Senin, 01 Februari 2016

Munggahan Menggapai Curug Kumpay



Dalam bahasa sunda,munggah bermakna naik, itu sebabnya masyarakat sunda menyebut naik haji dengan munggah haji. Bagaimana dengan munggahan?Tidak jauh berbeda, munggahan juga bisa diartikan sebagai naik, tetapi masyarakat sunda menggunakan kata munggahan untuk sebuah tradisi menyambut bulan Ramadhan dengan melakukan berbagai kegiatan seperti ngaliwet atau bacakan, ziarah  juga adus atau mandi di sungai. Dan tradisi ini, dilakukan sehari sebelum bulan Ramadhan. 

Tahun ini, aku memutuskan untuk merayakan munggahan dengan  murid-muridku di kampung mereka di  kumpay. Kami berencana mengunjungi curugnya yang terkenal itu. 

Pukul 10 pagi kami berangkat dari rumah dengan berkendara  motor. Aku di bonceng sudirman, sedangkan oji membonceng cici. Dari Sajira, kami hanya berempat, karna Utas, tidak jelas kabarnya. Tapi Kami berangkat kesana dengan dipandu unang dan ajiji yang orang sana. 

Pukul 11 kurang, kami sampai di pasar ciminyak kecamatan muncang, dan berhenti dulu untuk membeli ikan dan keperluan lainnya. 

Pukul 11 lewat, kami melanjutkan perjalanan menuju kampung kumpay. Sebenarnya, Kumpay sendiri masih termasuk dalam kecamatan Sajira, tetapi jalan yang kami lalui adalah jalan raya Muncang-Sobang karena kumpay memang berbatasan langsung dengan kecamatan muncang. 

Dari pasar ciminyak, kami melewati beberapa kampung yang termasuk ke kecamatan muncang, seperti kampung Guha yang terkenal dengan tanjakan mautnya karena sering terjadi kecelakaaan, baru beberapa bulan kebelakang, aku  melewati jalan yang sama untuk menengok salah satu  muridku di Sobang yang menjadi salah satu korban tergulingnya Mobil PS yang ditumpanginya di tanjakan tersebut. Beruntung tak ada korbang jiwa, walaupun selama beberapa pekan, Mobil yang juga hampir terbakar itu nangkring tidak berdaya di tanjakan tersebut. 

Tidak lama dari tanjakan maut gunung Cupu, kami belok ke Kiri memasuki jalan beraspaltipis yang lebih kecil. Rumah-rumah semakin jarang, dan hanya pepohonan yang berbaris bisu di kanan Kiri jalan. 

Lalu sampailah kami di turunan berbatu yang curam. Turunan kumpay yang terkenal karna kecuramannya. Turunan atau tanjakan Jatake namanya. Namun dari kejauhan, terhampar perbukitan yang hijau dan pesawahan yang mulai dibajak dan  ditanami. 

Karena ngeri, aku menutup mata saat motor mulai menuruni turunan berbatu itu. Untungnya, Nde sapaan akrab sudirman, adalah orang yang sudah teruji dalam hal mengendarai motor. Saat aku meminta turun saja, saking ngerinya melihat sisi kanan jurang, dia melarangku untuk turun dan memintaku untuk bersikap tenang.
Setelah  sport jantung menuruni turunan berbatu itu, kami sampai di bawah dengan perasaan lega. Tapi ternyata, tujuan kami belum sampai setengahnya.

Kami memasuki perkampungan yang berada di lembah dengan rumah-rumah berdekatan, kemudian kami melewati jembatan dengan sungai kecil yang jernih di bawahnya. Lalu kami keluar dari perkampungan penduduk dan melewati lereng gunung dengan sungai kecil mengalir di samping kanan kami. Beberapa kilometer di depan, barulah kami memasuki perkampungan kembali, kampung yang lebih besar dengan sungai melingkar di pinggangnya, menjadi pembatas alami dengan kampung di sebrang yang masuk kecamatan muncang. Dari atas motor aku melihat sebuah jembatan bambu beratap rumbia yang disanggah hanya dengan pohon kelapa, jembatan itulah yang menghubungkan antara kampung kumpay besar dengan kampung di sebrang. 

Pukul 12, alhamdulillah kami sampai di tempat tujuan dengan selamat, yaitu rumahnya Unang yang berada di kaki bukit. kampung ini berada di lembah dan rumah-rumah dibangun di kaki perbukitan, hampir sebagian besar rumah berbentuk panggung dengan dinding bilik bambu dan lantai kayu. 

Kami langsung disambut oleh ibunya Unang juga keluarganya Udi karena rumah mereka berdekatan, dan mereka masih saudara atau keluarga besar. 

Karna tanggung dhuhur, kami tidak langsung berangkat menuju curug, jadi kami beristirahat dulu, melepas lelah sambil ngobrol ngalor ngidul di rumah Unang. 

Baru sekitar pukul setengah dua, kami berangkat dengan membawa liwet dan ikan yang ternyata sudah matang karena dimasakin oleh tetehnya Udi. 

Dari rumah Unang dan Udi, kami berjalan nanjak ke utara, melewati rumah-rumah warga sampai akhirnya kami tiba di ujung kampung, dan berjalan naiklagi hingga area pesawahan yang baru selesai dibajak. Aku memperhatikan sekeliling, dan sejauh mata memandang, sawah-sawah terhampar luas dikelilingi oleh gunung yang hijau. 

Setelah Melewati pematang-pematang sawah, kami harus mendaki bukit yang dipenuhi oleh pepohonan karet juga salak, kami beristirahat sebentar dan mengambil beberapa salak, entah punya siapa.
Keluar dari jalan bukit itu, di depan kami terhampar pesawahan kembali, bertingkat-tingkat, melukis panorama yang indah. Kami melewati pematang lagi, sampai kami tiba di sisi irigasi kecil dan berjalan terus lurus mengikuti irigasi tersebut. 

Pesawahan mulai tertinggal di belakang, pepohonan besar mulai nampak dari jarak dekat, sesampainya kami di girang atau irigasi yang besar, kami beristirahat dahulu sambil menunggu Udi yang masih menyusul di belakang. 

Sungai kecil dengan batu-batu mengalir di bawah tanggul irigasi itu, pohon-pohon besar memagarinya, kami benar-benar sudah mulai memasuki hutan yang lebat. 

Tidak lama Udi terlihat dari kejauhan, dan kamipun mulai melanjutkan perjalanan memasuki hutan. Dari kejauhan terlihat asap yang membumbung hitam, lalu tak lama ada orang yang memanggil-manggil kami. Aku agak kaget, karena sedari tadi tidak ada orang yang lewat. Dan  ternyata mereka masih kerabatnya Udi yang sedang membuat biji cengkaleng dari getah aren. Sebagian masyarakat kumpay memang ada yang memproduksi  biji cengkaleng untuk dijual ke pasaran. 

Kami mendaki bukit lagi, dan Kali ini trek yang ditempuh lebih sulit, karna jalan yang dilalui bukan jalan setapak yang setiap hari dilalui orang. Semak-semak dan belukar yang tinggi terkadang menghalangi langkah kaki kami. Aku mulai terengah, begitu pula dengan Cici, tapi ciri-ciri kami akan sampai rasanya belum terlihat. 

Namun, di saat kakiku mulai menyerah untuk berjalan, dari Balik semak, suara gemuruh itu terdengar, gemuruh air yang turun menghempas permukaan cadas di bawahnya. Dari jarak dua Kali sepelemparan batu, aku melihat dengan megahnya, menjuntai putih, bak selendang sutra raksasa, curug kumpay yang mashur itu dengan ketinggian dua puluh meter lebih. Aku tak henti merapal tasbih, memuji keindahan ciptaanNya ini, lelah yang tadi singgah, seketika lenyap. 

Aku langsung berlaridan menari di bawah juntaian putihselendangnya, dingin benang airnya memercik di wajah, kaki, dan pori. Curug kumpay, akhirnya aku bisa menggapai, selendangmu yang menjuntai. 

Setelah asik berselvi ria, daun pisang pun digelar di atas batu cadas yang menghampar tidak jauh dari curug, nasi liwet dihamparkan di atasnya, ikan mas goreng di sebar di atas nasi yg mengepul, kemudian sambal honje ditaburkan, menyusul lalapan yang nampak Segar, nasi liwet dengan sambal honje pun siap menjadi santapan. 

Kami makan dimusiki oleh suara air yang jatuh menghempas cadas, suara burung terdengar sesekali dari pepohonan di atas sana dan angin yang sejuk membelai tubuh kami, saat makan, semuanya terdiam, khusyu melahap nasi liwet, suasana jadi begitu sunyi, ini sungguh tempat yang benar-benar membuat perasaan dan hati menjadi tenang dan damai. 

Selesai makan, kami membereskan sampah daun pisang dan membuangnya ke semak-semak. Pada saat itu Udi bercerita padaku bahwa, tempat ini selalu bersih, bebas dari sampah, walaupun hampir setiap minggu atau setiap hari jika musim liburan sekolah orang-orang berdatangan dan menunda sampah di sana. Tetapi, anehnya sampah-sampah itu seperti ada yang selalu membersihkan dan tidak meninggalkan jejak. Mataku berkeliling memperhatikan sekitar, dan Udi benar, tidak ada satupun sampah plastik atau kaleng belas minuman yang tercecer  disana. Aku jadi sedikit merinding mendengar nya.  itu sebabnya, tadi Udi tidak bareng kami berangkatnya dan menyusul di belakang, karna kata dia, dia habis meminta ‘sesuatu’ dulu ke saudaranya, semacam wafak atau tolak bala agar kami selamat. Makanya, tadi pas baru sampai, Udi terlihat komat-kamit membaca sesuatu baru mempersilahkan kami untuk foto-foto. 

Selain itu, Udi juga memperlihatkan atau menunjukkan kepada kami bahwa di atas cadas sana, disamping air terjun, terlihat cadas yang membentuk seperti seraut wajah. Kami mendongakkan kepala, dan benar, jika kita jeli memperhatikan, mata kita akan menangkap seraut wajah terpahat di atas cadas sana. 

Sehabis makan dan ngopi, kami berfoto bersama dengan background curug kumpay. Setelah puas bergaya dan berfoto ria, kami pun beranjak pulang, karna hari mulai sore. Jika tadi, kami kelelahan karna mendaki, maka saat pulang kami justru  lebih lelah, karna harus ekstra hati-hati saat menuruni gunung dan bukit. Karna seperti kata iklan susu untuk tulang di tv, saat kita menuruni tangga atau apa saja, kaki lebih berat menahan beban tubuh kita dibandingkan dengan saat kita naik. 

Kami sampai di rumah Unang saat matahari mulai condong, dan adzan ashar sudah lama lewat. Karna masih bersisa waktu, Udi mengajak kami ke sungai girang, karna kata dia, pemandangan di sana sangat sayang jika dilewatkan. 

Kamipun berjalan kembali melewati rumah-rumah penduduk, melalui jalan sisi sungai. Di sana, nampak anak-anak yang sedang mandi dan ibu-ibu yang sedang mencuci. Di sebrang sungai, terlihat para pemuda kampung sedang bermain volley di lapangan pinggir sungai yang dipagari jaring setinggi tiga kaki. 

Kami terus berjalan ke arah girang, dan ketika rumah-rumah penduduk sudah jauh, diganti dengan pepohonan dan gunung di sebrang sungai, kami berhenti di sana. Sungai yang mengalir dengan tenang itu tidaklah selebar Ciberang, hanya sepelemparan batu. Tapi airnya sungguh lebih jernih karna batu-batu besar masih setia menjadi penyaring dan menghiasi badan sungai. Masih kata Udi, Guide kami hari itu, warga kampung tidak ada yang berani mengambil batu-batu kali itu kecuali untuk dipakai seperlunya, seperti untuk membangun rumah, begitu pula dengan pasirnya, sepanjang jalan tadi, kami tidak melihat ada orang yang menambang pasir di sepanjang sisi sungai. 

Aku jadi teringat pada Ciberang, Ciberang yang malang, batu-batu dan pasirnya dijadikan orang sebagai lahan bisnis, ikan-ikan kecilnya ditua, bahkan cadas-cadas berharga yang terdapat tapak kaki bayi dan kaki kuda terpeleset digali dan  dihancurkan oleh tetua kampung sendiri hanya karna percaya pada wangsit bahwa di bawah cadas tersebut tersimpan harta karun yang tidak terkira. 

Ah, Ciberangku yang malang, entah anak cucuku nanti masih bisa menikmati mandi dan bermain di riakmu yang herangataukah tinggal kenangan. 

Saat matahari telah hampir tergelincir di ufuk barat, kami pulang setelah menghabiskan beberapa butir kelapa muda yang diambil Udi dari kebunnya. 

Senja mulai turun, kami berpamitan kepada keluarga Unang dan Udi. Dari kejauhan, masjid-masjid mulai semarak dengan solawatan yang didendangkan anak-anak, Ramadhanpunmulai menjejak di bumi.



 selvi ngos-ngosan abis nanjak

 melewati pesawahan 


 lelah itu terbayar sudah, saat melihat curug Kumpay yang menjuntai


 (dari Kiri; Nde, cici, Oji n me)

 (dari Kiri; Nde, cici, Oji, Udi  n' me)
 Udi Guide kami hari itu sedang menuangkan sambal honje di atas nasi liwet


 Curug Kumpay yang menawan


menikmati nasi liwet dimusiki dengan gemericik suara air 


 
 it's time to leave


  
 menjelang sore, perbukitan menjelma lembur singkur nan asri


 
 menikmati dawegan di pinggir sungai

Senin, 21 Desember 2015

Indonesia Scout Challenge 2015 Zona 1 Kwarcab Lebak Menyisakan Tanya “Ada Apa Dengan Panitia?”

Bagi anak-anak pelosok, yang untuk pergi ke sekolah saja harus berjalan kaki sejauh Lima kilometer lebih, bisa ikut berpartisipasi dalam lomba kepramukaan dalam lingkup sekabupaten merupakan sebuah keajaiban dan kesempatan yang sangat langka sekali. Berbeda halnya dengan anak-anak yang beruntung bisa bersekolah di daerah perkotaan atau minimal sedikit lebih tengah ke kota, yang hampir setiap tahun selalu mewakili kecamatan atau juga kabupatennya masing-masingdalam lomba kepramukaan, baik lomba tingkat tiga atau LT3 juga jambore daerah bahkan jambore national. Maka, saat akhirnya kesempatan langka ini datang, anak-anak pelosok itu sungguh tidak mengharapkan untuk bisa membawa pulang piala, karena menjadi salah satu peserta dalam eventyang sangat bergengsi ini saja bagi mereka adalah sebuah hadiah yang indah. Bukan karna, kemampuan mereka yang dibawah rata-rata, sehingga selalu tidak dilirik oleh pihak kwarran dalam mewakili kwartir ranting di LT3 misalnya, tetapi lebih karena kesempatan yang tidak kunjung datang itulah, mereka paling jauh mengikuti kegiatan kepramukaan di tingkat kecamatan. 

Maka, saat akhirnya kesempatan itu datang pada anak-anak SDN 1 Sindangsari Kec. Sajira, kesempatan mengikuti lomba di tingkat kabupaten dengan tidak mewakili kwartir ranting masing-masing tetapi benar-benar mewakili gugus depan dimana mereka berpramuka selama ini, mereka benar-benar gembira dan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Selama hampir tiga minggu, mereka rela pulang sekolah saat adzan ashar berkumandang karna harus latihan dulu setiap harinya di sekolah. Karna jarak rumah mereka yang jauh, mereka selalu membawa bekal nasi untuk makan siang di sekolah sambil menunggu saya datang. Saya memang tidak mengajar di sekolah mereka, tetapi karna di sekolah itu, pembina perempuan nya belum ada yang mengikuti KMD, maka saya diminta oleh kepala sekolahnya untuk membimbing siswa mereka, karena sekolah mengirimkan regu perempuan. 

Tanggal 31 Oktober 2015, anak-anak itu berangkat dari rumah pukul 4 pagi, karena panitia menjadwalkan pukul 6 pagi itu sudah mulai pendiriantenda sampai jam 8. Alhasil, kami berangkat dari sekolah sekitar pukul 5 agar tidak terlmabat mendirikan tenda. Karna ketepatan waktu dalam pendirian tenda masuk penilaian tambahan.

Pukul 6 pas, kami sampai di Pusdiklatpur Ciuyah tempat ISC zona 1 Lebak di laksanakan. Mobil-mobil bak terbuka terlihat memadati jalan masuk, mungkin mereka sampai disini dari pukul 5 pagi. Saya langsung menuju secretariat panitia untuk mengambil Nomor kapling, tetapi dari kejauhan, antrian panjang para pembina pendamping sudah mengular di depan sekretariat. Saya langsung berlari dan ikut mengantri, tapi hampir pukul 7, antrian itu hanya bergerak sedikit demi sedikit layaknya siput berjalan. Dan itu di karnakan, panitia tidak hanya membagikan kapling tetapi juga membagikan kaos peserta juga mengurus hal-hal administrative lainnya. 

Pukul 7 saya masih berdiri mengantri, sedangkan sekolah-sekolah lain yang sudah lebih dulu mengambil kapling, sudah mulai mendirikan tenda. Baru ketika pukul setengah 8, saya berhasil mendapatkan Nomor kapling dan kaos, setelah panitia akhirnya berinisiatif perwakilan dari tiap kwarran untuk masuk dan mengambilkan Nomor kapling gugus depan lain yang masih satu kwarran. Dari proses pengambilan Nomor kapling yang seperti itulah, benih-benih kekecewaan saya juga para pembina pendamping yang lain mulai  muncul. Karna apa yang tertera di juknis dan juklak ISC 2015 samasekali tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. 

Dengan sigap anak-anak langsung mengangkut barang-barang dan perlengkapan kemah seperti tenda, tongkat, kayu bakar, peralatan masak dan tas mereka masing-masing ke kapling B35 yang berada di dekat tenda besar panitia. 

Dengan cekatan mereka langsung mendirikan tenda sesuai dengan tugasnya masing-masing ketika mereka latihan di sekolah. Tidak sampai satu jam, tenda sudah berdiri tegak, jemuran dari tongkat juga sudah terpasang, beberapa anak sedang menancapkan pagar bambu, hanya tinggal gapura dari pioneering yang masih belum selesai dirakit. Tapi dari pengeras suara, panitia sudah mulai memanggil-manggil untuk berkumpul karena perlombaan akan segera dimulai. Anak-anak mulai terlihat gelisah dan gugup, karna waktu pendirian tenda tinggal beberapa menit lagi, dan mereka diminta segera berkumpul di dekat aula supratman.

Akhirnya saya memutuskan untuk melanggar peraturan panitia yaitu meminta bantuan kepada guru laki-laki untuk menyelesaikan mendirikan gapura, sedangkan anak-anak, saya dampingi untuk berkumpul dan mengikuti lomba sesi pertama. 

Seluruh peserta putra dan putri berkumpul merumput di samping aula supratman, panitia dari anak-anak DKC (dewan kerja cabang) yang masih merupakan anggota penegak atau siswa-siswi SMA terlihat sudah payah menjelaskan sesuatu berkaitan dengan games yang nanti akan dilaksanakan dengan !menggunakan pengeras suara yang kurang terdengar jelas. Sampai akhirnya, saya maju mendekati panitia DKC itu dan memberikan saran untuk memberikan penjelasan melalui pinru saja, baru nanti pinru yang akan mengumumkannya ke regu masing-masing. 

Kemudian panitia tersebut memanggil pinru dan meminta mereka berbaris baru ia menjelaskan pengumuman tentang pembagian tempat dan sesi games antara putra dan putri.

Pukul 9 sampai dengan pukul 12 siang, peserta putri mengikuti games yang berada di halaman samping aula-aula yaitu games English corner, games aku cinta Indonesia, games tebak lagu, games dasa darma, dan games sense challenge atau meraba benda. 

Alhamdulillah kami berhasil mengumpulkan medali dari tiap mata lomba walaupun tidak maksimal, setidaknya anak-anak telah berusaha semampu mereka. Untuk lomba games aku cinta Indonesia kami berhasil mendapat 3 medali, games tebak lagu 3 medali, games dasa darma dan pancasila 1 medali, dan games sense challenge 1 medali. Sedangkan English corner, Yuyun dan anas sama sekali belum mendapat kesempatan untuk bermain dan mengikuti lomba karna keburu waktu istirahat dan kata mereka akan dilanjutkan nanti setelah dhuhur.

Selepas dhuhur, kira-kira pukul 1, perlombaan sesi dua dimulai. Bertukar tempat dengan peserta putra, kini giliranku peserta putri yang mengikuti Lima games berikutnya yaitu games P3K, games badge challenge atau menempelkan atribut pramuka, games susun kata, games navigasi, dan games membuka kotak. Anak-anak langsung menuju tempat games masing-masing dan mengikuti perlombaan. 

Karena kata panitia English corner putri yang belum bermain dilanjut setelah dhuhur, maka saya mendatangi tempat English corner untuk melihat anak-anak. Tapi ketika saya sampai di sana, yang antri mengular di belakang papan English corner bukan peserta putri tetapi peserta putra. Saya bertanya pada panitia dan jawab mereka, English corner putri yang belum bermain DINYATAKAN GUGUR. Saya kaget sekali mendengar nya dan tentu saja tidak terima. Itu keputusan sepihak dari mana? Dan bagaimana bisa? Sebelum dhuhur tadi bilangnya akan dilanjut setelah dhuhur tapi pas setelah dhuhur dinyatakan GUGUR. Saya bertanya kembali pada panitia yang merupakan anak2 penegak itu siapakah yang menyatakanGUGUR tersebut? Panitia yang mana? Panitia dari kwarcabataukah panitia dari jawa pos? mereka menggelengkan kepala bingung, lalu saya pun pergi ke sekretariat panitia di aula bung hatta. 

Sesampainya disana, saya langsung kebanyakan perihal lomba English corner yang dinyatakan GUGUR itu pada panitia dari pihak kwarcab yaitu kak Unang yang kebetulan sedang berada di sana. Tapi jawabannya sungguh membuat saya semakin aneh dan heran, dia menyuruhnya saya untuk langsung bertanya pada panitia jawa pos yang terlihat sedang duduk –duduk di lantai, tapi kak Unang juga menyarankan saya untuk mengajak pembina-pembina pendamping lainnya minimal Lima orang yang memang sekolahnya punya masalah yang sama.

Saya keluar dari ruangan panitia dan mencari pembina pendamping yang saya kenal dan sama-sama punya masalah yang sama yaitu belum mengikuti lomba atau permainan tetapi sudah dinyatakan gugur. 

Akhirnya saya bertemu dengan pembina pendamping dari gugus depan ciuyah 3, bahkan anak muridnya tidak hanya satu perlombaan yang belum sempat diikuti tetapi dua perlombaan, English corner dan aku cinta Indonesia. Maka kami pun segera ke ruang panitia dan mempertanyakan masalah tersebut ke panitia jawa pos. 

Kami  berdebat panjang lebar dengan panitia dari jawa pos, bahwa kami ingin anak-anak kami yang belum sempat mengikuti perlombaan diberi keswmpatan. Bukan untuk mendapatkan medali, tetapi lebih karena agar usaha mereka untuk latihan dan belajar demi mempersiapakan perlombaan tersebut ketika di sekolah tidak lah sia-sia. Menang atau kalah, medali atau penghargaan apapun itu sungguh tidak masalah, yang terpenting anak – anak tidak merasa kecewa karena mereka tidak mengikuti lomba hanya karna tidak cukup waktu dan itu bukan salah mereka sendiri. Jika memang mereka yang terlmabat datang ke tempat lomba, atau alasan pribadi lainnya, itu adalah urusan lain, tetapi ini, mereka telah mengantri berjam-jam di bawah terik panas matahari dan sebelum mereka mendapat giliran mereka di suruh istirahat, dan setelah waktu istirahat habis tiba-tiba saja mereka dinyatakan GUGUR. Prosedur macam apa itu?Lalu, panitia dari jawa pos akhirnya bilang akan mempertimbangkan masalah tersebut dan kamipun ke luar ruangan. 

Perlombaan sesi kedua baru berakhir pukul setengah empat, anak-anak terlihat senang sekali dengan perolehan medali yang mereka dapatkan, dari pengeras suara panitia terdengar mengumumkan kepada seluruh peserta yang sudah selesai mengikuti lomba dan mendapatkan medali untuk segera menukarkan medali tersebut dengan stempel ke ruang panitia.

 sore di bumi perkemahan ISC itu mereka habiskan untuk bermain, jajan, dan jalan-jalan keliling tenda mencari kenalan. 

Selepas magrib, terdengar pengumuman bahwa perlombaan English corner, aku cinta Indonesia dan dasa darma dan pancasila untuk peserta putra dan putri yang belum mengikuti akan dilanjutkan setelah isya. Saya lega mendengar nya, karna aspirasi kami ternyata benar-benar diperhatikanu oleh panitia. Saya langsung menyuruh yuyun dan anas untuk bersiap-bersiap mengikuti lomba English corner di tempat yang telah ditentukan. 

Tapi selang beberapa menit kemudian, pengumuman baru terdengar lagi dari pengeras suara, bahwa lomba hasta karya dari barang bekas ditiadakan. Saya dan anak-anak ber yaaa kecewa mendengar nya. Padahal kami sudah mempersiapkan bahan-bahan dan perlengkapan untuk lomba hasta karya ini dari jauh-jauh hari. 

Akhirnya saya menyuruh anak-anak untuk tetap membuat hasta karya tersebut di tenda seperti yang telah direncanakan, besok saya berniat menyerahkan hasta karya tersebut kepada panitia jawa pos, sebagai kenang-kenangan dari kami anak-anak pedalaman, agar mereka tahu bahwa kami telah mempersiapkan untuk lomba ini dengan sungguh-sungguh. 

Saya mendampingi yuyun dan aminah mengikuti lomba English corner. Benar saja, peserta yang belum mengikuti masih banyak, terlihat dari antrian panjang yang mengular. Entah sampai jam berapa perlombaan ini akan berakhir, mungkin sampai jam sepuluh atau lebih. Ah, kasian anak-anak. 

Sambil menunggu mereka, saya mengobrol dengan salah satu pembina pendamping putra yang saya kenal Kak Topik, kami membahas banyak hal tentang kegiatan ISC zona 1 yang cukup mengecewakan ini, mulai dari tadi pagi saat pembagian Nomor kapling sampai lomba hasta karya yang ditiadakan. Padahal menurut kami, jika panitia cerdas, lomba hasta karya dan lomba yang menyusul itu bisa dilaksanakan dalam waktu yang sama, toh anak-anak yang mengikuti lomba susulan juga tidak semuanya, masih bersisa delapan atau enam orang di tenda. Entahlah, apa yang menjadi alasan dasar mereka meniadakan lomba hasta karya ini, kami tidak mengerti, yang jelas kami cukup kecewa. 

Malam menyelimuti bumi perkemahan, tapi suara anak-anak yang mengobrol dan bercanda di dalam masih terdengar. Mungkin euforia berlebihan membuat mereka sulit memejamkan mata. Baru sekitar pukul setengah dua belas, mereka berhenti mengobrol dan terlelap entah dalam mimpi yang seperti apa. 

Pagi datang berwajah kabut, ternyata anak-anak telah selesai Mandi dan sholat shubuh, mereka bangun pukul setengah empat pagi dan langsung mandi. Sungguh bersemangat sekali.

Kegiatan ISC pagi ini dibuka dengan senam bersama dari pukul enam pagi. Dilanjut dengan oprasi semut dan bersih-bersih tenda, kemudian sarapan baru kemudian mengikuti perlombaan. Perlombaan hari ini adalah perlombaan yang lebih mengedepankan kekompakan yaitu team building challenge. Sama seperti kemarin yang berdiri dari dua sesi, team building challenge ini juga dibagi dua sesi dan dilaksanakan di lapangan utama pusdiklatpurCiuyah.

Sampai pukul setengah dua belas, team building challenge ini baru selesai, itupun tidak sempat bergantian tempat dengan putra, yang berarti peserta hanya mengikuti satu sesi team building challenge. Setelah itu istirahat sampai pukul setengah satu, dan ada pengumuman gugus depan yang masuk ke dalam 25 besar untuk mengikuti lomba semi final. 

Tanpa disangka, gugus depan kami masuk ke dalam 25 besar itu. Maka kami pun beraiap-siap, saya menu juk dua orang yang menurut saya bisa mewakili semuanya yaitu yuyun dan aminah, setidaknya mereka berdua kompetensi pengetahuan yang sedikit lebih banyak dari pada teman-temannya.

Lomba semi final ini diadakan di tribun lapangan upacara pusdiklatpur. Masing-masing regu yang masuk 25 besar hanya mengirimkan dua orang perwakilan nya. Para peserta duduk lesehan di lantai tribun, menghadap sebuan monitor atau lcd datar sekitar dua pukuh Inc yang menayangkn soal secara visual. 

Bagi peserta yang bisa menjawab setiap pertanyaan dipersilakan untuk mengacungkan tangan, dan panitia akan memilih regu mana yang TERLIHAT lebih dulu mengacungkan tangan. Baik pendamping ataupun teman-teman satu regu yang tidak mengikuti DILARANG dekat-dekat dengan tribun dalam jarak 10 meter. Sanksinya bagi yang melanggar adalah didiskualifikasi dari babak semi final tersebut.

Maka saya hanya menonton mereka dari kejauhan di bawah sebuah pohon di pinggir lapangan. 

Sekitar pukul setengah dua, sesi babak final untuk putri selesai dengan tiga regu keluar sebagai pemenang, dan seperti sudah diperkirakan regu kami tidak masuk ke dalam tiga besar itu. Tak apa, karena masuk ke dalam 25 besar saja anak-anak sudah merasa bangga. Sesi semi final pun digantikan oleh putra yang sudah menunggu dari tadi. 

Saat kami kembali ke tenda, dua tiga Mobil pick up yang mengangkut barang-barang perlengkapan kemah terlihat menuju gerbang utama pusdiklatpur, lalu dari kejauhan, tenda-tenda regu lain baik putra mahpun putri sebagian besar telah dibongkar dan siap untuk diangkat pulang. Saya bertanya-tanya, bukankah semi final untuk sesi putra belum selesai? Dan upacara penutupan belum dilaksanakan, tetapi mengapa sebagian besar peserta telah sibuk membongkar tenda, bahkan beberapa telah pulang.
Sampai pukul setengah tiga, upacara penutupan belum juga dimulai, atau lebih tepatnya, belum ada tanda-tanda untuk dimulai, padahal saya tadi melihat, sekretariat kwarcab Pak Juanda telah datang sejak pukul satu tadi. 

Pukul tiga, kamipun membongkar tenda, dan dari pengeras suara, terdengar panitia berusaha mengajak peserta untuk oprasi semut dan tidak diperkenankan untuk pulang sebelum area bumi perkemahan bersih dari sampah. Tapi sayangnya, peringatan dan himbauan panitia itu dianggap angin lalu oleh sebagian peserta yang sudah tidak sabar ingin segera pulang. Mobil-mobil pick up dan truk terlihat antri mengular di sepanjang jalan utama menuju gerbang karena gerbang sudah ditutup dari tadi oleh pihak pusdiklatpur agar peserta membersihkan dahulu sampah-sampah yang berserakan. 

Sambil menunggu antrian keluar, saya mendengar dari salah seorang pembina pendamping bahwa Pak Juanda memarahi panitia dari pihak Jawa Pos, beliau kecewa karena juara tiga besar ISC zona 1 ini tidak diumumkan pada upacara penutupan yang resmi melainkan di tempat pelaksanaan semi final tadi. Entahlah apalagi yang menjadi bahan perdebatan antara pihak kwarcab dengan Jawa Pos. 

Satu hal yang kami sesali, kenapa medali yang telah kami dapatkan itu kemarin kami tukar dengan stempel, padahal kalau kami tidak menurut aturan panitia, setidaknya hasil lelah dan jerih payah kami selama berminggu-minggu latihan tidak terlalu sia-sia karena bisa membawa beberapa medali ke sekolah sebagai tanda mata dari kegiatan yang konsepnya hebat ini dan bukan dua lembar kertas berisi stempel yang sudah lusuh bin lecek ini. 

Anak-anak pulang dengan wajah gembira, dari atas Mobil pick up canda dan tawa mereka nyaring terdengar, tapi di hati saya juga mungkin di hati para ka mabigus dan para pembina terpahat sebongkah tanya “ada apa dengan panitia? “ 



 Pendirian Tenda dan Gapura dari Pionering 


 Berselca di depan Gapura kebanggaan 


 berfoto dengan hasta karya yang lombanya ditiadakan 


 berselca dengan pembina pendamping yang cantik2, heeee




 berselca di bawah banner ISC


 Inilah hasil karya kami




 Team Building Challenge sesi 1


 
 berselca dengan sang Pinru yang trampil dan cekatan