Senin, 20 Juni 2011

the dreams of mine

Saya sering sekali membaca buku motivasi, novel tentang kekuatan mimpi, atau juga mendengar nasehat2 yang menginpirasi, bahkan novel 'sang pemimpinya' Andra Hirata dan '5 cm' nya Donny Dhirgantoro sudah lebih dari lima kali saya baca sejak saya membelinya. namun, entah kenapa kekuatan motivasi dan spirit yang terhisap kedalam diri saya setelah membaca novel2 itu, atau juga setelah saya mengikuti sebuah training motivasi, hanya bertahan paling lama 3 hari..., tidak lebih dari itu. dan setelah itu, saya akan kembali pada kebiasaan lama saya, selalu menunda2 pekerjaan, dan pemalas akut.
Tapi, ketika beberapa hari yang lalu, adik saya memberi tahu saya tentang sebuah video motivasi yang dibuat oleh seseorang yang menamakan dirinya 'sang Pembuat jejak', spirit yang telah lama hilang seakan pulang kembali dan entah kenapa sampai detik saya menulis catatan ini, spirit yang ditularkan 'si pembuat jejak' itu seakan2 mengejar2 saya, dan memaksa saya untuk berbuat hal yang sama dengan apa yang telah diperbuatnya "MENULISKAN 100 TARGET/MIMPI' dalam selembar kertas, dan menempelkannya di dinding kamar atau di tempat yang mudah kita lihat setiap waktu, agar target2 atau mimpi2 itu selalu tertanam dalam ingatan kita dan menjadi 'daily motivation' untuk kita menjalani hari2.
and so, here are the dreams of mine; (walaupun gak nyampe 100 spt SI PEMBUAT JEJAK dan sangat terlambat sekali untuk mrmulai)
  1.  punya tafsir al-quran 30 juz, supaya bisa lebih mendalami isi al-quran
  2.  menerbitkan buku/novel
  3. menjadi penulis yang menginspirasi
  4.  bisa maen gitar n nyiptain lagu islami untuk anak2
  5.  hafal al-quran 30 juz (minimal setengahnya)
  6. jadi guru yang menginspirasi
  7. menikah dengan laki2 yang sholeh, berakhlak mulia, baik agamanya, udah kerja alias tidak nganggur. he... 
  8. ngelanjuti study ke luar negeri pake beasiswa tentunya n lebih ok lagi bareng suami
  9. punya anak2 yang sholeh & sholehah, pinter2, berakhlak mulia, dan menjadi ulama/ilmuan
  10. mendirikan sekolah berbasis qur'an dan science dengan megedepankan akhlakul karimah
  11. mendirikan taman bacaan kayak rumah dunia
  12. punya usaha sendiri (entreupeneur)
  13. naik haji bareng my beloved husband n my parents
  14. meninggal husnul khotimah...
note: mungkin saya termasuk terlambat menuliskan mimpi2 saya, tapi saya percaya tidak ada kata terlambat untuk sebuah perubahan. dan saya yakin Allah yang Maha penyayang akan memeluk mimpi2 saya. 



Senin, 06 Juni 2011

SEBUAH PELAJARAN DARI PASAR MALAM

Dari kejauhan, lampu-lampu itu terlihat seperti kunang-kunang yang terbang bergerombol, berkedip-kedip menghiasi hampir seluruh lapangan bola yang berada tepat di depan masjid Baiturrahim kecamatan Sajira. Senja memang baru saja turun ke bumi, adzan magrib juga baru selesai dikumandangkan oleh sang muadzin dari speaker masjid. Tetapi, orang-orang yang berdatangan menuju pasar malam itu, jauh lebih banyak dari pada yang memasuki masjid untuk melaksakan sholat.  ironis memang, mengingat kampung Sajira ini hampir seluruh warganya beragama islam, tetapi itulah realita yang terjadi sekarang. Tapi, baiklah, kita berhusnudzon saja, mungkin orang-orang yang menuju pasar malam itu sudah lebih dahulu menunaikan shalatnya di rumah masing-masing.
Pasar malam ini memang baru saja dibuka, setelah tiga hari yang lalu para pekerjanya yang mayoritas berdarah jawa, sibuk memasang peralatan-peralatan, tiang-tiang penyangga, juga lampu-lampu sebabagai penerang sekaligus penghiasnya.
Pasar malam yang diadakan oleh Sido Makmur ini, mambuka lima wahana atau permainan, yaitu; komedi putar yang biasanya diminati oleh anak-anak berusia sekitar tiga sampai tujuh tahun, kincir angin atau yang bernama populer bianglala. Ombak banyu, kereta-kerataan, dan sirkus motor cross yang berjalan di atas seutas tali sambil mengelilingi papan yang membatasinya.
 Satu lembar tiket untuk setiap wahana tersebut berharga empar ribu rupiah per orang. Lumayan ekonomis dan terjangkau oleh kocek masyarakat sekitar.walaupun ada beberapa orang tua yang mengeluh karena semua anaknya yang meminta untuk naik semua permainan yang ada di pasar malam itu. Tapi tentunya hal itu tidak terlalu menjadi ganjalan demi menyenangkan anak-anak tercinta,dan melihat tawa bahagia mereka keeeetika menaiki wahana.
Beranjak dari antusiasme masyarakat sekitar menyambut pasar malam itu, tidak ada salahnya jika kita “menengok”para pekerja yang menjalankan wahana-wahana tersebut.
Malam itu adalah malam minggu, dan tentu saja yang lebih banyak datang ke sana adalah para muda-mudi yang masih belia. Wahana faforit para remaja itu adalah ombak banyu yang diputar oleh tiga pekerja lelaki yang juga masih muda dengan cara memutarkannya layaknya ombak.
Setelah semua tempat duduk terisi penuh, seorang laki-laki berperawakan sedang  berbadan tegap dan atletis, mulai memutarkan ombak banyu itu, dibantu dengan dua temannya yang terlihat lebih muda darinya. Musik rapp dinyalakan, putaran ombak banyu itu semakin cepat, meliuk-meliuk seperti ombak, para  penumpang perempuan  mulai menjerit histeris, takut bercampur senang ketika jantung   mereka seperti diajak naik turun. Sedangkan para penumpang laki-laki, bahkan tertawa-tawa riang tanpa sedikitpun berpegangan.
 Pemuda berdada bidang yang memakai kaos putih itu mulai memperlihatkan aksinya. Ia  tiba-tiba melompat memegang salah satu tiang yang menggantung bangku kayu itu, dan dengan posisi kepala di bawah, ia menaikkan kakinya ke atas sambil menggerak-gerakkannya mengikuti alunan musik rapp yang menghentak-hentak. Beberapa  penumpang  sontak menjerit kaget dan histeris karena ngeri melihatnya, tapi ia sendiri malah tersenyum-senyum senang dengan mulut yang bergerak-gerak menyanyikan lagu rapp itu.
Beberapa detik kemudian, ia turun dan berdiri di tengah-tengah, dengan kedua kakinya yang masih dihentak-hentakkan mengikuti musik. Ia kemudian menenggak botol aqua yang berisi air yang ada di sampingnya, dan mengelap keringat yang bercucuran di pelipisnya dengan tangan kanannya. Setelah itu ia meminta para muda-mudi yang naik ombak banyu itu untuk berteriak senang, melepaskan semua beban yang terpendam.

Malam semakin larut, pera pengnujungpun satu demi satu mulai meninggalkan pasar malam tersebut dan pulang ke rumahnya masing-masing. Dan pemuda itupun juga mulai terlihat kelelahan karena harus memutar ombak banyu dengan kedua tangganya. Tetapi matanya yang terus berbinar dan senyumnya  yang terus mengembang, mengisyaratkan bahwa ia tidak mengeluh sedikitpun, tetapi sebaliknya ia malah sangat mencintai pekerjaannya itu, walupun mungkin di mata sebagian besar orang, profesinya sebagai pemutar wahana ombak banyu, tidak memiliki prestise apa-apa, apalagi mengahasilkan uang yang banyak untuk menebalkan dompetnya.
Tetapi, ia tetap menghayati profesinya itu,dan bekerja dengan hati yang terbuka, menghibur setiap orang dengan aksi sirkusnya dan membuat mereka senang hingga tersenyum dan tertawa bahagia.
Sudahkah kita mencintai pekerjaan kita seperti halnya pemuda itu???