Barangkali,
ini memang hanya ilusi
Aku masih mencintaimu
Bahkan
Saat aku telah menghujamkan
Sebilah belati
Di dadamu
Namun
engkau tak pernah bisa mati
apakah ini hanya sekedar ilusi?
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Rabu, 22 April 2015
Kamis, 11 September 2014
MIRROR
I saw you
in digital mode
looking at me
with your glazing eyes
a little smile
rose on
a Lil bit red lips
are you a lady?
or a girl? wrapped
in such mature appearance
do I know you?
Sajira, September 2014
Sabtu, 10 Mei 2014
KERETA RINDU
Aku menunggumu
Dengan lelehan rindu
Yang kini beku
Di ujung bangku peron itu
Tidakkah kau bertanya?
Pada kereta terakhir
Yang menembus malam
Tentang jejak kakimu
Yang tak pernah habis
Aku tapaki
Dalam sendu
Dalam kalbu
gambar diambil dai sini ; http://www.pinterest.com/pin/24488391694223504/
Kamis, 07 November 2013
KE-13
Apa kabar Banten?
ah, membacamu hari-hari terakhir ini di media, sungguh membuat hati ngilu. justru di saat kau menginjak usia yang ke-13 sebagai provinsi, berbagai media masa dari mulai media cetak, TV, bahkan online, menyoroti setiap jengkal wajahmu yang kusut dan berdebu.
selamat ulang tahun Banten, kali ini, aku ingin menghadiahimu 3 buah puisi amatir, semoga Tuhan memberikanmu pemimpin yang amanah di tahun2 mendatang. amin.
(1)
KE -13
Biar kami tiup
Lilinmu yang ke-13
Ssambil merapal
Doa-doa sederhana
Lewat teriakan mahasiswa
Di jalan dan gedung KPK
Kemudian,
Izinkan kami memotong
Tartmu yang ke - 13
Dengan pisau media
Untuk kami bagikan
Pada rakyatmu
Yang tak mampu membaca
Pekatnya peta hitam politika
(2)
DI ATAS GERBONG RANGKAS JAYA
Dari balik kaca jendela
Pohon-pohon berkejaran
Dengan rumah-rumah
Dan tiang - tiang listrik
Tapi aku tak melihat langit
Tersapu biru
Tak juga kudengar
Senda gurau
Pengasong minuman
Dan nyanyian sumbang
Pengamen jalanan
Juga
Teriakan parau para penjaja buah
Hanya penumpang berdasi
Dan wangi
Dan wangi
Yang duduk adi bangku-bangku kosong
Tanpa senyum
Tanpa sapa
Seperti patung
Namun mereka bernyawa
Aku meraba dingin dinding bajamu
Wajahmu pucat
Tanpa gairah
Tanpa canda tawa
Seperti mayat
Namun engkau masih bergerak
Membelah rel
Dari Rangkas sampai Jakarta
(3)
KECUALI MULTATULI
Kecuali Multatuli,
Siapakah yang peduli?
Pada tetes keringat petanimu
Pada lalat yang mengerubungi
Buncit perut anak-anakmu
Pada tangan renta
Yang mengais sampah
Didepan istana megahmu
Kecuali Multatuli,
Siapakah yang peduli?
Pada mata jalang
Yang mengiba koin
Di atas gerbong tua
Keretamu
Pada tukang becak
Di depan Vihara
Dan
Pada pengasong nasi timbel
Pada pengasong nasi timbel
Di peron stasiun
Kecuali Multatuli,
Siapakah yang peduli?
*dua dari tiga puisi itu (Ke-13 & Kecuali Multatuli) alhamdulillah lolos seleksi panitia kurasi Kegiatan Rumah Budaya Nusantara yang diselenggarakan di Rumah Dunia dan ikut dibukukan dalam antologi puisi Tanah Air Debus yang terbitkan oleh Gong Publishing
*dua dari tiga puisi itu (Ke-13 & Kecuali Multatuli) alhamdulillah lolos seleksi panitia kurasi Kegiatan Rumah Budaya Nusantara yang diselenggarakan di Rumah Dunia dan ikut dibukukan dalam antologi puisi Tanah Air Debus yang terbitkan oleh Gong Publishing
Rabu, 14 Agustus 2013
EPISODE ANAK CIBERANG III
Percayalah!
Sampai kapanpun,
Aku akan tetap bangga
Menjadi anakmu,
Kanak kecil
Yang suka bermain-main
Di riakmu,
Di atas cadas licinmu,
Atau memunguti kerikil
Yang terlanjur kuangap
Pualam mungil
Walau sungguh,
Aku dianggap tidak pernah
Menyelam
Dan mencuci kaki
Dalam dekapan beningmu,
Dan menjadi alien
Di bawah langit
Yang masih sama
Memayungimu sejak dulu
Sampai kapanpun,
Aku akan tetap bangga
Menjadi anakmu,
Kanak kecil
Yang suka bermain-main
Di riakmu,
Di atas cadas licinmu,
Atau memunguti kerikil
Yang terlanjur kuangap
Pualam mungil
Walau sungguh,
Aku dianggap tidak pernah
Menyelam
Dan mencuci kaki
Dalam dekapan beningmu,
Dan menjadi alien
Di bawah langit
Yang masih sama
Memayungimu sejak dulu
EPISODE ANAK CIBERANG II
Oh Ciberang!
aku memanggilmu
Ibu,
Tempat tumpahkan
Tangis kanak-kanakku
Dalam riakmu
Yang tidak pernah
Berhenti tersenyum
Hanyutkan duka polosku
Sampai ke laut selatan
Tapi kini,
Saat kaki kecilku
Tumbuh menciptakan
Jejak seorang muda
Masih pantaskah aku
Memanggilmu
Ibu?
Dalam balutan baju
Yang kebesaran
Aku terlihat aneh dan asing
Bagi orang-orang
Selasa, 13 Agustus 2013
Episode anak Ciberang 1
Geliat Pemuda Ciberang
Kini semakin bersinar terang
Kalahkan
Pendar lampu jalan
Di perempatan
Tapi,
Aku masih terkungkung
Sendiri
Dalam keramaian
Yang tidak aku pahami
Rabu, 07 Agustus 2013
ELEGI 'ID II
'Id
Aku mencari namamu
Dalam pendar bunga api
Di atas langit malam
Aku mencari suaramu
Dalam pekak mercon
Yang diledakan kanak itu
Aku mencari nafasmu
Dalam takbir di speaker masjid
Yang sumbang
Tapi,
Yang kutemukan
Hanya
Gelap,
Sunyi,
Dan parau
Picture from here: www.armetra.com
ELEGI 'ID I
'Id,
Sudah keberapa kali kita bertemu?
24 atau 23
Tapi rasanya
Tawar saja
Hanya petasan bisu
Dan kembang api yang menyala
Tanpa cahaya
Juga,
Takbir yang menjelma sunyi
Di corong menara
Sajira, 1 Syawal 1434 H
8 Agustus 2013
picture from here: httpwww.umno-online.
Senin, 05 Agustus 2013
Aku tak ingin
Aku tak ingin
seperti matahari
yang tergesa terbit
menemui pagi
mengeja kata itu
menjadi barisan puisi
yang bisa pupus
dalam sehari
Aku tak ingin
seperti senja yang terburu
benamkan cakrawala
mengeja rasa itu
menjadi barisan sajak
tanpa remah makna
Minggu, 04 Agustus 2013
Menara Hijau
Untuk paman,
Ada yang tak kau ketahui
tapi,
aku tahu
Menara Hijau
Di bawah langit fajar
berkelindan
menyapa kabut dini hari
Ah, betapa malunya!
cahayanya yang bisu
mampu menangkap
ada yang berkerjap
di sudut hatiku yang gelap
saat tikus got berkejaran
saat purnama sempurna tidak datang
saat keluarga pasien masih bergelimpangan
terlelap di teras-teras ruang inap
kelelahan
Ada yang tak kau ketahui
tapi,
aku tahu,
Menara hijau
di bawah langit fajar
cahayanya yang bisu
mampu menangkap
kerjap mataku
yang malu
walau sesaat menatap matamu
RSUD AdjiDarmo
20 Ramadhan 1434 H
Kamis, 13 Oktober 2011
LAGU HUJAN
jatuh basahi pipimu,
jangan berlari
untuk berteduh,
karna langit akan mendendangkan
...
sebuah lagu
tentang hujan
maka tersenyumlah!
dan rayakan
kebahagiaan
jadi,
mari bernyanyi
sebuah lagu
tentang hujan
agar gundahmu
terlerai dan menghilang!
DAN... ENTAHLAH
Dan...
Entahlah...
semua ini
masih membentuk
tanda tanya
yang berbaris rapi
satu, dua, tiga, bahkan lebih,
di hatiku,
begitu jugakah
di hatimu?
???...
Entahlah...
semua ini
masih membentuk
tanda tanya
yang berbaris rapi
satu, dua, tiga, bahkan lebih,
di hatiku,
begitu jugakah
di hatimu?
???...
Jumat, 07 Oktober 2011
Kau yang bernama Cinta
Kau
yang bernama cinta...
enyahlah!
kau
yang bernama rindu...
terbanglah!
dan,
jangan pernah singgah!
jika hanya menumbuhkan gundah
yang menghujani tanah
sebab
aku telah basah
oleh gelisah
yang berdarah-darah...
Kenapa selalu seperti ini?
gelisah tanpa arah
tidak mengertikah engkau?
wahai rindu,
tentang gerimis
yang mengering
menumbangkan
sepohon harap
yang baru saja bertunas
di jelaga hati.
sedang pelangi
tak lagi berwarna
lalu,
di manakah gundah akan kusimpan?
sebab embun
tidak lagi merembesi pucuk-pucuk daun
Senin, 09 Mei 2011
kemanakah?
by Etha Urang Lebak Thea on Saturday, July 4, 2009 at 5:00pm
Kemanakah kan kucari
penawar
atas sekendi asa ini?
merembes
disela sela jiwa
menabur benih pedih
yang bertindih-tindih
menohok sukma...
menikam dada...
menoreh luka...
Kalau bukan padaNYA?
Sang penerang jiwa
tempat berlabuh
segala asa dan lara
tempat berteduh
dari guyuran luka....
hasbi Robby
cukuplah
hanya KAU
Mengalir indah
dihatiku
seperti Nil Mu
yang tak pernah kerontang
menyejukkan
setiap mata yang memandang
lalu,
apa lagi yang kurang?
jika langit yang gemintang
selalu setia memayungi
dan menjadi penerang?
cukuplah
hanya KAU
berhembus mesra
disetiap tarikan nafasku
berbisik
tentang megahnya surga
membelai
membasuh luka
hanya KAU
Mengalir indah
dihatiku
seperti Nil Mu
yang tak pernah kerontang
menyejukkan
setiap mata yang memandang
lalu,
apa lagi yang kurang?
jika langit yang gemintang
selalu setia memayungi
dan menjadi penerang?
cukuplah
hanya KAU
berhembus mesra
disetiap tarikan nafasku
berbisik
tentang megahnya surga
membelai
membasuh luka
by Etha Urang Lebak Thea on Saturday, July 4, 2009 at 3:17pm
jika
KAU basuh
serpihan dosaku,
hingga meluruh,
aku bersedia melepuh...
walau pedih sungguh,
aku akan tetap bersimpuh,
tanpa menegluh...
tanpa mengaduh...
by Etha Urang Lebak Thea on Saturday, July 4, 2009 at 3:06pm
Langganan:
Postingan (Atom)











