Selasa, 08 Mei 2012

Emak

apakah seorang suami harus selalu bersikap romantis pada istrinya?

jawabnya, mungkin tidak harus selalu, tapi sesekali perlu lah, demi menjaga kehangatan dan keharmonisan keluarga. 
itu adalah kalimat-kalimat yang sering kali saya baca di buku-buku pernikahan ataupun yang saya dengar di ceramah-ceramah agama tentang pernikahan. 

namun, dalam praktiknya,  saya benar2 tidak pernah menyaksikan apa yang sering saya lihat di TV dan sinetron-sinetron, ataupun yang sering saya baca di cerpen dan novel-novel pernah dilakukan oleh bapak pada emak, seperti  tentang suami yang mengecup kening istrinya sebelum berangkat kerja, tentang suami yang memberikan seikat mawar merah di hari ulang tahun istrinya, atau suami yang mengajak istrinya untuk candle light dinner di restoran sisi pantai dengan deburan ombak menyapu karang. 

apakah bapak bukan tipe laki-laki yang romantis? saya sering bertanya-tanya seperti itu dalam hati, jawabannya mungkin "ya" bapak bukan tipe laki-laki yang romantis, atau bisa juga, memang saya yang tidak pernah benar-benar tahu bahwa bapak sebenarnya adalah laki-laki yang romantis, entahlah! bisa jadi, bapak memang punya caranya sendiri untuk bersikap romantis pada emak, dan tentu saja hanya emak yang tahu tentang ha itu. 

yang jelas, bagi saya semua itu tidak terlalu penting lagi. apakah bapak memang tidak pernah bersikap romantis pada emak, ataupun sebaliknya, sering bersikap  romantis namun saya tidak tahu, yang terpenting adalah fakta bahwa kekuatan cinta mereka berdua yang begitu besar mampu mengalahkan segalanya, restu keluarga besar emak, kepahitan dan kesulitan hidup, juga tentu saja menaklukkan waktu hampir seperapat abad pernikahan mereka. 

saat saya mendengar, ada teman bapak yang sudah "berhasil" tidak hanya memiliki dua rumah tetapi sekali gus juga "dua ratu" yang mendiaminya, kemudian keluarga mereka mulai terdengar "sumbang", saya hanya bisa bersyukur, bahwa bapak tidak melakukan hal yang sama. 

apakah memang bapak tidak mampu? ataukah memang emak memang sangat layak untuk dicintai dan tidak layak dikhianati? rasanya, saya lebih suka menjawab pertanyaan yang kedua. 

emak, walaupun kulit wajahnya saat ini sudah tidak kencang lagi, walaupun rambutnya yang tipis saat ini sudah mulai beruban, memang sangat layak untuk dicintai dan sangat tidak layak untuk dikhianati. 

emak, dengan segala ketulusannya, kecerdasannya, kesabarannya, ketabahannya, mendampingi bapak dan membesarkan dan mendidik anak-anaknya, memang sangat layak untuk dicintai dan sangat tidak layak untuk dikhianati. 

sejujurnya, saya tidak pernah benar-benar merasa yakin, bahwa emak memang sangat layak untuk dicintai, sampai suatu pagi, saat matahari sedang mulai bertahta di waktu dhuha, sambil mengawasi siswa kelas 9 menekuri soal-soal ujian nasional, pak kepala sekolah tempat saya mengawas yang memang teman bapak, bercerita betapa ia mengagumi spirit dan tekad juang emak mendampingi bapak, saat bapak masih berjualan baju di kaki lima, ia sungguh-sungguh melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat pagi masih gelap dan matahari belum menampakan diri di ufuk timur, emak dengan semangat baja sudah mendorong gerobak yang berisi baju-baju yang akan di jual di kaki lima dari kontrakan mereka yang mungil ke pasar tempatnya setiap hari memanggang diri demi sesuap nasi. 

teman bapak itu kemudian berkata, ia sungguh-sungguh baru pertama kali itu dan bahkan tidak pernah lagi selama hidupnya, melihat seorang istri yang benar2 rela berkorban dan berjuang membantu suaminya seperti emak. ia kemudian membacakan sebuah doa, semoga jika memang suatu hari emak dipanggil olehNya, Ia memasukkan emak ke dalam surgaNya. 

saya pernah mendengar cerita itu berkali-kali dari bapak, namun, saat saya  mendengar cerita itu lagi dari mulut orang lain, entah kenapa saya jauh  lebih merasa  ditampar, ditendang, ditinju, dan akhirnya terkapar dalam sebuah ruang kesadaran, betapa durhakanya saya, seringkali menyepelekan emak, seringkali membantah emak, seringkali membuat emak menangis, seringkali membuat emak kesal dan marah.dan apakah cinta emak berkurang? tentu saja seincipun tidak. 

ah, 
emak 
memang sangat layak dicintai, 
bukan hanya oleh bapak, tapi juga oleh kami....

Kamis, 26 April 2012

DAN MONSTER ITU BERNAMA UN

"semua ini HARUS diakhiri!!!"
kataku mengumpat

"tidak mungkin, kita tidak mungkin bisa mengakhirinya!"
ujarmu.

"mengapa?"

"entahlah, aku sendiri tak tahu mengapa" 
jawabmu lesu

"lalu, di manakah nurani kita?"
 tanyaku dengan suara tertahan

"mungkin, ia sudah pergi" 
matamu menerawang jauh ke batas bukit itu.

"arghhhhh.... omong kosong dengan semua sistem ini, omong kosong dengan STANDARISASI!"
aku berteriak membuat takut burung - burung gereja yang tadi berkerumun di lapang itu. 

"tidak tahukah MEREKA? betapa bulshitnya STANDARISASI itu??? mencoba menyamaratakan HASIL dari PROSES yang berbeda-beda?" 

 "percuma saja kau berteriak disini! apakah MEREKA mendengarnya? kalaupun mereka kebetulan mendengarnya, apakah mereka akan mempedulikanmu? hei...bercerminlah! siapa dirimu?"
katamu.

"aku tak peduli, aku sungguh tak peduli, kawan" 
aku terduduk, bersimpuh di atas tanah yang merah.

"menurutku, bukan salah MEREKA juga, sobat!" 

"lalu? salah siapa??? 
aku mendelik demi mendengar ucapanmu.



"entahlah, namun bukankah dulu, saat bapak-bapak dan ibu-ibu kita sekolah, KETIDAKLULUSAN juga sudah pernah dan sering menimpa beberapa teman bahkan diri mereka? tapi apakah kemudian mereka mencari baigon ataupun seutas tali untuk mengakhiri segalanya? tidak bukan? TIDAK LULUS bukanlah akhir dari segalanya bagi mereka, walaupun tentu saja mereka juga bersedih hati dan menangis."

"kau betul, sobat, lalu mengapa adik-adik kita, anak-anak didik kita, bahkan kita sendiri saat ini merasa begitu takut jika TIDAK LULUS UJIAN NASIONAL?? lalu berbagai cara kita lakukan agar anak didik kita dapat mengalahkan MONSTER paling menakutkan yang bernama UN itu dengan mudah, tidak peduli apakah cara itu menodai nurani kita, tidak peduli apakah cara itu akan dan pasti menumbuhkan benih-benih ketidakjujuran yang siap dituai buahnya esok hari, kita tidak peduli, karena mungkin kita sendiri telah melupakan bahwa janji masa depan yang lebih baik itu tidak akan pernah datang dengan idealisme dan kejujuran, dan bahwa TUJUAN AKHIR dari proses TIGA tahun atau ENAM tahun yang singkat itu HANYALAH SELEMBAR KERTAS YANG MEWARTAKAN ANAK DIDIK KITA LULUS UJIAN NASIONAL, selebihnya? kita tidak peduli."

"dan tentu saja, itu semua dilakukan hanya karena kita tak ingin nama anak-anak didik atau sekolah tempat kita mengabdi, juga daerah tempat kita menghirup udara selama ini TIBA-TIBA TERPAMPANG JELAS dalam HEADLINE KORAN atau menjadi BERITA HANGAT DI PEMBERITAAN-PEMBERITAAN LOKAL MAUPUN SWASTA sebagai TOKOH UTAMA yang TIDAK LULUS UN" 
katamu menambahkan. 

"hanya sesederhana itu sebenarnya akar masalahnya, tapi kita membuatnya seolah-olah besok adalah hari kiamat" 
ujarmu lagi. aku menekuri tanah, diam tak berkata-kata lagi, namun aku mengiyakan sepenuhnya kata-katamu.

"lalu apa yang harus kita lakukan?" aku kembali bersuara.
"entahlah! kalau kita pindah ke MARS, kau setuju?" katamu sambil tersenyum.

aku tak menjawab, tidak pula mengangukan kepala. 
namun beberapa detik, akhirnya kita tertawa lepas bersama-sama....