Tampilkan postingan dengan label GALAU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GALAU. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 September 2013

siapa bilang jadi guru itu mudah?


siapa bilang jadi guru itu mudah?

Jika ada yang bilang "ngapain jadi guru? gajinya kecil, apalagi guru honorer di sekolah swasta di daerah yang gajinya di tanggung oleh BOS doang yang keluarnya tiga bulan sekali bahkan enam bulan sekali untuk sekolah-sekolah di bawah naungan Kemenag."

jawabnya simpel, karena jadi guru itu sungguh pekerjaan mulia, teman, istimewa, dan tentu saja tidak mudah. 

jika ada yang menyanggah, "apa bener alasannya seklise itu? ingin menjadi pahlawan tanpa tanda jasakah di era matrealistis seperi sekarang ini?"

jawabnya tergantung, kawan, tergantung seberapa besar idealismemu untuk menjadi guru, profesi garda depan, ujung tombak pendidik penerus generasi bangsa. apakah idealismemu hanya seujng kuku, yang cuma ingin nampang doang di sekolah, tercatat di database PTK, memiliki NUPTK, dan berharap banyak pada pemerintah tahun-tahun depan kau di angkat menjadi PNS, ataukah idealismemu sebanyak darah yang mengalir di tubuhmu? atau sebanyak tarikan nafasmu, yang sudah menyatu lekat dalam jiwa raga, bahkan jika dunia ini hampir kiamat dan ibu-ibu muda sudah malas untuk melahirkan anak, kau masih akan tetap menjadi guru dengan semangat menggebu?

terlepas dari itu semua, kawan, percayalah padaku, bahwa sungguh, menjadi guru itu tidak mudah, mendidik dan mengajari anak-anak manusia yang memiliki  akal, hati, dan perasaan, juga keinginan yang berubah-berubah, serta latar belakang keluarga, ekonomi, dan sosial yang berbeda-beda. 

misalnya hari ini, si A bersemangat sekali belajar, selalu mengacungkan tangan setiap guru memberi pertanyaan, mendengarkan dengan baik setiap penjelasan, tidak bercakap dengan teman apalagi bercanda, belum tentu besok lusa ia memiliki semangat yang sama, sebagaimana halnya sebah benda hidup, yang selalu memiliki dinamika, apalagi benda hidup ini dibekali oleh perasaan, akal, dan jiwa, jadi jangan pernah mengganggap menjadi guru itu mudah, kawan!

maka, siapa saja yang menganggap bahwa menjadi guru itu mudah, di gaji kecilpun tidak apa-apa, apalagi yang protes habis-habisan saat profesi guru mendapat sedikit angin segar, mendapat tunjangan sertifikasi, tunjangan fungsional, tunjangan, akademi, dan lain-lain, bahkan bagi para pejabat yang sengaja menunda turunnya Dana Bos, menyulitkan proses pencairan tunjangan, malas mengurusi pengajuan NUPTK guru honorer baru, percayalah, Pak, Bu, menjadi guru itu sungguh tidak mudah.


Gambar diambil dari sini www.fotografer.net


Senin, 13 Mei 2013

Is Marriage a Competetition?


2013, Mei
1434, Jumadil akhir yang diberkahi,

seseorang berbisik dalam deras hujan mengguyur bumi, 

"Tuhan, 
apakah Pernikahan sebuah kompetisi?"

 2013, Mei
1434, Jumadil akhir yang diberkahi,
Rayya genap berumur seperapat abad, 25 tahun, berambut panjang, dengan wajah yang selalu berminyak dan berjerawat, dengan status yang belum berubah di E-KTP nya yang baru  "Single" atau lajang.

Hujan di awal Mei dan di penghujung Jumadil akhir ini selalu saja membuatnya tambah sengsara, apalagi kalau bukan karena undangan pernikahan yang bertumpuk berantakan di meja riasnya. 2 minggu lalu, Rita teman sekelasnya di kampus yang mengundang, mingggu kemarin, ada Yoga sahabat dekatnya yang datang jauh-jauh dari Luar kota hanya untuk memberi surat undangan ke rumahnya, 3 hari yang lalu Nita dan Kaila adik kelasnya di SMA bersamaan mengundangnya di hari yang sama, tadi siang, teman mengajarnya di sekolah, Bu Cita dan Pak Yayan membagikan surat undangan berwarna coklat muda, dan tadi sore, saat ia baru saja pulang dari menngajar Bimbel, tetangga dekatnya Rasmi juga mengundangnya agar bisa hadir di acara pernikahannya minggu depan.

"Ya Tuhan, kenapa semua orang memilih bulan2 ini untuk menikah?" tanyaanya dalam hati, "mmm... mungkin karena ini bulan 'bagus' atau diberkahi" jawabnya sendiri. 

sebenarnya, ia tidak masalah apakah semua teman2nya akan menikah kompak di bulan ini dan hanya menyisakan dirinya sendiri dengan jerawat imut yang tak pernah bosan nangkring di wajahnya yang sebenarnya manis itu, tidak masalah dengan umurnya yang sudah mencapai seperapat abad dan ia masih saja sendirian, tetapi...., entah kenapa, pertanyaan dari teman-temannya, tetangga-tetangganya, saudara-saudaranya, dan orang-orang yang mengenalnya, yang bunyinya selalu sama, seakan mereka kompak berkonspirasi menohoknya dengan 1 pertanyaan, "KAPAN NYUSUL SI A, KAPAN NYUSUL SI B? KOK KEDULUAN SEH AMA SI A?"

Tentu saja pertanyaan - pertanyaan itu tidak akan merisaukannya, tidak akan membuatnya susah tidur, dan tidak akan membuatnya bingung ketar ketir harus menjawab apa, jika saja ia seperti sahabatnya Sri yang sudah punya "calon" yang memang pasti menikahinya, atau minimal seperti Dian yang sudah punya gebetan. 

setelah putus dari mantannya hampir tahun lalu, bahkan kini sang mantan juga sudah menikah dengan orang lain, Rayya memang belum pernah menjalin hubungan spesial dengan siapapun. entah karena ia yang terlalu menutup diri, ataukah memang tidak ada hal lain yang menjadi daya tarik dari dirinya? sehingga hampir tidak ada laki-laki yang tertarik berkenalan dengannya dan kemudian berniat "serius" padanya. Entahlah...

"beep...beep....." Hpnya berbunyi , satu panggilan masuk  dari Tata, sahabatnya di kampus,
"hai met malem, Ray, Lo lagi ngapain?" 
"lagi ngelamun" jawab Rayya asal
"ngelamunin siapa? please deh jangan ngelamunin gue terus! ha.........ha....... 
Ray, doain gue yah! besok malam ada yang mau ngelamar gue, bukan Dimas, bukan Toni juga, tebak siapa? lo pasti kaget, Ray dengernya."
"serius Ta?" Rayya setengah tidak percaya
"Kak Sam" jawab Risna. 
Rayya seperti ingin lompat mendengarnya, jantungnya entah kenapa berdetak lebih kencang, 
"Kak Sam?" ia mengkonfirmasi dengan suara yang pelan.
"iya, Ray! lo gak nyangka kan? apalagi gue? hmmm... kalau jodoh emang gak kemana ya Ray?
ok, lo pasti masih inget kan, janji jita di bawah monas itu, siapa yang nikah duluan diantara kita dialah pemenangnya, dan dia berhak minta kado apa aja.......bla....bla.....bla....." 

Telpon masih berdenging, Tata masih dengan semangat menceritakan awal pertemuannya kembali dengan Kak Sam, tapi Rayya sudah tidak  memegang Handphone nya lagi. 

Nama itu, nama yang tadi disebutkan Tata dengan penuh cinta, juga pernah menghiasi hatinya
secret admiror,  ah.... ia sekarang menyadari satu hal, sampai kapanpun ia tidak akan pernah "menang", jika ia hanya menjadi seorang secret admiror, seorang pemuja rahasia bagi orang yang diam-diam ia kagumi, ia sukai.

"terus, KAPAN LO NYUSUL?masa LO KALAH MA GUE YANG TOMBOY INI SEH? HE.......just kidding beib..."

kata - kata  terakhir Tata, ah... ternyata ia juga sudah berkonspirasi dengan  teman-temannya, tetangga-tetangganya, saudara-saudaranya. 

"Tuhan, apakah pernikahan sebuh kompetisi?" 
Rayya bertanya  lirih.

di luar jendela,  hujan deras mengguyur bumi,

2013, Mei
1434, Jumadil Akhir yang diberkahi.



(gambar di ambil dari sini:http://www.gempak.org/forum/238-berita-luar-negara/103887-berlari-dengan-pakaian-pengantin.html)
  

Kamis, 26 April 2012

DAN MONSTER ITU BERNAMA UN

"semua ini HARUS diakhiri!!!"
kataku mengumpat

"tidak mungkin, kita tidak mungkin bisa mengakhirinya!"
ujarmu.

"mengapa?"

"entahlah, aku sendiri tak tahu mengapa" 
jawabmu lesu

"lalu, di manakah nurani kita?"
 tanyaku dengan suara tertahan

"mungkin, ia sudah pergi" 
matamu menerawang jauh ke batas bukit itu.

"arghhhhh.... omong kosong dengan semua sistem ini, omong kosong dengan STANDARISASI!"
aku berteriak membuat takut burung - burung gereja yang tadi berkerumun di lapang itu. 

"tidak tahukah MEREKA? betapa bulshitnya STANDARISASI itu??? mencoba menyamaratakan HASIL dari PROSES yang berbeda-beda?" 

 "percuma saja kau berteriak disini! apakah MEREKA mendengarnya? kalaupun mereka kebetulan mendengarnya, apakah mereka akan mempedulikanmu? hei...bercerminlah! siapa dirimu?"
katamu.

"aku tak peduli, aku sungguh tak peduli, kawan" 
aku terduduk, bersimpuh di atas tanah yang merah.

"menurutku, bukan salah MEREKA juga, sobat!" 

"lalu? salah siapa??? 
aku mendelik demi mendengar ucapanmu.



"entahlah, namun bukankah dulu, saat bapak-bapak dan ibu-ibu kita sekolah, KETIDAKLULUSAN juga sudah pernah dan sering menimpa beberapa teman bahkan diri mereka? tapi apakah kemudian mereka mencari baigon ataupun seutas tali untuk mengakhiri segalanya? tidak bukan? TIDAK LULUS bukanlah akhir dari segalanya bagi mereka, walaupun tentu saja mereka juga bersedih hati dan menangis."

"kau betul, sobat, lalu mengapa adik-adik kita, anak-anak didik kita, bahkan kita sendiri saat ini merasa begitu takut jika TIDAK LULUS UJIAN NASIONAL?? lalu berbagai cara kita lakukan agar anak didik kita dapat mengalahkan MONSTER paling menakutkan yang bernama UN itu dengan mudah, tidak peduli apakah cara itu menodai nurani kita, tidak peduli apakah cara itu akan dan pasti menumbuhkan benih-benih ketidakjujuran yang siap dituai buahnya esok hari, kita tidak peduli, karena mungkin kita sendiri telah melupakan bahwa janji masa depan yang lebih baik itu tidak akan pernah datang dengan idealisme dan kejujuran, dan bahwa TUJUAN AKHIR dari proses TIGA tahun atau ENAM tahun yang singkat itu HANYALAH SELEMBAR KERTAS YANG MEWARTAKAN ANAK DIDIK KITA LULUS UJIAN NASIONAL, selebihnya? kita tidak peduli."

"dan tentu saja, itu semua dilakukan hanya karena kita tak ingin nama anak-anak didik atau sekolah tempat kita mengabdi, juga daerah tempat kita menghirup udara selama ini TIBA-TIBA TERPAMPANG JELAS dalam HEADLINE KORAN atau menjadi BERITA HANGAT DI PEMBERITAAN-PEMBERITAAN LOKAL MAUPUN SWASTA sebagai TOKOH UTAMA yang TIDAK LULUS UN" 
katamu menambahkan. 

"hanya sesederhana itu sebenarnya akar masalahnya, tapi kita membuatnya seolah-olah besok adalah hari kiamat" 
ujarmu lagi. aku menekuri tanah, diam tak berkata-kata lagi, namun aku mengiyakan sepenuhnya kata-katamu.

"lalu apa yang harus kita lakukan?" aku kembali bersuara.
"entahlah! kalau kita pindah ke MARS, kau setuju?" katamu sambil tersenyum.

aku tak menjawab, tidak pula mengangukan kepala. 
namun beberapa detik, akhirnya kita tertawa lepas bersama-sama....

Jumat, 06 April 2012

INSTAN




Mungkin kita telah sepakat untuk melupakan "kata" itu dan menggantinya dengan sebuah "kata" baru yang lebih terdengar modern, 'instan"

Saat pagi datang dan kita masih malas untuk beranjak dari tempat tidur, seraya membayangkan betapa dinginnya air yang menyentuh pori-pori kita, saat itu juga ide itu datang, "kenapa tidak menyalakan water heater saja?" maka kita tidak akan terlambat pergi ke tempat kerja karena harus menunda mandi pagi atau memasak air panas dulu di kompor. dan pagi yang dingin itu, telah kita taklukan dengan hanya memencet tombol merah di mesin pemanas air di kamar mandi, mudah bukan? dan tentu saja menghemat waktu.

Saat jam makan siang tiba dan perut kita keroncongan meminta diisi, kita segera menekan beberapa digit nomor di handphone, memesan makanan kesukaan di restoran fastfood, dan tidak sampai setengah jam, pesanan kita sudah ada di meja untuk siap disantap. mudah bukan? dan tentu saja menghemat waktu dan tenaga. 

Saat sore tiba, sambil sejenak melepas penat dan lelah setelah seharian bekerja, kita membaringkan badan di atas kasur, membuka-buka blackberry dan langsung BBM-an, menyapa teman2 lama secara online, tanpa  harus dandan yang  rapih dan keluar ongkos, silaturahim online itu ternyata mudah, murah, dan sangat praktis bukan? dan sekali lagi kita semakin dimanjakan oleh kecanggihan teknologi. kitapun tersenyum penuh kemenangan, seakan dunia sudah ada dalam genggaman. 

Mungkin kita telah sepakat untuk melupakan "kata" itu dan menggantinya dengan sebuah "kata" baru yang lebih terdengar modern, 'instan"
Saat adik kecil kita atau anak kita menangis ingin dibelikan mainan, kita akan langsung membawanya ke toko mainan, walaupun setengah jam sebelumnya, kita telah berbusa-busa ceramah tentang apa bagusnya mainan baru itu? toh mainan yang lama masih dapat digunakan, namun kita mengalah dan dengan berat hati membawa mereka ke toko mainan terdekat, lalu menyuruh mereka memilih mainan yang mereka inginkan, setelah itu pulang sambil menjinjing kantong plastik yang berisi mainan, kadang dengan hati yang tetap dongkol karena uang jatah membeli beras harus terpakai dulu, namun tak jarang pula dengan senyum bahagia demi melihat binar mata bahagia di mata kecil mereka. namun yang terpenting, mereka berhenti menangis dan merajuk, maka masalah selesai. 

Saat kita ingin menyeduh secangkir kopi atau segelas susu, menanak nasi, sekaligus juga makan dengan lauk yang instan (merebus mie), kita hanya perlu menyalakan tombol merah dispenser, lalu tombol merah rice cooker, kemudian menyalakan kompor gas, dan kemudian tinggal santai menunggu sambil tentu saja twiteran, atau fb-an, atau BBM-an. betapa mudahnya hidup. 

Saat kita sedang diburu deadline tugas sekolah ataupun kuliah, membuat makalah tentang anu, membuat laporan tentang anu, membuat kliping tentang anu, membuat puisi, membuat cerpen, maka kita akan bersegera ke warnet, mencarinya di mesin pencari daripada berlelah-lelah pergi ke perpus yang belum terjamin pula kelengkapanya, kemudian meng-copy paste-nya, mengetikkan nama kita di cover depannya, mem-print-nya, dan besok tinggal diserahkan ke guru atau dosen. betapa mudahnya belajar saat ini bukan?


Mungkin kita telah sepakat untuk melupakan "kata" itu dan menggantinya dengan sebuah "kata" baru yang lebih terdengar modern, 'instan"

Namun tentu saja, semua kemudahan yang kita dapatkan dari kecanggihan teknologi saat ini tidaklah murah, bahkan sangat mahal. 

Apakah "kata" instan yang kita bangga-banggakan itu telah menjamin pula kesehatan pencernaan kita? saat beragam makanan dan minuman instan masuk ke dalam perut kita?

Apakah kata instan yang kita elu-elukan itu telah menjamin pula  kokohnya tali persahabatan dan persaudaraan kita hanya dengan berkomunikasi  secara online? tanpa saling bertemu muka, bersua, berjabat tangan, dan berpelukan? 

Apakah kata instan yang kita agung-agungkan itu, telah menjamin pula kreatifitas dan imaginasi generasi penerus kita  yang tak akan pernah mati hanya oleh seonggok mainan dari plastik? 

Apakah kata instan yang kita puji-puji itu telah menjamin pula bahwa  ijazah, dan nilai-nilai dalam raport kita telah sesuai dengan kompetensi diri kita?

Entahlah. 
Namun, kita seakan tumbuh menjadi manusia-manusia yang serba ingin cepat, manusia-manusia yang seakan sedang dikejar sesuatu, manusia-manusia yang ingin selalu terburu-buru, manusia-manusia yang tidak sabaran, manusia-manusia yang anti menunggu lama, manusia-manusia yang perlahan tapi pasti mulai sepakat melupakan kata itu "proses", dan menggantinya dengan kata yang lebih modern "instan". 

Sekali lagi, entahlah.
Namun, bukankah kita juga pernah mendengarnya? sebuah nasihat tua nan bijak, "al'ajaltu minasyaiton... ketergesaan itu sebagian dari setan"? dan bukankah langit dan bumi yang kita tempati saat ini juga diciptakan dalam waktu 7 hari oleh Tuhan? bukan dalam satu malam dengan cara yang instan?

Sekali lagi, entahlah!!!

Minggu, 11 Maret 2012

Menulis

"kamu masih suka nulis, Ka?" tanya seorang teman ngajar waktu di TPQ lewat sms. 
"alhamdulillah masih, ka" jawabku. kebetulan dia memang beberapa semester di atasku. maka aku memanggilnya kakak. 


"Neng Eka, masih suka nulis nggak?" tanya uztadzahku saat aku bersilaturahim ke rumahnya yang mungil di pondok.
"masih ustazah" jawabku malu-malu. "tapi, nulis untuk sendiri aja" tambahku. 


"Gimana Eka, masih suka nulis sampe sekarang?" tanya seorang ustad saat aku berkunjung ke rumahnya beberapa minggu yang lalu. 
"itu, temen seangkatan kamu si ... udah nerbitin buku ya?" tambahnya lagi.
"oh iya, Tad, " hanya itu yang bisa aku jawab.


Dan beberapa hari yang lalu, saat aku chatingan dengan teman kuliah ia bertanya hal yang sama,
"....tapi masih suka nulis kan?"tanyanya di tengah-tengah obrolan kami. 
 aku menjawab, "masih donk, apalagi nulis diary"

"kau lihat? hampir semua orang yang pernah mengenalku, bertanya seperti itu saat kami bertemu kembali, dan kau juga lihat? jawabanku untuk pertanyaan-pertanyaan yang seragam itu adalah jawaban-jawaban yang klise, ngeles, dan sedikit tidak PD"

"tapi setidaknya, mereka tahu kalau kamu PERNAH punya bakat menulis" jawabmu sambil tersenyum.

"PERNAH???KATAMU?"  aku menimpali.

"IYA" jawabmu singkat.

"ya kau benar, kawan, aku memang PERNAH punya bakat menulis, aku PERNAH menjuarai berbagai lomba kepenulisan, aku juga PERNAH menjadi anggota salah satu organisasi kepenulisan, dan aku juga PERNAH bermimpi untuk jadi seorang penulis perempuan hebat seperti idolaku, ya..AKU MEMANG PERNAH"

"dan sekarang TIDAK LAGI" sambungmu tajam dan menohokku dengan sangat dalam.

aku terdiam dan perlahan mengangguk.

"tidak usah kecewa! aku beritahu satu hal, menulis itu bukan hanya ketika ada lomba dan kita bersemangat untuk jadi sang juara, bukan juga ketika ada proyek dengan fee yang lumayan, bahkan penulis yang sejati sesungguhnya tidak pernah bermimpi dan berniat bahwa ia ingin menjadi penulis hebat dan ternama, bukan"

"lalu apa?" tanyaku penasaran.

"penulis sejati adalah penulis yang benar-benar hanya ingin menulis sepanjang hidupnya, maka tulislah apa yang ingin kau tulis saat ini, tentang apa saja, dan jangan pernah peduli tulisanmu itu akan dibaca orang lain atau tidak!just write, write, and write!" 

"apakah kata-katamu ini hanya menghiburku atas  kepecundanganku selama ini?" tanyaku lirih.

kau tidak menjawab, dan hanya tersenyum. kemudian balik bertanya.

"apakah wajahku ini terlihat sebagai seseorang yang ingin bersahabat dengan seorang pecundang?"

aku lebih memilih diam dan membiarkan sunyi mengepung kami.

Selasa, 14 Februari 2012



"Ku lihat akun Fbmu deactive"
 sapamu tiba-tiba

Aku sengaja mengacuhkanmu dan terus menekuri hp jadulku  mengetik sesuatu.

"Hmmm... coklat itu terlihat begitu lezat! kamu tahu dimana aku bisa membelinya?"

Aku masih mengacuhkan pertanyaanmu.

"Hei lihat! boneka Teddy Bear yang diberikan laki-laki itu pada pacarnya lucu sekali ya?"

Reflek aku menoleh ke arah sepasang remaja yang sedang duduk di bangku pojok sana. Kamu benar, boneka itu memang lucu dan imut sekali. "betapa beruntungnya gadis itu" bisikku dalam hati.

"Memang hari ini tanggal berapa?"
kau kembali melontarkan pertanyaan.

aku menyerah, dan menjawab kesal "lihat saja di kalender!" 

beberapa detik berlalu dan,
"Oh pantas saja, kenapa sejak tadi kuperhatikan, nona manis di depanku ini terlihat murung, sedih dan kecewa, ha...ha...ha...!ternyata... "

"ternyata apa? tanyaku garang
"ternyata ada yang lagi sedih karena belum mendapat hadiah special hari ini. hi...hi...hi..." jawabmu sambil tertawa. aku langsung berdiri saat itu juga dan melenggang pergi dengan gondok di hati. 

"Hei! masa gitu aja marah?? aku kan bercanda, kawan"

aku masih memasang wajah cemberut.

"ok...ok... please forgive me, if my joke hurts your heart!!!"kamu meminta maaf.

"aku tidak marah, aku hanya kesal padamu" jawabku. 

"Ok, Vin, aku tahu kamu sedang sensitive dengan hal-hal yang berbau perasaan, aku ngerti kamu sedang kecewa, kamu sedang galau, kamu sedang patah hati, aku ngerti ,Vin, ngerti banget. tapi, sampai kapan kamu akan terus seperti ini? terus menerus kecewa, terus menerus menutup dirimu dari kenyataan, dan...tentu saja menonaktifkan akunFBmu, " 

Aku terdiam, membeku. menekuri gerimis yang mulai jatuh dari langit. 

"Vin, coba kau lihat pohon mangga itu! perhatikan pucuk-pucuknya!"

aku menurut, menoleh dan memperhatikan pucuk-pucuk daun mangga itu.

"Seperti daun, ada masanya ketika ia harus menguning, kecoklatan, kemudian tertiup angin dan jatuh ke tanah, namun tangkai yang ditinggalkannya SELALU dan PASTI menumbuhkan kuncup baru yang lebih muda, lebih indah,  dan seperti itulah CINTA. ada masanya saat ia memang harus pergi meninngalkan hatimu, namun percayalah akan datang cinta lain yang lebih indah, lebih berwarna, lebih membuatmu bahagia, kau percaya padaku, Vin?"

aku mengganguk dan tersenyum lembutmu. 

Jumat, 03 Februari 2012

"Pengajian"

"Sudah berapa lama  kau tidak  menginjakkan kaki di pengajian?"

Kau tiba-tiba datang dan mengajukan pertanyaan bodoh seperti itu padaku. aku tersenyum geli, dan meneruskan kembali bacaan. 

"Hei, kok malah tersenyum? apanya yang lucu?" 

Kau sedikit tersinggung. Maka, dengan sangat terpaksa aku membuka mulutku, melipat halaman buku yang sedang aku baca dan menoleh padamu. 

"Memang tidak ada yang lucu, sobat,  tapi aku hanya merasa sedikit geli. untuk apa pula kau tanyakan pertanyaan seperti itu padaku, bukankah kau juga sudah tahu kalau aku tidak pernah lagi pergi ke pengajian sejak lulus SD? dan sekarang, aku bahkan sudah lulus kuliah, jadi hitung saja sendiri berapa lama aku tidak menginjakan kakiku di pengajian, lagipula bukankah pengajian itu hanya untuk anak-anak seusia SD, juga ibu-ibu  dan bapak-bapak yang sudah tua renta, bukan untuk seusiaku yang masih muda belia seperti ini, iya nggak?he...he... " 

"hmmm...  pantas saja!" jawabmu sambil mencibir. 

"Maksudmu pantas saja gimana?" tanyaku penasaran. 

"Pantas saja, jika saat ini tidak terhitung pasangan-pasangan muda seusiamu bahkan yang dibawah usiamu  "menikah dini" gara-gara "accident", belum yang melakukan aborsi, yang sekarat karena Narkoba   juga sudah bukan ratusan lagi jumlahnya,  dan terakhir  yang menjadikan tawuran, mabuk2kan, ngobat,  dan bunuh diri  sebagai  penyelesaian atas setiap permasalahan, bahkan sebagai lifestyle, sudah ribuan bahkan jutaan jumlahnya. bukankah mereka juga sama sepertimu? menganggap bahwa pengajian itu adalah tempat untuk anak-anak kecil yang masih ingusan dan orang-orang tua yang sudah bau tanah?" 

"hei...hei...kenapa pembicaraanmu jadi ngaco seperti ini, kawan? janganlah kau bawa-bawa masalahku yang tidak pernah lagi ke pengajian ini dengan berbagai kenakalan anak muda itu! aku tidak terima disamakan dengan mereka!" protesku dengan air muka merah padam. 

"baiklah-baiklah! aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyamakanmu dengan mereka, hanya saja ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, dari banyaknya acara pengajian baik yang diadakan di  kampung  kita,  ataupun acara pengajian yang disiarkan oleh hampir stasiun TV setelah shubuh setiap harinya, hanya 1 : 1000 pengajian yang dihadiri oleh para remaja dan anak muda.bahkan, bisa dikatakan hampir tidak ada pengajian yang berbasis remaja  atau anak muda. dan aku berfikir, mungkin saja ini ada kaitannya dengan anggapan mereka seperti halnya anggapanmu bahwa pengajian itu hanya untuk orang-orang tua dan anak-anak kecil yang masih mengeja a ba ta tsa. menurutmu bagaimana, kawan?"

Aku terdiam tidak bisa menjawabnya, namun benakku membenarkan semua kata-katanya.

"Aha...! aku punya ide, bagaimana jika kau saja yang mengadakan pengajian khusus untuk remaja dan anak muda itu, kawan? bukankah kau ini lulusan pesantren? yah...sebagai permulaan kau bisa mencobanya dengan mengajak anak-anak muda dan remaja di sekitar sini. bagaimana? kau setuju dengan ide briliantku?" tanyamu berapi-api. 

Namun, tiba-tiba saja lidahku terasa kelu, Aku tidak bisa menjawab sepatah katapun. 
"ide kawanku ini memang sangat-sangat cemerlang, tapi entah kenapa "pengajian" seakan menjadi tempat yang sangat asing bagiku, jadi mana mungkin aku bisa membangun sebuah pengajian apalagi pengajian khusus remaja dan anak muda, lagipula, aku ini siapa? jangankan membentuk sebuah pengajian, sholat lima waktu saja aku masih malas-malasan." kataku pesimis.  

"aku tahu kau pesimis, kawan, namun aku akan berdoa agar Tuhan menggantikan rasa pesimismu itu dengan rasa optimis yang menyala-nyala" kau berkata dengan sangat bijak. 

Di luar jendela, gerimis masih turun dengan hikmat, aku mengamini doa kecilnya dalam hati.

Minggu, 22 Januari 2012

"Dua Tembok Ratapan paling besar di dunia"


"Apakah yang paling membuatmu merasa lega dalam hidup yang ingar ini?"
kau bertanya dengan pelan, menyeruput kopi kesukaanmu dengan tenang. 
Ku jawab dengan mantap,
"Saat ada seseorang yang bersedia menjadi "tong sampah" atas segala keluh kesah dan ratapan hati kita".
kau tersenyum, 
"Jika tidak ada?"
"Maka hidup akan seperti berasa di neraka."
kau tertawa, terbahak, sampai tubuhmu terguncang-guncang.
"Ha...ha...ha...yang benar saja! memangnya kau pernah pergi ke neraka? lagipula, bukankah saat ini kita sudah tidak butuh lagi seseorang yang bersedia untuk menjadi "tong sampah" untuk keluh kesah kita?"
"Maksudmu?" aku mengernyitkan dahi, tidak paham. 
kau malah tersenyum, menyeruput kembali kopimu yang tadi sempat tertunda saat kau tertawa mendengar jawaban polosku. 
"Coba saja lihat akun Facebookmu, atau akun twittermu, apa saja yang sudah kau tumpahkan di sana? keluh kesah dan ratapan bukan?juga rasa kecewa, kesal, bahkan benci atas sesuatu, dan...hanya sedikit sekali tentang sesuatu yang mengungkapkan rasa syukur atau kebahagiaan," 
Aku hanya terdiam, mendengar semua ocehannya itu, ingin berteriak tidak terima, namun hati kecilku diam-diam membenarkan setiap baris kata-katanya. 
"Yups, Facebook dan Twitter, adalah dua tembok  ratapan paling besar di dunia saat ini,* jadi, untuk apa kita masih membutuhan "seseorang" yang bersedia menjadi "tong sampah" atas keluh kesah kita? karena saat ini, ketika kita merasa sedih, galau, kecewa, kesal, dan butuh untuk didengarkan, kita hanya tinggal buka akun FB atau Twitter kita, menuliskan status yang mewakili perasaan kita, entah itu sebuah umpatan, ratapan ataupun kegalauan, kemudian tinggal meng-klik publish, tak kurang dari 1 menit, "sampah-sampah" yang kita tumpahkan itu telah terbuang ke "tong sampah" yang bahkan tidak lagi berbentuk sebesar keranjang sampah, namun sudah membentuk "tembok besar" yang dapat dibaca oleh ribuan, jutaan bahkan milyaran manusia tanpa mengenal batasan waktu dan tempat. dan jika beruntung, dalam beberapa menit atau jam kemudian, beberapa orang temanmu atau kenalanmu akan memberikan komentar atau juga sedikit simpati, dan jika kau sedang tidak beruntung, maka statusmu itu benar2 akan menjadi sampah yang tidak berguna sama sekali. karena tidak dikomentari, atau tidak mendapat simpati dari siapapun. mengenaskan bukan?" 
aku sudah benar-benar kehilangan selera untuk menghabiskan sisa kopi moccaku yang baru tandas seperempat gelas, kulirik kembali status yang baru saja aku publish beberapa menit lalu, di akun FBku, sebuah puisi yang terdiri hanya dari empat baris, puisi tentang kegalauan hati, atau lebih tepatnya sebuah ratapan hati,
aih..., tiba-tiba saja aku jadi merasa menjadi seorang badut yang beratraksi di sebuah ruangan yang sunyi,
tak ada tepuk tangan, ataupun sorak sorai. dan semua ini benar2 menggelikan.
oh...tidak!bukan menggelikan, tapi mengenaskan.
ada getir yang terasa merembesi hati.

"Hei, kok malah melamun? tenang saja, aku akan selalu siap menjadi "tong sampahmu" kapanpun kau membutuhkan, gratis, dan semua sampahmu akan aku simpan dengan sangat rapih di sini, kau percaya?"
kau tersenyum dan menunjukkan jari-jari tangganmu ke sebelah kiri dadamu.

"Tentu saja, tidak ada yang lebih membahagiakan selain memiliki "tong sampah" yang bisa tersenyum dan tertawa sepertimu". jawabku bahagia. ^ _ ^


*thanks to Kang Fahd Djibran, atas quotenya di catatan "kecepatan", it's really inspires me to write this little note. : )


Sabtu, 21 Januari 2012

episode galau

what must i say?
when the fact
is really breaks my heart??



could you tell me???

Sabtu, 22 Oktober 2011

"Oo...
jadi...
karena itu,
tidak ada lagi kabar darimu?
hmm...
sudahlah,
ini semua juga karena salahku

salahku?
benarkah?
bukankah kau yang memulai semua ini lebih dahulu?
maaf,
bukan aku menyalahkanmu,
aku hanya..."

dan... setitik air mata jatuh dipipinya yang merah.
"Tuhan, adakah yang lebih indah dari kehendakMu? dari rencanaMu?" bisiknya dalam hati dengan sangat pelan. dan... setitik lagi buliran bening itu jatuh dari kelopak matanya.

Saat "Undangan" itu Datang...

Saya selalu merasa resah setiap kali mendapat undangan. undangan apapun. undangan kumpul bareng alumni, undangan rapat di organisasi, undangan bacakan, terlebih undangan pernikahan dari sahabat ataupun teman. (saya kapan nyebar?) he....
Resah, karena takut pada hari H saya tidak bisa datang mengahadiri undangan tersebut. karena bagi saya, sebuah undangan adalah seperti halnya sebuah panggilan yang jika kita tidak berudzur apapun, kita wajib untuk memenuhi panggilan atau undangan itu. Makanya, kenapa saya selalu sedikit menyesalkan, jika seorang teman mengundang ke acara walimatul 'ursynya pada hari-hari kerja atau bukan pada akhir minggu, ditambah dengan lokasi yang sangat jauh dan sulit dijangkau. karena hampir 80% saya tidak akan bisa datang menghadiri undangan tersebut. dan akhirnya, saya akan merasa sangat bersalah karena tidak bisa memenuhi undangan tersebut. apalagi jika yang mengundang  itu adalah sahabat dekat yang telah mengundang secara langsung tanpa perantara. 

Dan, 3 hari yang lalu, saya dan  keluarga (bapak, ibu, adik pertama saya) mendapat undangan dari KPU, anda tentu tahu undangan macam apa yang berasal dari KPU itu, bukan? yupz, sebuah undangan untuk memilih Pemimpin baru di Provinsi tercinta ini.  saya kembali merasa resah, ketika mendapatkan undangan itu, bahkan dari jauh-jauh hari sebelum undangan tersebut benar2 datang atas nama saya. saya resah, bukan karena saya takut tidak bisa datang memenuhi undangan tersebut, toh jarak rumah saya ke tempat pemilihan suara PilGub itu hanya memakan waktu tidak lebih dari 10 menit. saya resah, justru karena saya mendapatkan undangan tersebut. andai boleh memilih, saya lebih baik tidak mendapatkan undangan tersebut, atau kalaupun saya tetap harus mendapatkannya, saya berudzur untuk datang seperti halnya adik saya yang saat ini tinggal di pondok. pertanyaannya, kenapa saya resah??? hei...bukankah ini bukan kali pertama saya mendapatkan undangan khusus tersebut?

Dan jawabnya, karena saya masih belum tahu saya harus memilih siapa di TPS nanti, dari ke3 calon yang bannernya sudah terpampang entah dari bulan apa itu, saya masih belum yakin siapakah nanti yang akan memimpin Banten dengan amanah. selain itu, dari ke3 pasangan calon tersebut, ada satu calon, yang benar2 sudah saya black list dari daftar Pemimpin yang amanah, karena kinerjanya yang menurut pengamatan saya tidak bagus selama 2 periode ia memimpinpun.

Maka, saya resah, karena diam-diam...saya juga sudah merasa muak pada pesta demokrasi ini. berapa milyar uang negara yang dihabiskan untuk membiayai pemilihan langsung para calon pemimpin ini? jawabnya tidak terhingga. dan uang rakyat yang habis tidak terhingga itu,  terasa sangat sia-sia, karena para pemimpin yang dihasilkan dari pesta demokrasi ini  banyak yang  kemudian "amnesia" terhadap janji-janji yang mereka koar-koarkan ketika masa kampanye. dan akhirnya, bukan kesejahteraan rakyat yang dicapai, tapi kesejahteraan pribadi dan golongan.

Kembali ke undangan untuk memilih calGub yang jatuh tepat pada hari ini, di satu sisi, saya tidak mungkin mengarang2 udzur untuk tidak memenuhi undangan itu, sebenarnya saya bisa saja dengan sengaja tidak datang ke TPS untuk nyoblos, tapi seperti yang saya katakan tadi, saya selalu merasa tidak enak pada diri sendiri jika tanpa halangan apapun saya tidak memenuhi sebuah undangan. saya kemudian berencana , apa saya tetap datang saja ke TPS? namun tidak untuk memberikan suara, melainkan hanya untuk setor muka memenuhi undangan? ha...konyol sekali bukan?, lagipula saya kemudian berfikir jika saya tidak memberikan suara sama sekali, kemudian naudzubillah calon yang saya anggap tidak pantas memimpin lagi itu terpilih kembali, tidakkah saya sama saja dengan memberi kesempatan atau peluang satu suara atas kemenangannya? dan, akhirnya...resah itu lebur juga, dengan mantap saya berjalan menuju TPS bukan hanya sekedar untuk memenuhi undangan KPU, namun lebih dari itu, untuk memberikan satu suara saya, yang mudah-mudahan berkontribusi untuk perubahan Banten ke arah yang lebih baik. amiin.




Selasa, 09 Agustus 2011

Adakah yg lebih indah dari kehendakNya??

"Dalam pejalanannya, manusia hanya bisa berencana, berharap, berusaha, berdoa dan terakhir bertawakkal, sisanya??hanya Allah lah yang berhak menentukan hasil akhirnya"
(etha_thea)

Seberapa sering kita berencana?kemudian merealisasikan rencana itu dalam bentuk usaha dan ikhtiar? selanjutnya disambung oleh doa2 dan pengharapan2 agar apa yg kita usahakan serta harapkan itu berbuah sesuai rencana?namun, seberapa sering pula usaha dan pengharapan2 itu sepertinya sia-sia karna tidak sesuai rencana bahkan hanya tinggal menyisakan harapan kosong yang terkadang menyakitkan. lalu tak jarang tanpa tedeng aling2 kita serta merta 'menyalahkan' Tuhan yang sepertinya tidak mengabulkan doa2 dan usaha kita itu. 

Seperti halnya cerita tentang seorang laki2 dan perempuan yang berkenalan di facebook,  saling bertukar nomor hp,  kemudian ta'aruf lalu berencana akan menikah, namun tiba2 saja di tengah proses ta'aruf itu sang laki2 tiba2 tidak memilki kepercayaan diri untuk melanjutkan komitmen ke langkah yang lebih serius lagi, karna ia baru saja tersadar akan 'perbedaan' yg cukup mencolok antara dirinya dg si perempuan, ia yang hanya mengenyam pendidikan hingga tamat SMA, sedangkan si perempuan sudah menggondol gelas sarjana S1. iapun menjadi takut jika ia tetap menikahi perempuan itu, bagaimana nanti dg sikap orang2 terhadap istrinya? juga bagaimana nanti sikap anak2nya terhadapnya? akankah mereka tidak menghormatinya?lantaran status pendidikan ibunya lebih tinggi daripada ayahnya? dan fikiran2 itulah yang membuatnya mengambil keputusan untuk mundur teratur dari si perempuan. 

Lihat!betapa berkuasanya Allah membolak-balikan hati hambanya, dari rasa optimis yang menggebu2 menjadi pesimis yg berlipat2. namun terlepas dari itu semua, ADAKAH YANG LEBIH INDAH DARI KEHENDAKNYA???


Senin, 09 Mei 2011

“COGITO ERGO SUM” VS “WHAT’S ON YOUR MIND?”


Beberapa waktu lalu, seorang teman menulis status di akun facebooknya seperti ini, What's on your mind". Buat apa kamu tau apa yg saya pikirkan? memang kamu bisa kasih solusi kalo yg di pikiran saya itu suatu masalah? Malah saya jadi kasian ama kamu, dengan pertanyaan "what's on your mind" itu, kamu jadi bulan2an pelampiasan kekesalan bagi yg ada di pikirannya sebuah kekesalan. *jgn berpikiran "pedas", saya cuman melampiaskan "iseng" saya karena pertanyaan "what's on your mind" :D (taken from n’uyunk kholidatunnur status) sungguh status yang dalem banget dan jujur sekali, but its really the fact.

Setelah saya membaca status teman saya tersebut saya hanya menklik tombol menyukai dan tidak meninggalkan kommen apa-apa, tapi dari situ benak saya tidak henti2nya berfikir dan menyetujui apa yang telah ditulis oleh teman saya itu.”what’s on your mind?....what’s on your mind?...” sampai saya teringat pada pengalaman pertama saya ketika berkenalan dengan yang namanya “facebook” ini. Waktu itu saya sempat merasa bingung ketika setelah melakukan pendaftaran dan ditanya “what’s on your mind?” atau tepatnya diminta untuk menuliskan apa yang ada dalam fikiran saya, karena waktu itu saya menterjemhakan secara harfiahnya seperti itu, dan saya tidak menuliskan apa-apa di sana saking bingungnya, lalu saya sign out  tanpa menuliskan sepatah katapun apa yang ada dalam fikiran saya.
Beberapa waktu setelah itu, saya baru tahu dari teman-teman, kalau kolom “what’s on your mind” tersebut adalah untuk menuliskan status kita di sana, seperti apa yang kita sedang lakukan, rasakan, harapkan atau luapkan atau  apa saja.  Intinya  apapun boleh kita tulis di sana, dan sejak saat itu sayapun mulai rajin menuliskan status, apalagi ketika Hp saya yang baru dilengkapi dengan fitur internetnya, saya semakin ketagihan untuk berfacebook ria, menuliskan apa saja dan semangat sekali setiap menjawab pertanyaan “what’s on your mind?”.
Jika saya sedang merasa bahagia, maka isi statusnya pun meluap-luap menunjukkan kebahagian, begitu juga sebaliknya jika saya sedang sedih maka sayapun memilih kata-kata yang melo dan sendu untuk menunjukkan kesedihan saya, saya juga tak jarang menuliskan doa-doa dan harapan saya pada Allah, walaupun seorang teman pernah berguyon ...” memangnya Allah buka facebook...?” he,,,
Tapi, semakin kesini, ketika saya sudah berhapan dengan layar komputer dengan page home facebook saya yang bersiap-siap untuk ditulisi, saya malah merasa bingung untuk menuliskan apa, maka jadilah saya berselancar ria menengok status teman-teman saya yang ada di home page dan saya menemukan banyak sekali keunikan di sana. Hampir setiap orang memiliki ciri khasnya masing-masing dalam menuliskan statusnya. Ada seorang teman yang selalu menuliskan frasa-frasa menggantung, indah, puitis dan exotis itu karena dia memang kuliah di fakultas sastra indonesia seperti,

biarkan jiwa itu menemukan jiwa’a...” atau “mengapa mawar itu, hanya dari durinya saja. Sedangkan di kelopaknya menyembul putik indah merekah...”(taken from yollanda oktafitri status) indah nian bukan?

Selain yang indah dan puitis, ada juga yang selalu menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an, Hadist-Hadist Rosulullah, nasehat-nasehat, itu karena dia seorang aktifis da’wah. Seperti status di bawah ini,

“Jika tdk mau taat pd Allah, carilah tempat tinggal selain bumi ciptaan-Nya. Jika tdk mau bersyukur pd Allah, carilah makanan, udara selain ciptaan-Nya. Jika tdk takut berbuat dosa pada Allah, carilah tempat yang tidak bisa dilihat-Nya” (taken from bang raihan al-biruni status) status yang dahsyat sekali bukan? Dan tentunya status yang bernada luapan kemarahan dan kekesalan dalam bentuk kata-kata yang tidak terkontrol juga tidak sedikit menghiasi wall- wall facebook setiap harinya bahkan setiap detiknya. Dan untuk saat ini hal itu masih dianggap sah-sah saja selama orang tersebut tidak menyebutkan nama orang yang menjadi sasaran kemarahannya itu jika ia sedang marah dan kesal dengan seseorang. Karena saya pribadipun pernah melakukan hal yang sama, menuliskan kata-kata yang kurang sopan dan tidak terkontrol akibat kesal dengan seseorang.

 Sampai keesokan harinya teman saya bertanya ‘ada apa? Sedang ada masalahkah?’ saya menjawab ‘tidak ada’ dia bertanya lagi ‘ tapi kok statusnya seperti itu kemarin? (marah2 dg berkata yang kurang terkontrol)’ saya jawab ‘biasa lagi kesel, emang ada yang salah?’ saya balik tanya padanya, dia menjawab ‘ya gak salah, tapi apa kamu tidak tahu kalau kata-kata yang kamu tulis itu akan memantul kembali pada diri kamu dan menjadi doa untuk kamu?’ saya menggelengkan kepala, karena tidak mengerti atas kata-katanya itu. Kemudian diapun menjelaskan, bahwa kata-kata yang kita tulis di facebook, itu akan dibaca oleh banyak orang, dan ketika mereka membacanya mereka akan segera tahu kalau kita sedang dalam keadaan badmood misalnya, lalu muncullah komentar seperti ini misalnya ‘oh...si ...A lagi kesel toh...’ dan lain sebagainya yang bernada sama dan mengamini apa yang kita rasakan, dengan cara seperti itulah kata-kata yang kita tulis di facebook memantul kepada diri kita kembali.
Maka bisa dibayangkan jika yang membaca dan berkomentar seperti itu lebih dari 20 orang misalnya, apa dampak negatifnya? Tentu saja kita akan selalu berada dalam suasana yang penuh kekuatan negatif. Beda halnya jika yang kita tulis itu adalah kata-kata positif, indah, penuh motivasi, optimis, rasa syukur, maka otomatis orang-orang yang membacanyapun akan kecipratan dampak positifnya. Bahkan akan lebih baik lagi jika kata-kata yang kita tulis dapat menginspirasi orang banyak seperti status-statusnya pak. Mario Teguh yang selalu super, Arifin Ilham dan Syafi’i Antonio yang selalu bijak dan menyejukkan.

  Sampai disini, kita tentu dapat mengambil kesimpulan betapa dahsyatnya kekuatan kata-kata dan betapa besarnya ia mempengaruhi  psikologis orang yang membacanya. Begitu juga dengan apa yang kita tulis di status FB kita, tentu memiliki pengaruh yang sangat besar bagi yang membacanya.  Dengan demikian terampil dan berhati-hati dalam memilih kata untuk status kita sangat diperlukan. Tidak perlu kata-kata yang indah nan puitis, jika memang  kita tidak mampu, setidaknya kata-kata yang kita tulis adalah kata-kata yang baik dan membawa kebaikan.

  Pertanyaannya adalah, apa hubungannya kata-kata yang baik, what’s on your mind? Dengan pepatah latin yang dicetuskan oleh Descartess Cogito Ergo Sum? Mari kita uraikan satu-satu disini.

   Jika menilik kepada arti harfiahnya, cogito ergo sum, memiliki arti ‘aku berfikir maka aku ada’.walaupun maksud sebenarnya dari kalimat Descartess itu adalah bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang sendiri, keberadaan di sini bisa dibuktikan dengan fakta bahwa ia bisa berfikir sendiri. Begitu apa yang terukir di wikipedia. Tetapi di sini kita tidak hendak membahas maksud/makna sebenarnya dari ungkapan Descartess itu, kita hanya akan membahas arti harfiahnya dan hubungannya dengan mesin penghubung manusia bernama facebook yang setiap detik tidak alfa bertanya ‘whats on your mind?’.

   ‘cogito ergo sum’ ‘aku berfikir maka aku ada’, ‘what’s on your mind?’ ‘apa yang ada dalam fikiranmu?’ bacalah berulang-ulang! Apakah anda menemukan benang merahnya?

   Yups, Pertanyaan ‘what’s on your mind?’ atau apa yang ada dalam fikiranmu, secara harfiah mengundang kita untuk selalu berfikir, ya berfikir..., berfikir apa saja, berfikir apa yang kita lihat di sekeliling kita, berfikir tentang apa yang kita dengar, apa yang kita baca dalam keseharian kita, dan tentu saja pengalaman yang kita alami dan rasakan setiap harinya baik yang baik, yang buruk, membahagiakan, sampai yang mengharukan. Berfikir apa hikmah di balik semua peristiwa?berfikir apa yang mesti dilakukan untuk masa depan, dan tentu saja berfikir tentang kata apa yang harus kita tulis di kolomnya agar dapat selalu memberi angin positif untuk diri kita sendiri dan juga orang lain.
Sedangkan ‘cogito ergo sum’ yang secara harfiah berarti aku berfikir maka aku ada, tidakkah kita berfikir bahwa ketika kita menuliskan status di facebook dengan menjawab pertanyaan ‘what’s on your mind?’ bahwa kita telah ‘ada’ atau bahasa kerennya, telah ‘exist’?. Maksudnya, ketika kita menuliskan status kita tentang apapun itu, menandakan bahwa kita telah exist, telah ada, maka keberadaan kita ditandai dengan status kita tersebut. Bukankah jika kita saat ini kita tidak memiliki akun facebook misalnya, maka serta merta teman kita akan men cap kita tidak gaul lah, atau tidak exist. Begitu juga ketika kita tidak menulis status apapun di fb selama beberapa bulan misalnya, maka teman kita setidaknya pasti ada yang bertanya ‘kemana aja? Kok jarang muncul di fb? (gak exist).

Maka, benang merah dari kedua frasa tersebut adalah ‘eksistensi’ atau keberadaan kita yang bersemuber dari fikiran kita, atau apa yang kita fikirkan. Simplenya, jika apa yang kita fikirkan kemudian kita tuangkan dalam fb adalah tentang hal-hal yang negatif, maka keberadaan kitapun akan dianggap negatif, begitu juga sebaliknya. Jika apa yang kita fikirkan kemudian kita tumpahkan baik di fb, twitter, ataupun blog adalah sesuatu yang membawa dampak positif bahkan menginspirasi banyak orang, maka keberadaan kita akan dianggap sebagai pembawa angin kesejukan dan kebaikan. Wallahu A’alam bishowab...

Apa pun itu, semua kata-kata dalam notes ini hanya sebuah masukan, yang mudah2n bermanfa’at.   
Finnaly? What’s on your mind??? Hopely, the answer is about the kindness & goodness. Amiin...

Salam hangat.
Etha.

(thanks to uyunk, statusmu udah menginspirasiku menulis notes ini, lanjutkan menulis status2 yang unik dan menginspirasi! Hatur nuhun juga to Yollan, e selalu menyukai status2 mu yang indah dan puitis, calon sastrawan masa depan from lebak...euy...he..., juga makasih banyak to bang raihan, lanjutkan selalu menuliskan status2 yang mengingatkan pada kebaikan. tak terkecuali to maul, syukron katsiron udah pernah memberi pencerahan ttg status yang kita tulis di fb.