saya masih belum bisa menerima kalau adik laki-laki saya yang hobinya nonton film kartun itu bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu. bukankah ttidak dipungkiri jika lingkungan juga orang-orang yang dekat dengannya memiliki pengaruh yang besar dalam proses penyerapan informasi yang diterimanya? namun jawab Emak seingat emak tidak pernah. tidak lama, bapak berkata  dengan bijak " mungkin selama ini, setiap kita menengok Dede (adik saya yang pertama) di pondok, Opa diam-diam selalu memperhatikan Emak yang selalu meberi uang pada eteh dedenya itu. ya...walaupun ia tidak pernah tahu berapa jumlah uang yang diberikan pada etehnya itu. " saya dan Emakpun mengamini apa yang bapak katakan. ya, bisa jadi seperti itu, berarti kalau demikian, yang dimaksud Opa itu adalah eteh Dede, bukan saya, "hore..." teriak saya dalam hati. 

Dan malam yang hangat itu, saya memandangi wajah polosnya yang penuh keluguan terlelap di atas lantai, Opa memang tidak suka tidur di atas kasur, ia akan nangis kalau Bapak atau Emak memindahkannya dari lantai yang dingin ke atas kasur atau karpet. ada rasa takjub yang tiba-tiba menjalari hati. betapa otak kepala kecilnya menyimpan berjuta, bahkan bermilyar atau bertrulyun keajaiban yang tidak pernah kita sangka.

Minggu, 23 Oktober 2011

Doa vs Karma

Percayakah anda pada apa yang disebut "karma"?
jadi begini, 

Sore kemarin, saat langit mulai gelap dan awan siap menumpahkan beribu liter air ke tanah kami, saya baru saja pulang dari pasar sehabis "ngantor" (he...), tiba di rumah saya langsung mencari-cari sosok bayi mungil "bintang baru" di keluarga kami. tapi saya tidak mendapati wujudnya yang biasanya selalu terbaring di kasur lipat kecilnya sambil menggerak-gerakkan bola matanya yang agak sipit dan jernih. dan ternyata ia sedang di gendong oleh tetangga kami di luar rumah. 

Tidak lama, tetangga kami itu masuk ke rumah dengan menggendong adik bayi saya, kemudian sambil menidurkan adik saya, ia bercerita kalau anak saudara saya yang rumahnya hanya terhalang satu rumah dari rumah saya itu menjadi korban bullying teman-teman sepermainannya di lapangan sebelum ashar tadi. perutnya ditonjoki,  lehernya dicekik, dan ia tidak bisa berontak apalagi melawan, karena kedua tangannya di pegangi oleh temannya yang lain. saya kaget sekali mendengarnya, dan tentu saja sangat ngeri. terlebih anak itu adalah salah satu murid ngaji saya yang selalu bersemangat. maka saya langsung mendatangi rumahnya untuk menengoknya. dan...ketika sampai di rumahnya yang beridinding bambu itu, saya mendapati tubuh kecilnya itu sudah berwarna putih karena dibaluri "cikur" oleh neneknya, kedua tangannya menutupi wajahnya, terdengar isak tangis dari mulutnya, ah...saya benar-benar miris melihatnya. sayapun mencoba mengekalakarinya "pan lalaki eleh? kunaen teu dibaleus deui? he...he...he..." (laki-laki kok kalah? kenapa gak dibales lagi?) tapi ia tidak menanggapi kelakar saya, ia terus saja terisak, mungkin menahan sakit di sekujur tubuhnya dan saya harap tidak lebih dari itu. sayapun keluar dan ternyata ibunya sudah berdiri di luar kamar, iapun menceritakan apa yang menimpa anaknya itu. dan ternyata, ia dikeroyok hanya karena gara-gara ia tidak mau bermain bola lagi. kemudian ibunyapun bercerita bahwa ia menyuruh suamninya untuk mendatangi orang tua-orang tua dari anak-anak yang telah melakukan bullying itu. dan respon para orang tua itu ada yang bersimpati, kemudian langsung menengok murid saya itu ke rumahnya, untuk memintakan maaf ,tapi ada juga yang malah mengomel dan berkata tidak seharusnya orang tua dibawa-bawa dalam masalah perkelahian anak-anak ini. dan saya langsung mengernyitkan dahi ketika mendengarnya dan berkata dalam hati "nggak salah tuh? hmmm...kalau saya yang jadi orang tua anak-anak yang melakukan bullying itu, tak jitak satu-satu mereka, he...(calon ibu yg galak)"

Dan saat hujan kemudian turun dengan derasnya, benak saya masih berputar-putar memikirkan keadaan murid saya itu, juga respon dari salah satu orang tua anak yang sudah membabakbelurinya itu yang malah bersikap seolah-olah anaknya tidak bersalah dan tidak melakukan apa-apa, atau memaklumi bahwa kejadian ini adalah memang dunianya anak-anak. saya terenyuh mendapati kenyataan itu, walaupun saya tidak memungkiri, setiap orang tua memiliki prinsipnya masing-masing dalam mendidik anaknya. namun  benak saya mencoba berandai-andai, bagaimana jika anak yang menjadi korban bullying itu bukan murid ngaji saya yang memang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja itu, tetapi dari keluarga besar yang sangat disegani dan dihormati di kampung ini, adakah sikap orang tua anak tersebut masih sama? sepertinya tidak ,bahkan mungkin saja mereka akan langsung memohon-mohon untuk meminta maaf. ah...kenapa saya jadi bersuudzon seperti ini?? astagfirullah...maafkan aku ya Robb. 

dan pagi tadi, saat matahari baru saja menghangatkan bumi, nenek murid ngaji saya itu datang ke rumah untuk mengantarkan "gogodogan" atau ramuan seperti jamu yang dibuatnya untuk ibu saya yang baru saja melahirkan. ia kemudian menceritakan bahwa tadi malam ia seperti baru mendapatkan sebuah ilham bahwa apa yang menimpa cucunya itu merupakan sebuah karma atas apa yang pernah diperbuat oleh ayah anak itu (menantunya) sewaktu masih muda. ia menambahkan bukankah dulu, ketika ayah anak itu masih muda atau remaja, ia pernah menjadi pemuda yang masyhur karena sering mengeroyoki anak orang?? di seantreo kampung ini? dan tidak heran jika saat ini "karma" itu menimpa anak lekaki keduanya. mungkin saja dulu ada orang tua yang merasa tersakiti karena anaknya menjadi korban sikap jawara sang ayah?  dan saat inilah doa itu terkabulkan, tambahnya. sang nenek kembali melanjutkan ceritanya, ia mencoba menasihati menantunya (ayah anak itu) mudah-mudahhan  dengan "karma" ini Allah yang Maha Pengampuni akan menghapus kesalahan-kesalahannya sewaktu muda dulu selagi ia masih di dunia.

saya yang mendengar "breaking news" pagi dari sang nenek itu jadi bertanya-tanya dalam hati, benarkah apa yang menimpa murid saya itu adalah "karma" atas perbuatan ayahnya dulu? kalau memang benar, kasihan sekali ia kalau begitu, ia yang mungkin saja tidak bersalah harus menjadi "tumbal" dari karma sang ayah" 

ah, saya lebih memilih tidak befikir terlalu jauh tentang itu. namun entah kenapa benak saya menyetujui bahwa "karma" merupakan buah dari doa-doa orang lain yang mungkin saja pernah tersakiti oleh sikap, perbuatan, dan perkataan kita di masa lalu, baik yang disengaja ataupun yang tidak. Makanya, kenapa setiap selesai sholat, kita dianjurkan membaca istigfar dan memohon ampun atas kesalahan-kesalahan kita pada Allah.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Saat "Undangan" itu Datang...

Saya selalu merasa resah setiap kali mendapat undangan. undangan apapun. undangan kumpul bareng alumni, undangan rapat di organisasi, undangan bacakan, terlebih undangan pernikahan dari sahabat ataupun teman. (saya kapan nyebar?) he....
Resah, karena takut pada hari H saya tidak bisa datang mengahadiri undangan tersebut. karena bagi saya, sebuah undangan adalah seperti halnya sebuah panggilan yang jika kita tidak berudzur apapun, kita wajib untuk memenuhi panggilan atau undangan itu. Makanya, kenapa saya selalu sedikit menyesalkan, jika seorang teman mengundang ke acara walimatul 'ursynya pada hari-hari kerja atau bukan pada akhir minggu, ditambah dengan lokasi yang sangat jauh dan sulit dijangkau. karena hampir 80% saya tidak akan bisa datang menghadiri undangan tersebut. dan akhirnya, saya akan merasa sangat bersalah karena tidak bisa memenuhi undangan tersebut. apalagi jika yang mengundang  itu adalah sahabat dekat yang telah mengundang secara langsung tanpa perantara. 

Dan, 3 hari yang lalu, saya dan  keluarga (bapak, ibu, adik pertama saya) mendapat undangan dari KPU, anda tentu tahu undangan macam apa yang berasal dari KPU itu, bukan? yupz, sebuah undangan untuk memilih Pemimpin baru di Provinsi tercinta ini.  saya kembali merasa resah, ketika mendapatkan undangan itu, bahkan dari jauh-jauh hari sebelum undangan tersebut benar2 datang atas nama saya. saya resah, bukan karena saya takut tidak bisa datang memenuhi undangan tersebut, toh jarak rumah saya ke tempat pemilihan suara PilGub itu hanya memakan waktu tidak lebih dari 10 menit. saya resah, justru karena saya mendapatkan undangan tersebut. andai boleh memilih, saya lebih baik tidak mendapatkan undangan tersebut, atau kalaupun saya tetap harus mendapatkannya, saya berudzur untuk datang seperti halnya adik saya yang saat ini tinggal di pondok. pertanyaannya, kenapa saya resah??? hei...bukankah ini bukan kali pertama saya mendapatkan undangan khusus tersebut?

Dan jawabnya, karena saya masih belum tahu saya harus memilih siapa di TPS nanti, dari ke3 calon yang bannernya sudah terpampang entah dari bulan apa itu, saya masih belum yakin siapakah nanti yang akan memimpin Banten dengan amanah. selain itu, dari ke3 pasangan calon tersebut, ada satu calon, yang benar2 sudah saya black list dari daftar Pemimpin yang amanah, karena kinerjanya yang menurut pengamatan saya tidak bagus selama 2 periode ia memimpinpun.

Maka, saya resah, karena diam-diam...saya juga sudah merasa muak pada pesta demokrasi ini. berapa milyar uang negara yang dihabiskan untuk membiayai pemilihan langsung para calon pemimpin ini? jawabnya tidak terhingga. dan uang rakyat yang habis tidak terhingga itu,  terasa sangat sia-sia, karena para pemimpin yang dihasilkan dari pesta demokrasi ini  banyak yang  kemudian "amnesia" terhadap janji-janji yang mereka koar-koarkan ketika masa kampanye. dan akhirnya, bukan kesejahteraan rakyat yang dicapai, tapi kesejahteraan pribadi dan golongan.

Kembali ke undangan untuk memilih calGub yang jatuh tepat pada hari ini, di satu sisi, saya tidak mungkin mengarang2 udzur untuk tidak memenuhi undangan itu, sebenarnya saya bisa saja dengan sengaja tidak datang ke TPS untuk nyoblos, tapi seperti yang saya katakan tadi, saya selalu merasa tidak enak pada diri sendiri jika tanpa halangan apapun saya tidak memenuhi sebuah undangan. saya kemudian berencana , apa saya tetap datang saja ke TPS? namun tidak untuk memberikan suara, melainkan hanya untuk setor muka memenuhi undangan? ha...konyol sekali bukan?, lagipula saya kemudian berfikir jika saya tidak memberikan suara sama sekali, kemudian naudzubillah calon yang saya anggap tidak pantas memimpin lagi itu terpilih kembali, tidakkah saya sama saja dengan memberi kesempatan atau peluang satu suara atas kemenangannya? dan, akhirnya...resah itu lebur juga, dengan mantap saya berjalan menuju TPS bukan hanya sekedar untuk memenuhi undangan KPU, namun lebih dari itu, untuk memberikan satu suara saya, yang mudah-mudahan berkontribusi untuk perubahan Banten ke arah yang lebih baik. amiin.




Minggu, 16 Oktober 2011

APALAH ARTI SEBUAH NAMA???

"

What's in a name
That which we call a rose by any other word would smell as sweet.
-Shakespeare's Romeo and Juliet (II, ii, 1-2)

"Apalah arti sebuah nama?
karna mawarpun akan tetap wangi walaupun kita menamakannya bukan dg mawar" begitulah kira-kira terjemahan bebas dari quote'nya William Shakespeare di karya termasyhurnya Romeo and Juliet.

Di suatu pagi yang cerah, awal tahun ajaran baru, saya menatap wajah-wajah yang penuh semangat itu sambil tersenyum, bersiap mengabsen nama-nama yang tertera di daftar hadir. sayapun mulai menyebutkan nama mereka satu persatu, berusaha mengingat nama dan wajah yang saya sebutkan, sambil terus menebar senyum. (he....untung udah sikat gigi). kemudian, tiba pada deretan abjad "M" saya membaca nama yang cukup aneh dan lucu itu di absen. "Menon Samanah" spontan saya ingin tertawa, namun sekuat tenaga saya tahan. sekali lagi saya membacanya dengan keras, dan beberapa menit kemudian di antara riuh olok-olok anak-anak yang lain, sebuah suara terdengar dengan intonasi yang sangat malu-malu "Hadhiroh!", saya menoleh ke barisan siswa perempuan, mencari asal suara tersebut, dan di bangku kedua dari belakang yang menyender ke tembok, seorang murid perempuan dengan air muka seperti menahan malu mengacungkan tangannya dengan kepercayaan diri yang seperti merosot 60 derajat. sekilas, saya melihat pipinya yang putih bersih nampak sedikit merona menahan malu. dalam hati saya berkata "di era Digital seperti ini, ternyata masih ada orang tua yang memberi nama anaknya seperti itu" dan tiba-tiba saja terbersit rasa kasihan dalam hati saya pada anak itu, kasihan, karena ia terlihat begitu tidak percaya diri dengan nama yang tersemat pada dirinya. namun saya juga tidak bisa menahan diri untuk tersenyum bahkan tertawa setiap saya mengingat nama yang out of date itu, he..., 

sepuang sekolah, saya menceritakan tentang nama anak perempuan itu pada ibu saya, dan respon pertama ibu saya ketika mendengar nama tersebut juga sama dengan saya, 'tersenyum' namun kemudian, ia berkata bijak "mungkin saja orang tuanya itu berharap anaknya itu akan tumbuh menjadi seorang gadis atau perempuan yang menor atau berparas putih dan cantik. karena bisa jadi  "Menon" itu bisa berarti 'menor" atau "putih" atau " cantik"?" dan saya mengiyakan, setuju. bukankah sejatinya, tidak ada orang tua yang mengharapkan keburukan terjadi pada anak-anaknya, maka doa-doa dan pengharapan-pengharapan itu tertuang dalam nama-nama yang mereka sematkan pada buah hati mereka. walaupun pada beberapa kasus, seperti halnya murid saya itu, nama yang diberikan orang tuanya tersebut mengundang senyum, tawa, bahkan olok-olok dari orang-orang yang pertama kali mendengarnya. namun, seperti kata Shakespeare "apalah arti sebuah nama?" 

tapi sayangnya, walaupun apa yang digaungkan oleh Shakespeare itu, benar adanya, tentang apalah arti sebuah nama? karna sebagus dan seindah apapun sebuah nama yang di berikan orang tua kepada anaknya, tidak akan berarti apa-apa jika di kemudian hari, anak tersebut berprilaku atau bertingkah tidak sesuai dengan nama yang terstempel pada dirinya. 

saya jadi teringat, pada perbincangan saya dengan adik saya di suatu malam, di depan kamar mandi di sebuah Rumah sakit umum, di daerah kami. saat itu memang malam kedua kami menunggui ibu kami di rumah sakit pasca melahirkan adik kami yang terakhir. maka, hal yang kami perbincangkan adalah juga tentang nama apa yang akan kami berikan pada adik bungsu kami itu. malam sebelumnya, bapak mengusulkan nama "Bahrul ulum" pada saya. spontan saya berkata tidak. bukan karena saya tidak  menyukai  makna agung yang terkandung di balik nama itu. tapi, jujur saja, bagi saya nama tersebut sangat 'pasaran' sekali. he..., dan malam itu, saya menceritakan usulan bapak tersebut kepada adik saya yang pertama, bagaimana respon dia? bahkan melebihi saya, ia langsung berteriak "TIDAAK" untuk nama yang indah itu. dan apa alasannya? dia menjawab bahwa dia punya teman yang bernama "Bahrul Ulum" namun, nakalnya tidak tertandingi, bahkan akhirnya, dengan sangat terpaksa ia dikeluarkan dari almamaternya karena sering kabur dan merokok. walaupun sebenarnya, ia adalah anak yang baik dan setia kawan. maka, apalah arti sebuah nama??? 


Namun, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi, bahwa sebagai orang tua, mereka harus memberikan nama yang baik untuk anak-anaknya. bahkan nama yang baik merupakan hak bagi anak dari orang tuanya, selain pendidikan dan pengasuhan yang baik, sampai ia beranjak dewasa.  tmaka idak peduli pada apa yang dikataka Shakespeare,   bagi kami ia adalah doa dan sebentuk pengharapan atas kehidupan dan masa depan yang lebih baik. 
 
*Gambar di ambil dari sini www.bridgeny.com