Tampilkan postingan dengan label ESSAY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ESSAY. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Maret 2012

Birthday Party? What's Up?


Saat orang tua saya masih kecil dulu, tradisi pesta ulang tahun atau syukuran hari lahir belumlah menjadi tren di kampung kami (ya iyalah, tahun 70an gitu lho!he...) sampai saat saya berumur 6 atau 7 tahunan, salah satu anak kiai di kampung kami yang tinggal di kota besar membawa "tradisi orang kota" itu, mengulangtahunkan anaknya yang pertama dengan sebuah pesta yang cukup meriah dan membuat kami rang-orang kampung berdecak kagum melihatnya. dari situ, pelan tapi pasti, entah kenapa, keluarga-keluarga besar yang justru menyandang predikat sebagai keluarga kiai atau guru ngaji, mulai mengulangtahunkan anak-anak mereka. walaupun perayaan ulang tahun tersebut diberi nama acara syukuran hari lahir agar terdengar lebih islami, kemudian membaca surat alfatihah dan surat-surat pendek sebelum menyanyikan lagu happy birthday, namun tetap saja pada kenyataannya, bagi saya acara tersebut tidak bisa diislamisasi.

Jadi ceritanya, Beberapa bulan yang lalu, Adik saya yang nomor 3 mendapat sebuah undangan syukuran satu tahun atau istilah kerennya ulang tahun anak tetangga kami yang juga teman sepermainan saya waktu kecil. kemudian dua minggu yang lalu, adik saya nomor 4 (si bungsu Najmi) juga mendapat undangan syukuran dua tahun anak tetangga kami yang juga kakak kelas saya waktu SD, dan kebetulan sang ibu yang anaknya  berultah yang kedua itu adalah keponakannya teman sepermainan saya yang mengundang Opa beberapa bulan lalu. 

Lalu kemarin lusa, adik saya nomor 4, kembali mendapat undangan syukuran atau ultah dari anak tetangga kami yang rumahnya tepat depan rumah,  kebetulan pula ibu anak yang akan berultah yang ke -1 itu adalah kakak iparnya teman sepermainan saya waktu kecil. jadi, kalau diitung-itung, dalam kurun waktu tidak sampai enam bulan, kedua adik kecil saya telah diundang tiga kali ke acara ulang tahun oleh keluarga besar yang menjadi tetangga kami itu.

Hal itu bisa saja disebabkan oleh sebuah kebetulan bahwa ketiga anak-anak kecil yang diulangtahunkan oleh ibu-ibunya itu lahir dengan jarak waktu atau tanggal yang berdekatan.,  atau bisa juga oleh sebuah enigma baru tentang budaya perayaan ulang tahun yang semakin diterima oleh masyarakat kampung saya, entahlah, namun terlepas dari apapun alasan yang berdiri di belakangnya, ternyata dalam satu dekade ini, masyarakat kampung saya terutama yang merupakan keluarga besar, terpandang dan terhormat statusnya, mulai membudayakan syukuran hari lahir anak-anak mereka atau bahasa gaulnya islamic birthday party, entah itu untuk alasan menaikan gengsi dan citra keluarga, ataupun memang benar-benar sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan kasih yang Tuhan curahkan pada anak-anak mereka. saya tidak tahu. namun, samar-samar saya ingat, saat bapak belum membangun rumah tempat tinggal keluarga kami, dan kami masih tinggal menumpang di rumah nenek, saya tidak ingat saya berumur berapa saat itu, mungkin sekitar 6 atau 7 tahunnan, saya mendapat undangan perayaan ulang tahun untuk yang pertama kalinya dalam hidup saya, juga untuk yang pertama kalinya di kampung kami yang masih udik kala itu. dan kau tahu kawan, apa yang saya rasakan saat itu?

Satu hari sebelum pesta ulang tahun itu, saya sudah merasa dag-dig-dug tidak karuan, seakan-akan sayalah yang besok akan berulang tahun, perasaan antara cemas, penasaran, bahagia, dan bingung harus membawa kado apa dan memakai baju apa bercampur aduk dalam hati saya yang masih polos. kemudian, saat pesta ulang tahun itu tiba, saya dan beberapa teman yang diundang, mandi satu jam lebih lebih awal dari biasanya,  tentu saja karena kami takut terlambat datang ke perayaan itu, maka dengan semangat yang menggebu-gebu kami pergi ke sungai jam setengah tiga sore, saat matahari masih bertengger panas menyinari sungai yang menghijau dan tenang.

pukul setengah empat sore, saya dan teman-teman sudah berada di tempat pesta ulang tahun itu, jujur saja sebenarnya saya sendiri juga tidak tahu bahkan tidak mengenal anak yang akan berulang tahun sore itu, saya juga tidak mengenal ibunya apalagi bapaknya, tapi saya tidak peduli, yang terpenting saya sudah mendapatkan undangan, saya sudah mandi dan berpakaian cukup rapih, dan yang terpenting saya sudah membawa kado, saat itu saya tidak tahu bahkan tidak menyadari bahwa ternyata tidak semua anak-anak kecil di kampung kami mendapatkan undangan istimewa itu dan berkesempatan menyanyikan lagu happy birthday kemudian pulang membawa kantong plastik cantik dan berkilau-kilau dengan berbagai macam kue dan snack yang menggiurkan lidah kecil kami.

Namun, saat ini, saat saya sudah mencapai kepala dua dan tidak pernah sekalipun diulangtahunkan oleh orang tua saya (he....), saat giliran adik-adik saya yang mendapatkan undangan ulang tahun itu,  saya baru menyadari beberapa hal, bahwa seberapa islamipun acara ulang tahun itu di modifikasi dengan membaca alfatihah, dan surat-surta pendek, dengan kartu undangan yang berjudul syukuran dan bukan pesta ulang tahun, tetap saja tidak mengurangi kemeriahan sebuah pesta ulang tahun ala orang-orang kota, juga tentu saja seberapa meriahpun acara ulang thaun itu digelar, tetap saja tidak menjadi penentu anak yang dilulangtahunkan itu akan sukses dunia akhirat, bahkan, justru dengan adanya acara ulang tahun tersebut akan tumbuh semacam kesenjangan sosila antara anak-anak dan keluarga yang mampu berulang tahun dengan anak-anak dan keluarga yang tidak mampu berulang tahun.

Selain itu, anak-anak yang kebetulan tidak termasuk dalam daftar tamu yang diundang, otomatis dia akan bersedih hati, terutama karena mereka tidak bisa mendapatkan tas cantik berisi snack dan minuman. hal ini seperti apa yang menimpa sepupu saya kemarin, dia tidak termasuk daftar tamu undangan karena mungkin rumahnya jauh, dan awalnya ia hanya menonton dari luar bersama teman-temannya yang juga tidak mendapat undangan, namun saat ia melihat ibu saya yang menggendong adik saya datang ke pesta ulang tahun tersebut, ia langsung pulang dan menangis pada ibunya, dan memaksa ingin diantar ke pesta ulang tahun tersebut, namun sang ibu yang merupakan bibi saya keukeuh tidak mau.  what an unlucky little girl, right?

Tapi, terlepas dari dampak negatif yang ditimbulkannya, perayaan ulang tahun sebenarnya punya banyak dampak positif di sisi yang lain. adik saya pernah bercerita, bahwasannya keluarga sahabatnya di Pondok memiliki tradisi mengulangtahunkan anak-anaknya saat mereka berumur 10 tahun atau saat mereka duduk di bangku kelas 4 SD dan itupun hanya sekali seumur hidup. menurut sahabatnya itu, saat ia melihat kakaknya dulangtahunkan pada umur 10 tahun, ia yang masih kecil tidak sabaran ingin cepat-cepat berumur 10 tahun dan diulangtahunkan, maka dalam proses mununggu waktu ulang tahun ke 10 itu tiba, ia pelan-pelan belajar bersikap dewasa dan tidak manja lagi. 

Bagi saya, tradisi keluarga sahabat adik saya ini, lebih  memiliki dampak positif  daripada tradisi ulang tahun yang setiap tahun dilakukan. pertama, tradisi pesta ulang tahun yang setiap tahun dilakukan, akan menanamkan sikap manja pada anak, sedangkan jika hanya satu kali saat mereka berusia di ambang masa atau saat masa remaja, itu akan semakin mematangkan proses pendewasaan mereka. walaupun tentu saja perayaan ulang tahun bukanlah sebuah jaminan seorang anak akan tumbuh lebih dewasa. namun satu hal, apapun alasan di belakangnya, apapun dampak positif dan negatifnya sebuah perayaan ulang tahun, baik itu yang islami atau yang pure sebuah party, atau juga yang hanya berupa acara traktiran minum es cendol,  yang terpenting adalah tradisi berbaginya yang tidak boleh dilewatkan, berbagi apa? tentu saja berbagi kebahagiaan dan cinta bersama keluarga, sahabat, dan teman-teman yang kita cintai. seperti yang rutin dilakukan oleh sahabat saya saat ia berulang tahun, ayahnya selalu mengadakan acara sawer uang pada tetangga-tetangganya disekitar rumahnya, and it really so fun.  anda setuju???

Senin, 06 Juni 2011

SEBUAH PELAJARAN DARI PASAR MALAM

Dari kejauhan, lampu-lampu itu terlihat seperti kunang-kunang yang terbang bergerombol, berkedip-kedip menghiasi hampir seluruh lapangan bola yang berada tepat di depan masjid Baiturrahim kecamatan Sajira. Senja memang baru saja turun ke bumi, adzan magrib juga baru selesai dikumandangkan oleh sang muadzin dari speaker masjid. Tetapi, orang-orang yang berdatangan menuju pasar malam itu, jauh lebih banyak dari pada yang memasuki masjid untuk melaksakan sholat.  ironis memang, mengingat kampung Sajira ini hampir seluruh warganya beragama islam, tetapi itulah realita yang terjadi sekarang. Tapi, baiklah, kita berhusnudzon saja, mungkin orang-orang yang menuju pasar malam itu sudah lebih dahulu menunaikan shalatnya di rumah masing-masing.
Pasar malam ini memang baru saja dibuka, setelah tiga hari yang lalu para pekerjanya yang mayoritas berdarah jawa, sibuk memasang peralatan-peralatan, tiang-tiang penyangga, juga lampu-lampu sebabagai penerang sekaligus penghiasnya.
Pasar malam yang diadakan oleh Sido Makmur ini, mambuka lima wahana atau permainan, yaitu; komedi putar yang biasanya diminati oleh anak-anak berusia sekitar tiga sampai tujuh tahun, kincir angin atau yang bernama populer bianglala. Ombak banyu, kereta-kerataan, dan sirkus motor cross yang berjalan di atas seutas tali sambil mengelilingi papan yang membatasinya.
 Satu lembar tiket untuk setiap wahana tersebut berharga empar ribu rupiah per orang. Lumayan ekonomis dan terjangkau oleh kocek masyarakat sekitar.walaupun ada beberapa orang tua yang mengeluh karena semua anaknya yang meminta untuk naik semua permainan yang ada di pasar malam itu. Tapi tentunya hal itu tidak terlalu menjadi ganjalan demi menyenangkan anak-anak tercinta,dan melihat tawa bahagia mereka keeeetika menaiki wahana.
Beranjak dari antusiasme masyarakat sekitar menyambut pasar malam itu, tidak ada salahnya jika kita “menengok”para pekerja yang menjalankan wahana-wahana tersebut.
Malam itu adalah malam minggu, dan tentu saja yang lebih banyak datang ke sana adalah para muda-mudi yang masih belia. Wahana faforit para remaja itu adalah ombak banyu yang diputar oleh tiga pekerja lelaki yang juga masih muda dengan cara memutarkannya layaknya ombak.
Setelah semua tempat duduk terisi penuh, seorang laki-laki berperawakan sedang  berbadan tegap dan atletis, mulai memutarkan ombak banyu itu, dibantu dengan dua temannya yang terlihat lebih muda darinya. Musik rapp dinyalakan, putaran ombak banyu itu semakin cepat, meliuk-meliuk seperti ombak, para  penumpang perempuan  mulai menjerit histeris, takut bercampur senang ketika jantung   mereka seperti diajak naik turun. Sedangkan para penumpang laki-laki, bahkan tertawa-tawa riang tanpa sedikitpun berpegangan.
 Pemuda berdada bidang yang memakai kaos putih itu mulai memperlihatkan aksinya. Ia  tiba-tiba melompat memegang salah satu tiang yang menggantung bangku kayu itu, dan dengan posisi kepala di bawah, ia menaikkan kakinya ke atas sambil menggerak-gerakkannya mengikuti alunan musik rapp yang menghentak-hentak. Beberapa  penumpang  sontak menjerit kaget dan histeris karena ngeri melihatnya, tapi ia sendiri malah tersenyum-senyum senang dengan mulut yang bergerak-gerak menyanyikan lagu rapp itu.
Beberapa detik kemudian, ia turun dan berdiri di tengah-tengah, dengan kedua kakinya yang masih dihentak-hentakkan mengikuti musik. Ia kemudian menenggak botol aqua yang berisi air yang ada di sampingnya, dan mengelap keringat yang bercucuran di pelipisnya dengan tangan kanannya. Setelah itu ia meminta para muda-mudi yang naik ombak banyu itu untuk berteriak senang, melepaskan semua beban yang terpendam.

Malam semakin larut, pera pengnujungpun satu demi satu mulai meninggalkan pasar malam tersebut dan pulang ke rumahnya masing-masing. Dan pemuda itupun juga mulai terlihat kelelahan karena harus memutar ombak banyu dengan kedua tangganya. Tetapi matanya yang terus berbinar dan senyumnya  yang terus mengembang, mengisyaratkan bahwa ia tidak mengeluh sedikitpun, tetapi sebaliknya ia malah sangat mencintai pekerjaannya itu, walupun mungkin di mata sebagian besar orang, profesinya sebagai pemutar wahana ombak banyu, tidak memiliki prestise apa-apa, apalagi mengahasilkan uang yang banyak untuk menebalkan dompetnya.
Tetapi, ia tetap menghayati profesinya itu,dan bekerja dengan hati yang terbuka, menghibur setiap orang dengan aksi sirkusnya dan membuat mereka senang hingga tersenyum dan tertawa bahagia.
Sudahkah kita mencintai pekerjaan kita seperti halnya pemuda itu???


                                                                                   
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              

Senin, 09 Mei 2011

“COGITO ERGO SUM” VS “WHAT’S ON YOUR MIND?”


Beberapa waktu lalu, seorang teman menulis status di akun facebooknya seperti ini, What's on your mind". Buat apa kamu tau apa yg saya pikirkan? memang kamu bisa kasih solusi kalo yg di pikiran saya itu suatu masalah? Malah saya jadi kasian ama kamu, dengan pertanyaan "what's on your mind" itu, kamu jadi bulan2an pelampiasan kekesalan bagi yg ada di pikirannya sebuah kekesalan. *jgn berpikiran "pedas", saya cuman melampiaskan "iseng" saya karena pertanyaan "what's on your mind" :D (taken from n’uyunk kholidatunnur status) sungguh status yang dalem banget dan jujur sekali, but its really the fact.

Setelah saya membaca status teman saya tersebut saya hanya menklik tombol menyukai dan tidak meninggalkan kommen apa-apa, tapi dari situ benak saya tidak henti2nya berfikir dan menyetujui apa yang telah ditulis oleh teman saya itu.”what’s on your mind?....what’s on your mind?...” sampai saya teringat pada pengalaman pertama saya ketika berkenalan dengan yang namanya “facebook” ini. Waktu itu saya sempat merasa bingung ketika setelah melakukan pendaftaran dan ditanya “what’s on your mind?” atau tepatnya diminta untuk menuliskan apa yang ada dalam fikiran saya, karena waktu itu saya menterjemhakan secara harfiahnya seperti itu, dan saya tidak menuliskan apa-apa di sana saking bingungnya, lalu saya sign out  tanpa menuliskan sepatah katapun apa yang ada dalam fikiran saya.
Beberapa waktu setelah itu, saya baru tahu dari teman-teman, kalau kolom “what’s on your mind” tersebut adalah untuk menuliskan status kita di sana, seperti apa yang kita sedang lakukan, rasakan, harapkan atau luapkan atau  apa saja.  Intinya  apapun boleh kita tulis di sana, dan sejak saat itu sayapun mulai rajin menuliskan status, apalagi ketika Hp saya yang baru dilengkapi dengan fitur internetnya, saya semakin ketagihan untuk berfacebook ria, menuliskan apa saja dan semangat sekali setiap menjawab pertanyaan “what’s on your mind?”.
Jika saya sedang merasa bahagia, maka isi statusnya pun meluap-luap menunjukkan kebahagian, begitu juga sebaliknya jika saya sedang sedih maka sayapun memilih kata-kata yang melo dan sendu untuk menunjukkan kesedihan saya, saya juga tak jarang menuliskan doa-doa dan harapan saya pada Allah, walaupun seorang teman pernah berguyon ...” memangnya Allah buka facebook...?” he,,,
Tapi, semakin kesini, ketika saya sudah berhapan dengan layar komputer dengan page home facebook saya yang bersiap-siap untuk ditulisi, saya malah merasa bingung untuk menuliskan apa, maka jadilah saya berselancar ria menengok status teman-teman saya yang ada di home page dan saya menemukan banyak sekali keunikan di sana. Hampir setiap orang memiliki ciri khasnya masing-masing dalam menuliskan statusnya. Ada seorang teman yang selalu menuliskan frasa-frasa menggantung, indah, puitis dan exotis itu karena dia memang kuliah di fakultas sastra indonesia seperti,

biarkan jiwa itu menemukan jiwa’a...” atau “mengapa mawar itu, hanya dari durinya saja. Sedangkan di kelopaknya menyembul putik indah merekah...”(taken from yollanda oktafitri status) indah nian bukan?

Selain yang indah dan puitis, ada juga yang selalu menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an, Hadist-Hadist Rosulullah, nasehat-nasehat, itu karena dia seorang aktifis da’wah. Seperti status di bawah ini,

“Jika tdk mau taat pd Allah, carilah tempat tinggal selain bumi ciptaan-Nya. Jika tdk mau bersyukur pd Allah, carilah makanan, udara selain ciptaan-Nya. Jika tdk takut berbuat dosa pada Allah, carilah tempat yang tidak bisa dilihat-Nya” (taken from bang raihan al-biruni status) status yang dahsyat sekali bukan? Dan tentunya status yang bernada luapan kemarahan dan kekesalan dalam bentuk kata-kata yang tidak terkontrol juga tidak sedikit menghiasi wall- wall facebook setiap harinya bahkan setiap detiknya. Dan untuk saat ini hal itu masih dianggap sah-sah saja selama orang tersebut tidak menyebutkan nama orang yang menjadi sasaran kemarahannya itu jika ia sedang marah dan kesal dengan seseorang. Karena saya pribadipun pernah melakukan hal yang sama, menuliskan kata-kata yang kurang sopan dan tidak terkontrol akibat kesal dengan seseorang.

 Sampai keesokan harinya teman saya bertanya ‘ada apa? Sedang ada masalahkah?’ saya menjawab ‘tidak ada’ dia bertanya lagi ‘ tapi kok statusnya seperti itu kemarin? (marah2 dg berkata yang kurang terkontrol)’ saya jawab ‘biasa lagi kesel, emang ada yang salah?’ saya balik tanya padanya, dia menjawab ‘ya gak salah, tapi apa kamu tidak tahu kalau kata-kata yang kamu tulis itu akan memantul kembali pada diri kamu dan menjadi doa untuk kamu?’ saya menggelengkan kepala, karena tidak mengerti atas kata-katanya itu. Kemudian diapun menjelaskan, bahwa kata-kata yang kita tulis di facebook, itu akan dibaca oleh banyak orang, dan ketika mereka membacanya mereka akan segera tahu kalau kita sedang dalam keadaan badmood misalnya, lalu muncullah komentar seperti ini misalnya ‘oh...si ...A lagi kesel toh...’ dan lain sebagainya yang bernada sama dan mengamini apa yang kita rasakan, dengan cara seperti itulah kata-kata yang kita tulis di facebook memantul kepada diri kita kembali.
Maka bisa dibayangkan jika yang membaca dan berkomentar seperti itu lebih dari 20 orang misalnya, apa dampak negatifnya? Tentu saja kita akan selalu berada dalam suasana yang penuh kekuatan negatif. Beda halnya jika yang kita tulis itu adalah kata-kata positif, indah, penuh motivasi, optimis, rasa syukur, maka otomatis orang-orang yang membacanyapun akan kecipratan dampak positifnya. Bahkan akan lebih baik lagi jika kata-kata yang kita tulis dapat menginspirasi orang banyak seperti status-statusnya pak. Mario Teguh yang selalu super, Arifin Ilham dan Syafi’i Antonio yang selalu bijak dan menyejukkan.

  Sampai disini, kita tentu dapat mengambil kesimpulan betapa dahsyatnya kekuatan kata-kata dan betapa besarnya ia mempengaruhi  psikologis orang yang membacanya. Begitu juga dengan apa yang kita tulis di status FB kita, tentu memiliki pengaruh yang sangat besar bagi yang membacanya.  Dengan demikian terampil dan berhati-hati dalam memilih kata untuk status kita sangat diperlukan. Tidak perlu kata-kata yang indah nan puitis, jika memang  kita tidak mampu, setidaknya kata-kata yang kita tulis adalah kata-kata yang baik dan membawa kebaikan.

  Pertanyaannya adalah, apa hubungannya kata-kata yang baik, what’s on your mind? Dengan pepatah latin yang dicetuskan oleh Descartess Cogito Ergo Sum? Mari kita uraikan satu-satu disini.

   Jika menilik kepada arti harfiahnya, cogito ergo sum, memiliki arti ‘aku berfikir maka aku ada’.walaupun maksud sebenarnya dari kalimat Descartess itu adalah bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang sendiri, keberadaan di sini bisa dibuktikan dengan fakta bahwa ia bisa berfikir sendiri. Begitu apa yang terukir di wikipedia. Tetapi di sini kita tidak hendak membahas maksud/makna sebenarnya dari ungkapan Descartess itu, kita hanya akan membahas arti harfiahnya dan hubungannya dengan mesin penghubung manusia bernama facebook yang setiap detik tidak alfa bertanya ‘whats on your mind?’.

   ‘cogito ergo sum’ ‘aku berfikir maka aku ada’, ‘what’s on your mind?’ ‘apa yang ada dalam fikiranmu?’ bacalah berulang-ulang! Apakah anda menemukan benang merahnya?

   Yups, Pertanyaan ‘what’s on your mind?’ atau apa yang ada dalam fikiranmu, secara harfiah mengundang kita untuk selalu berfikir, ya berfikir..., berfikir apa saja, berfikir apa yang kita lihat di sekeliling kita, berfikir tentang apa yang kita dengar, apa yang kita baca dalam keseharian kita, dan tentu saja pengalaman yang kita alami dan rasakan setiap harinya baik yang baik, yang buruk, membahagiakan, sampai yang mengharukan. Berfikir apa hikmah di balik semua peristiwa?berfikir apa yang mesti dilakukan untuk masa depan, dan tentu saja berfikir tentang kata apa yang harus kita tulis di kolomnya agar dapat selalu memberi angin positif untuk diri kita sendiri dan juga orang lain.
Sedangkan ‘cogito ergo sum’ yang secara harfiah berarti aku berfikir maka aku ada, tidakkah kita berfikir bahwa ketika kita menuliskan status di facebook dengan menjawab pertanyaan ‘what’s on your mind?’ bahwa kita telah ‘ada’ atau bahasa kerennya, telah ‘exist’?. Maksudnya, ketika kita menuliskan status kita tentang apapun itu, menandakan bahwa kita telah exist, telah ada, maka keberadaan kita ditandai dengan status kita tersebut. Bukankah jika kita saat ini kita tidak memiliki akun facebook misalnya, maka serta merta teman kita akan men cap kita tidak gaul lah, atau tidak exist. Begitu juga ketika kita tidak menulis status apapun di fb selama beberapa bulan misalnya, maka teman kita setidaknya pasti ada yang bertanya ‘kemana aja? Kok jarang muncul di fb? (gak exist).

Maka, benang merah dari kedua frasa tersebut adalah ‘eksistensi’ atau keberadaan kita yang bersemuber dari fikiran kita, atau apa yang kita fikirkan. Simplenya, jika apa yang kita fikirkan kemudian kita tuangkan dalam fb adalah tentang hal-hal yang negatif, maka keberadaan kitapun akan dianggap negatif, begitu juga sebaliknya. Jika apa yang kita fikirkan kemudian kita tumpahkan baik di fb, twitter, ataupun blog adalah sesuatu yang membawa dampak positif bahkan menginspirasi banyak orang, maka keberadaan kita akan dianggap sebagai pembawa angin kesejukan dan kebaikan. Wallahu A’alam bishowab...

Apa pun itu, semua kata-kata dalam notes ini hanya sebuah masukan, yang mudah2n bermanfa’at.   
Finnaly? What’s on your mind??? Hopely, the answer is about the kindness & goodness. Amiin...

Salam hangat.
Etha.

(thanks to uyunk, statusmu udah menginspirasiku menulis notes ini, lanjutkan menulis status2 yang unik dan menginspirasi! Hatur nuhun juga to Yollan, e selalu menyukai status2 mu yang indah dan puitis, calon sastrawan masa depan from lebak...euy...he..., juga makasih banyak to bang raihan, lanjutkan selalu menuliskan status2 yang mengingatkan pada kebaikan. tak terkecuali to maul, syukron katsiron udah pernah memberi pencerahan ttg status yang kita tulis di fb.